MAKALAH
Organisasi dan
Komponen – Komponen Kurikulum
Disusun untuk
Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah Dasar -
Dasar Pengembangan Kurikulum
Pada Jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI) Semester III
Tahun Akademik 2017/2018
Dosen Pengampu :
Dr. H. Nawawi,
M.Pd
Disusun oleh
Kelompok 7 :
1.
Indriana
Wahyu Dwijayanti (1608101003)
2.
Yopi
Muhamad Kahfi (1608101015)
3.
Tanti
Onaepit (1608101032)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI CIREBON
TAHUN 2017/2018
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas terstruktur mata kuliah dasar
– dasar pengembangan Kurikulum, shalawat serta salam semoga Allah senantiasa
melimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. kepada keluarganya, sahabatnya, serta
kepada kita selaku umatnya.
Makalah ini membahas tentang “Organisasi Kurikulum dan Komponen –
Komponen Kurikulum” ucapan
terima kasih orang tua yang telah mendoakan dan memberikan dukungan berupa
materi dan nonmateri. Dr. Nawawi, M.Pd sebagai dosen mata kuliah dasar – dasar pengembangan
kurikulum yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam pembuatan makalah
ini. Rekan-rekan mahasiswa, yang telah membantu dalam bentuk apapun.
Atas rahmat dan
karunia-Nya kami bisa menyelesaikan makalah ini dengan berusaha semaksimal
mungkin, akan tetapi kami menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, karena
itu kami menerima kritik dan saran yang membangun, agar kami bisa lebih baik lagi
dalam pembuatan makalah selanjutnya.
Cirebon, 31 Oktober 2017
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................................... ii
PENDAHULUAN....................................................................................................... 1
A. Latar Belakang.................................................................................................... 1
B. Rumusan
Masalah................................................................................................ 1
C. Tujuan................................................................................................................. 1
PEMBAHASAN.......................................................................................................... 2
A. Organisasi
Kurikulum ......................................................................................... 2
1) Pengertian........................................................................................................ 2
2) Kegunaan........................................................................................................ 2
B. Komponen
Kurikulum......................................................................................... 6
1) Tujuan
Kurikulum........................................................................................... 6
2) Bahan Ajar...................................................................................................... 8
3) Proses
Pembelajaran........................................................................................ 10
4) Evaluasi........................................................................................................... 12
C. Model
– Model Konsep Kurikulum..................................................................... 14
PENUTUP................................................................................................................... 23
Kesimpulan................................................................................................................. 23
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................. 25
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kurikulum merupakan
acuan pembelajaran dalam
pendidikan oleh karenanya pengembangan
kurikulum melibatkan pemikiran - pemikiran yang sangat kompleks,
Kurikulum menurut Undang – Undang Sistem
Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) no. 20 tahun 2003 pasal 1 poin 9 adalah
seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi, tujuan dan bahan pelajaran
serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum berisi
keharusan dan kemungkinan.
Bimbingan dan
arahan bukan hanya menjadi tugas
dan kewajiban guru
tetapi menjadi kewajiban sekolah
yang komponen-komponen lainnya bukan
hanya guru, tetapi
juga kepala sekolah, warga
masyarakat sekolah dan unsur lain yang terkait dengan pendidikan.
Sebuah
kurikulum pasti memuat tujuan yang ingin dicapai dalam suatu sistem pendidikan,
untuk itu tujuan dalam kurikulum memegang peranan yang sangat penting, karena
tujuan mengarahkan semua kegiatan pengajaran dan mewarnai organisasi kurikulum
serta komponen – kompenen kurikulum lainnya.
B. Rumusan Masalah
1)
Apa
saja organisasi kurikulum?
2)
Apa
saja komponen – komponen kurikulum?
3)
Bagaimana
model – model konsep kurikulum?
C.
Tujuan
1)
Untuk
mengetahui apa organisasi kurikulum
2)
Untuk
mengetahui komponen – komponen kurikulum
3)
Untuk
mengetahui bagaimana model – model konsep kurikulum
PEMBAHASAN
A. ORGANISASI
KURIKULUM
1)
Pengertian
Organiasai kurikulum adalah struktur program kurikulum yang berupa
kerangka umum program – program pengajaran yang disampaikan kepada peserta
didik guna tercapaianya tujuan pendidikan atau pembelajaran yang diterapkan.
Organiasasi kurikulum ini merupakan struktur program kurikulum yang berupa
kerangka umum program-program pengajaran yang akan disampaikan kepada peserta
didik.[1]
Pengertian kurikulum adalah seperangkat
susunan rencana kegiatan pendidikan mengenai tujuan, pokok,isi, bahan, metode
dan strategi pembelajaran sebagai acuan penyelenggaraan kegiatan proses
pembelajaran.[2]
2) Kegunaan
Kurikulum berfungsi sebagai rencana untuk keperluan pelajaran peserta didik,
maka bahan pelajaran harus dituangkan dalam organisasi kurikulum tertentu agar
tujuan pendidikan dapat tercapai. Organisasi kurikulum dimaksudkan untuk
memudahkan peerta didik dalam proses pembelajaran. Organisasi atau desain
kurikulum bertalian erat dengan tujuan pendidikan yang akan dicapai.
Bentuk organisasi kurikulum
memiliki karakteristik
tersendiri, dan nampaknya
mengalami proses pengembangan
secara berurutan sejalan dengan berbagai inovasi dalam
kurikulum. Beberapa bentuk
organisasi kurikulum
tersebut di antaranya
adalah; kurikulum mata
pelajaran, kurikulum dengan
mata pelajaran berkorelasi, kurikulum
bidang studi, kurikulum
terintegrasi, dan kurikulum inti.[3]
1.
Kurikulum
Mata Pelajaran
Kurikulum mata pelajaran
(isolated subjects atau subject-matter curriculum) dikategorikan sebagai
bentuk kurikulum yang
masih tradisional. Kurikulum
ini sejak lama diterapkan
pada sekolah-sekolah di
Indonesia, sampai dengan
munculnya kurikulum tahun 1968 dan kurikulum tahun 1975.
2.
Kurikulum
dengan Mata Pelajaran Berkorelasi
Kurikulum ini bertujuan
untuk mengurangi kelemahan
dengan adanya keterpisahan antara
berbagai mata pelajaran,
sehingga diusahakanlah agar
mata pelajaran tersebut disusun
dalam pola korelasi
sehingga mudah dipahami
oleh subjek didik. Inilah
yang dinamakan dengan
kurikulum dengan mata
pelajaran berkorelasi.
Bentuk korelasi ini
terdiri atas dua
pola yaitu korelasi
informal dan korelasi
formal. Pola korelasi informal,
seorang pengajar mata
pelajaran meminta agar
guru mata pelajaran lainnya
mengorelasikan pelajaran yang akan diberikannya dengan bahan yang telah diberikan
oleh guru pertama.
Sedangkan model korelasi
formal yaitu beberapa guru bersama-sama merencanakan untuk
mengorelasikan mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing.
3.
Kurikulum
Bidang Studi
Sebagian ahli berpendapat
bahwa kurikulum bidang
studi (broadfield curriculum) ini
termasuk dalam jenis
kurikulum berkorelasi. Pandangan
ini ada benarnya, karena
bidang studi (broadfield) sudah
merupakan perpaduan atau
fungsi sejumlah mata pelajaran sejenis yang memiliki ciri-ciri yang
sama.
4.
Kurikulum
Terintegrasi
Kurikulum terintegrasi atau terpadu (integrated curriculum) tidak
mempunyai batas-batas di antara semua
mata pelajaran, karena
semua mata pelajaran sudah dirumuskan dalam
bentuk masalah atau
unit, sehingga semua
mata pelajaran sudah terpadu (terintegrasi) sebagai satu kesatuan yang
bulat.
5.
Kurikulum
Inti
Penjelasan tentang pengertian
kurikulum inti sangatlah
beragam namun dalam penjelasan ini
hanya mengambil satu
pendapat saja mengingat
lebih komprehensif.
Menurut
Romine bahwa kurikulum inti (core curriculum) yaitu:“The core
curriculum, core program, or core course may be defined as the part of total
curriculum objectives, which
is schedule for
proportionally longer blocks
of time”.
Rumusan yang dibuat
oleh Romine ini
kira-kira mengandung sejumlah hal yang menjadi perhatian penting,
yaitu:
ü Kurikulum merupakan bagian
dari keseluruhan kurikulum
yang diperuntukkan terhadap
subjek didik.
ü Kurikulum inti bermaksud untuk mencapai tujuan pendidikan umum.
ü Kurikulum inti disusun dari garis-garis pelajaran namun tidak
secara ketat.
ü Kurikulum inti disusun untuk jangka panjang[4]
Adanya berbagai
pandangan yang mendasari pengembangan kurikulum memunculkan terjadinya
keragaman dalam mengorgaisasikan kurikulum, sekurang – kurangnya terdapat enam
ragam pengorganisasian kurikulum :
1. Mata Pelajaran Terpisah (separated subject) ; kurikulum
terdiri dari sejumlah mata pelajaran yang terpisah – pisah, yang diajarkan
sendiri – sendiri tanpa ada hubungan dengan mata pelajaran lainnya. Masing –
masing diberikan pada waktu tertentu dan tidak mempertimbangkan minat,
kebutuhan dan kemampuan peserta didik, semua materi diberikan sama.
2. Mata Pelajaran Berkolerasi; korelasi diadakan sebagai upaya
untuk mengurangi kelemahan – kelemahan sebagai akibat pemisahan mata pelajaran.
Prosedur yang ditempuh adalah menyampaikan pokok-pokok materi pelajaran yang
saling berhubungan untuk memudahkan peserta didik memahami pelajaran tertentu.
3. Bidang Studi (broad field) ; yaitu organisasi kurikulum
yang berupa peleburuan beberapa mata pelajaran yang sejenis dan memiliki ciri –ciri
yang sama serta difungsikan dalam satu bidang pengajaran atau bidang studi.
Salah satu mata pelajaran yang dijadikan “core subject” dan mata
pelajaran lainnya berkorelasi dengan core tersebut.[5]
4. Program yang berpusat pada anak (child centered) ; program
kurikulum yang menitikberatkan pada kegiatan – kegiatan peserta didik, bukan
pada mata pelajaran.
5. Inti Masalah (core program) ; suatu program yang berupa
unit – unit masalah, masalah – masalah diambil dari suatu mata pelajaran
tertentu dan mata pelajaran lainnya diberikan melalui kegiatan – kegiatan
belajar dalam upaya memecahkan masalahnya. Mata pelajaran – mata pelajaran yang
menjadi pisau analisinya diberikam secara terintegrasi.
6. Eclectic Program ; suatu program yang mencari
keseimbangan antara organisasi kurikulum yang terpusat pada mata pelajaran dan
peserta didik.
Berkaitan dengan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tampaknya lebih cenderung menggunakan pengorganisasian yang bersifat
eklektik, yang terbagi kedalam lima kelompok mata pelajaran ; 1. Kelompok mata
pelajaran agama dan akhlak mulia; 2. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan
dan kepribadian ; 3. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi ;
4. Kelompok mata pelajaran estetika dan 5. Kelompok mata pelajaran jasmani,
olah raga dan kesehatan.
Kelompok - kelompok mata
pelajaran tersebut selanjutnya dijabarkan lagi kedalam sejumlah mata pelajaran
tertentu yag disesuaikan dengan jenjang dan jenis sekolah dan madrasah. Di
simping itu, untuk memenuhi kebutuhan lokal disediakan mata pelajaran muatan
lokal serta untuk kepentingan penyaluran bakat dan minat peserta didik
disediakan kegiatan pengembangan diri.[6]
B. KOMPONEN KURIKULUM
1) Tujuan Kurikulum
Tujuan kurikulum memegang
peranan penting karena tujuan akan mengarahkan semua kegiatan pembelajaran dan
memberi warna setiap komponen kurikulum lainnya. Tujuan kurikulum dirumuskan
berdasarkan dua hal yaitu ; 1. Perkembangan tuntutan, kebutuhan dari kondisi
masyarakat, 2. Didasari oleh pemikiran – pemikiran dan terarah pada pencapaian
nilai – nilai filosofis, terutama falsafah negara, tujuan pendidikan terbagi
dalam beberapa kategori yaitu tujuan pendidikan umum dan khusus, tujuan jangka
panjang menengah dan jangka pendek.
Komponen tujuan
berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan. Rumusan tujuan kurikulum dalam
skala besar erat kaitannya dengan filsafat atau sistem nilai yang dianut suatu
bangsa. Bahkan, rumusan tujuan menggambarkan suatu masyarakat yang dicita –
citakan.
Kurikulum
pendidikan dasar dan menengah 1975/1976 tujuan pendidikannya memiliki
klasifikasi, dari mulai tujuan yang sangat umum sampai tujuan khusus yang
bersifat spesifik dan dapat diukur, yang kemudian dinamakan kompetensi. Tujuan
pendidikan diklasifikasikan menjadi empat yaitu :
1. Tujuan Pendidikan Nasional (TPN)
Tujuan yang
bersifat paling umum dan merupakan sasaran yang harus dijadikan pedoman oleh
setiap usaha pendidikan.
2. Tujuan Intitusional (TI)
Tujuan yang
harus dicapai oleh setiap lembaga pendidikan. Tujuan intitusional merupakan
tujuan antara untuk mencapai tujuan umum yang diwujudkan dalam bentuk
kompetensi lulusan setiap jenjang pendidikan.
3. Tujuan Kurikuler (TK)
Tujuan yang
harus dicapai oleh setiap bidang studi atau mata pelajaran. Tujuan kurikuler
juda pada dasarnya merupakan tujuan untuk mencapai tujuan lembaga pendidikan
4. Tujuan Intruksional atau Tujuan Pembelajaran (TP)
Merupakan
bagian dari tujuan kurikuler, dapat didefinisikan sebagai kemampuan - kemampuan
yang harus dimiliki oleh peserta didik setelah mereka mempelajari materi
pelajaran tertentu dalam satu kali pertemuan.[7]
Kurikulum
tingkat satuan pendidikan (KTSP) tersebut sebagai penyempurnaan dari Kurikulum
Berbasis Kompetensi (KBK) kategori tujuan terdiri dari 1. Tujuan Pendidikan
Nasional 2. Tujuan Pendidikan Satuan Pendidikan 3. Standar Kompetensi 4.
Kompetensi Dasar 5. Indikator.
Standar
kompetensi adalah ukuran kemampuan minimal yang mencakup kemampuan,
pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan
berpikir dan bertindak untuk jenjang kelas dan semester tertentu. Kompetensi
dasar adalah kemampuan – kemmapuan pokok yang membentuk kompetensi atau
tercakup dalam kompetansi yang distandarkan atau ukuran kemampuan minimal.
Indikator adalah penanda minimal penguasaan kompetensi atau kompetensi dasar
yang lebih spesifik yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai ketercapaian
hasil belajar.
Kompetensi
dasar dan indikator lebih diutamakan dalam pembelajaran di kelas karena lebih
jelas, mudah dan terukur pencapaiannya. Dalam merencanakan pembelajaran guru
menjabarkan standar kompetensi, kompetensi dasar kedalam indikator yang
bersifat oprasional (teramati dan terukur).
Tujuan
pembelajaran dibedakan atas beberapa kategori, sesuai dengan perilaku yang menjadi
sasarannya. Gagne (1975) mengemukakan lima kategori tujuan atau hasil belajar
berupa kapabilitas yaitu : 1. Informasi Verbal 2. Keterampilan Intelektual 3.
Strategi Kognitif 4.Strategi Afektif 5. Keterampilan gerak.
2) Bahan Ajar
Bahan Ajar adalah komponen yang didesain untuk mencapai komponen
tujuan, yang dimaksud dengan bahan ajar adalah bahan-bahan kajian yang terdiri
dari ilmu pengetahuan, nilai, pengalaman dan keterampilan yang dikembangkan ke
dalam proses pembelajaran guna mencapai komponen tujuan.
Siswa belajar dalam bentuk interaksi dengan lingkungannya, lingkungan
orang-orang, alat-alat, dan ide-ide. Tugas utama seorang guru adalah
menciptakan lingkungan tersebut, untuk mendorong siswa melakukan interaksi yang
produktif dan memberikan dirancang dalam suatu rencana mengajar. Bahan ajar
disusun secara logis dan sistematis, dalam bentuk:
ü Teori
Seperangkat konstruksi atau konsep, definisi atau preposisi yang
saling berhubungan, yang menyajikan pendapat sistematik tentang gejala dengan
menspesifikasi hubungan-hubungan antara variabel-variabel dengan maksud
menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut.
ü Konsep
Suatu abstraksi yang dibentuk oleh organisasi dari
kekhususan-kekhususan, merupakan definisi singkat dari sekelompok fakta atau
gejala.
ü Generalisasi
Kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus, bersumber dari
analisis, pendapat atau pembuktian dalam penelitian.
ü Prinsip
Ide utama, pola skema yang ada dalam materi yang mengembangkan
hubungan antara beberapa konsep.
ü Prosedur
Seri langkah-langkah yang berurutan
dalam materi pelajaran yang harus dilakukan peserta didik.
ü Fakta
Sejumlah informasi khusus dalam materi yang dianggap penting,
terdiri dari terminologi, orang dan tempat serta kejadian.
ü Istilah
Kata-kata perbendaharaan yang baru dan khusus yang diperkenalkan
dalam materi.
ü Contoh/ilustrasi
Hal atau tindakan atau proses yang bertujuan untuk memperjelas
suatu uraian atau pendapat.
ü Definisi
Penjelasan tentang makna atau pengertian tentang suatu hal/kata
dalam garis besarnya.
ü Preposisi
Cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam upaya
mencapai tujuan kurikulum.
Bahan Ajar / isi program kurikulum adalah segala sesuatu yang diberikan
kepada anak didik dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan.
Bahan ajar meliputi jenis-jenis bidang studi yang diajarkan dan isi program
masing-masing bidang studi tersebut. Bidang-bidang studi tersebut disesuaikan
dengan jenis, jenjang maupun jalur pendidikan yang ada. Kriteria yang dapat
membantu pada perancangan kurikulum dalam menentukan isi kurikulum. Kriteria
itu antara lain:
a. Isi kurikulum harus sesuai, tepat dan
bermakna bagi perkembangan siswa.
b. Isi kurikulum harus mencerminkan
kenyataan sosial.
c. Isi kurikulum harus mengandung
pengetahuan ilmiah yang tahan uji
d. Isi kurikulum mengandung bahan pelajaran
yang jelas
e. Isi kurikulum dapat menunjang
tercapainya tujuan pendidikan.[8]
3) Proses Pembelajaran dan Strategi Pelaksanaan Kurikulum
Proses
pembelajaran dan strategi merupakan komponen selanjutnya dalam pengembangan
kurikulum. Komponen ini merupakan komponen yang memiliki peran yang sangat
penting, sebab berhubungan dengan implementasi kurikulum. Menurut JR. David,
strategi diartikan sebagai a plan, method, or series of activities designed
to achives a particular educational goal, dengan demikian strategi
pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangaian
kegiatan yang didesai untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Ada 2 hal yang
patut dicerati dari pengertian diatas. Pertama, stertegi pembelajaran adalah
rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode da emanfaatan
bagi sumberdaya/ kekuatan dalam pembelajaran. Ini berarti penyusunan suatu
strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada
tindakan. Kedua, strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya, arah
dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan. Denan demikian, penyusunan
langkah-langkah pembelajaran,
pemanfaatan berbagai fasilitas dan sumber belajar semuanya diarahkan dalam
upaya pencapaian tujuan, oleh sebab itu sebelum menentukan strategi, perlu
dirumuskan tujuan yang jelas dan dapat diukur keberhailannya, sebab tujuan
adalah rohnya dalam implementasi suatu strategi.
Kemp (1995)
menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang
harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Strategi pembelajaran menurut T. Rakjoni (1979) sebagai pola dan urutan umum
perbuatan guru-siswa dalam mewujudkan kegiatan belajar dan pembelajara untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Dari beberapa
pengertian diatas ada dua hal yang perlu dicermati, yakni:
1.
Strategi
pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian tindakan) termasuk
penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam
pembelajaran.
2.
Strategi
disusun untuk mencapai tujuan tertentu.
Metode adalah upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah
disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal.
Metode juga digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan.
Dalam satu strategi pembelajaran digunakan beberapa metode. Strategi berbeda
dengan metode. Strategi menunju pada a plannof operation achieving
something,sedangan metode adalah a way in achieving something .
Istilah lain yang sering dipertukarkan adalah pendekatan (approach)
pengertian pendekatan berbeda denan strategi maupun metode. Pendekatan
diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandan terhadap proses pembelajaran.
Roy Killer (1998) mengemukakan ada dua pendekatan dalam
pembelajaran yakni pendekatan yang berpusat pada guru (teacher centered
approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student centered
approach), sedangkan Rowntree (1974), membagi strategi pembelajaran terdiri
atas:
1.
Strategi
expository dan strategi discovery learning
2.
Strategi
groups dan individual learning
Strategi pembelajaran expository adalah strategi
pembelajaran yang menekankan pada proses penyampaian materi secara verbal dari
seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai
materi pembelajaran secara optimal. Misalnya, ceramah diselingi Tanya jawab.
Strategi pembelajaran discovery adalah strategi pembelajaran
yang mengatur pembelajaran sedemikian rupa sehingga siswa memperoleh
pengetahuan yang sebelumnya tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau
seluruhnya ditemukan sendiri. Strategi pembelaaran discovery berangkat
dari suatu pandangan bawa suswa sebagai subjek disamping sebagai objek
pembelajaran. Mereka memiliki kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal
sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Strategi pembelajarana diartikan
pula sebagai proses mental dimana mereka mengasimilasi suatu konsep atau
prinsip. Proses mental tersebut seperti mengamati,menggolongkan, membuat
dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat simpulan, dalam strategi pembelajaran
ini siswa dibiarkan menemukan sendiri, sedangkan guru hanya membimbing dan
memberi instruksi.
Strategi belajar individual dilakukan oleh siswa secara mandiri,
bahan pelajaran serta bagaimana mempelajarinya didesain untuk belajar sendiri.
Contoh, pembelajaran individual adalah belajar melalui modul, belajar bahasa
melalui kaset atau audio dan lainnya. Berbeda dengan strategi pelajaran
individual, pembelajaran kelompok dilakukan beregu.
Adapun strategi pelaksanaan kurikulum berhubungan dengan bagaimana
kurikulum itu dilaksanakan di sekolah dan di madrasah. Kurikulum merupakan
rencana, ide, harapan yang harus diwujudkn secaranyata di sekolah dan di
madrasah, sehingga mampu mengantarkan peserta didik mencapai tujuan pendidikan.
Kurikulum yang baik akan mencapai hasil yang optimal, jika pelaksanaannya
menghasilkan sesuatu yang baik bagi peserta didik. Komponen strategi
pelaksanaan kurikulum meliputi pedoman, pembelajaran, penilaian, bimbingan dan
konseling, pengaturan dan pengelolaan kegiatan sekolah.[9]
4) Evaluasi Kurikulum
Evaluasi merupakan komponen untuk melihat efektivitas pencapaian
tujuan. Dalam konteks kurikulum, evaluasi dapat berfungsi untuk mengetahui
apakah tujuan yang ditetapkan telah tercapai atau belum dan digunakan sebagai
uman balik dalam perbaikan strategi yang ditetapkan, dengan evaluasi dapat
diperoleh informasi yang akurat tentang pelaksanaan pembelajaran, keberhasilan
siswa, guru, dan proses pembelajaran. Tiap kegiatan akan memberikan umpan
balik, demikian juga dalam pencaaian tujuan belajar dan proses pelaksanaan
pembelajaran. Umpan balik tersebut digunakan untuk mengadakan berbagai usaha
penyempurnaan bagi penentuan dan perumusan tujuan pembelajaran, penentuan
urutan (sekuens) bahan ajar, strategi, metode dan media pembelajaran.
1.
Evaluasi
Hasil Pembelajaran
Untuk menilai
keberhasilan penguasaan siswa atau tujuan-tjuan khusus yang telah ditentukan
ditentukan diadakan suatu evaluasi. Evaluasi ini disebut juga hasil
pembelajaran. Evaluasi ini di dalamnya disusun soal untuk mengukur pencapaian
setiap tujuan yang khusus atau indikator yang telah ditentukan.
2.
Evaluasi
Pelaksanaan Pembelajaran
Komponen yang dievaluasi dalam pembelajaran bukan hanya hasil
belajar tetapi keseluruhan pelaksanaan pembelajaran yang meliputi evaluasi
komponen tujuan pembelajaran, materi pelajaran, strategi atau metode
pembelajaran serta komponen evaluasi pembelajaran itu sendiri. Stufflebeam dkk.
(1967) menggunakan model CIPP model evaluasi ini paling banyak diikuti oleh
para evaluator, karena model evaluasi ini lebih komprehensif jika dibandingkan
dengan model evaluasi lainnya.
Model CIPP berorientasi pada suatu keputusan (a dicision
oriented evaluation approach structured). Tujuannya adalah untuk membantu
administrator (kepala sekolah dan guru) dalam membuat keputusan. Komponen model
CIPP antara lain:
a.
Evaluasi
konteks
Tujuan evaluasi konteks yang utama adalah untuk mengetahui
kelebihan dan kelemahan yang dimiliki evaluan. Dengan mengetahui kelebihan ini,
evaluator akan dapat memberikan arah perbaikan yang diperlukan.
b.
Evaluasi
masukan
Tahap kedua dari model CIPP adalah evaluasi input, atau evaluasi masukan. Evaluasi masukan
membantu mengatur keputusan, menentukan sumber yang ada, alternative apa yang
diambil, rencana dan strategi apa yang diambil untuk mencapai tujuan, dan bagaimana
rosedur kerja untuk mencapainya. Komponen evaluasi masukan meliputi:
1.
Sumber
daya manusia
2.
Sarana
dan peralatan pendukung
3.
Anggaran
4.
Berbagai
prosedur dan aturan yang diperlukan.
c.
Evaluasi
proses
Evaluasi proses digunakan untuk mendeteksi rancangan prosedur atau
rancangan implementasi selama tahap imlementasi, menyediakan informasi untuk
keputusan program dan sebagai rekaman atau arsip prosedur yang tela
terjadi.evaluasi proses meliputi koleksi data penilaian yang telah ditentukan
dan diterapkan dalam praktik pelaksanaan program. Pada dasarnya evaluasi proses
untuk mengetahui sampai seberapa jauh rencana telah diterapkan dan komponen apa
yang perlu diperbaiki.
d.
Evaluasi
hasil (product evaluation)
Dari evaluasi proses diharapkan dapat membantu pemimpin proyek atau
guru untuk membuat keputusan yang berkenaan dengan kelanjuta, akhir, modifikasi
program. Farida Yusuf (2000) menjelaskan, bahwa evaluasi produk untuk membantu
membuat keputusan selanjutnya, baik mengenai hasil yang telah dicaat maupun
yang dilakukan setelah program itu berjalan.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa evaluasi produk
merupakan penilaian yang dilakukan guna untuk melihat ketercapaian atau
keberhasilan suatu program dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan
sebelumnya. Pada tahap inilah seorang evaluator dapat menentukan atau
memberikan rekomendasi kepada yang dievaluasi, apakh suatu program dapat
dilanjutkan, dikemangkan, dimodifikasi, atau bahkan dihentikan.
C. MODEL DAN KONSEP KURIKULUM
Model
adalah konstruksi yang bersifat teoritis dari konsep. Model konsep kurikulum merupakan
dasar untuk pengembangan kurikulum atau dengan kata lain, pendekatan
pengembangan kurikulum didasarkan atas konsep-konsep kurikulum yang ada.
1) Model Kurikulum
Kegiatan
pengembangan kurikulum di tingkat satuan pendidikan (sekolah atau madrasah)
memerlukan suatu model yang dijadikan landasan teoritis untuk melaksanakan
kegiatan tersebu. Model atau konstruksi mrupakan ulasan teoritis tentang suatu
konsepsi dasar.
Terdapat beberapa model pengembangan kurikulum yang
telah dikembangkan oleh para ahli.[10]
1) Model Kurikulum Zais
Berikut ini beberapa model pengembangan kurikulum
sebagaimana dikemukakan oleh Zais antara lain :
a. Model Administratif
Model administratif
ini sering pula disebut sebagai model “garis dan staff” atau dikatakan pula
sebagai model dari atas ke bawah yang sifatnya top down. Kegiatan
pengembangan kurikulum dimulai dari pejabat pendidikan yang berwenang yang
membentuk panitia pengarah yang terdiri dari para pengawas pendidikan,kepala sekolah
dan madrasah serta staf pengajar inti, panitia pengarah tersebut diberikan
tugas untuk merencanakan, memberikan pengarahan,tentang garis besar
kebijaksanaan, menyiapkan rumus filsafat dan tujuan umum pendidikan.
Pengembangan kurikulum
model administratif menekankan kegiatannya pada orang-orang yang terlibat
sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing, berhubung pengarahan kegiatan
berasal dari atas ke bawah, pada dasarnya model ini mudah dilaksanakan pada
negara yang menganut sistem sentralistik dan negara yang kemampuan profesional
tenaga pengajarnya msih rendah. Kelemahan model ini terletak pada kurang
pekanya terhadap adanya perubahan masyarakat, selain itu kurikulum ini biasanya
bersifat seragam secara nasional sehingga kadang-kadang melupakan adanya
kebutuhan dan kekhususan yang ada pada setiap daerah. Model pengembangan ini
dikembangkan di Indonesia bertahun-tahun sejak kurikulum 1968 sampai dengan
kurikulum 2004.
b. Model Akar Rumput (Grassroots Approach)
Model
ini biasanya diawali dari keresahan guru tentang kurikulum yang berlaku. Mereka
memiliki kebutuhan dan keinginan untuk memperbaharui atau
menyempurnakannya.Tugas administrator dalam pengembangan model ini, tidak lagi
berperan sebagai pengendali pengembangan kurikulum, tetapi sebagai motivator
dan fasilitator. Perubahan dan penyempurnaan kurikulum dapat dimulai oleh guru
secara individual atau dapat juga oleh kelompok guru, misalnya kelompok guru
mata pelajaran dari beberapa sekolah atau madrasah seperti melalui wadah
musyawarah guru mata pelajaran (MGMP).
Pengembangan
model ini, hanya mungkin dapat dilakukan apabila guru di sekolah dan madrasah
memiliki kemampuan dan sikap profesional yang tinggi yang memahami konsep dan
teori pendidikan dan pembelajaran. Model pengembangan kurikulum ini dianut oleh
pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) meskipun tidak secara
penuh. Standar isi yang mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi lulusan
setiap mata pelajaran pada setiap semester, setiap jenis dan jenjang pendidikan
masih ditetapkan secara terpusat melalui keputusan mentri pendidikan nasional.[11]
2). Model Pengembangan Kurikulum Ralph W. Tyler
Model
Tyler menekankan pada bagaimana merancang sesuatu kurikulum disesuaikan dengan
tujuan dan misi suatu institusi pendidikan. Menurut Tyler ada empat yang
dianggap mendasar untuk mengembangkan suatu kurikulum. Pertama berhubungan
dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai, kedua berhubungan dengan
pengalaman belajar untuk mencapai tujuan, ketga berhubungan dengan
pengorganisasian pengalaman belajar, dan yang keempatberhubungan dengan
pengembangan evaluasi. Dalam pengembangan kurikulum, kegiatan merumuskan tujuan
merupakan langkah pertama dan utama yang harus dikerjakan, sebab tujuan
merupakan arah atau sasaran pendidikan. Merumuskan tujuan kurikulum sangat
tergantung dari filsafat dan teori pendidikan serta model kuriulum yang dianut,
bagi pengembang kurikulum yang lebih berorientasi pada disiplin ilmu maka
pengeuasaan berbagai konsep dan teori sebagaimana tergambar dalam disiplin ilmu
tersebut merupakan sumber utama tujuan kurikulum.[12]
3). Model Pengebangan Kurikulum Beauchamp
Beuchamp
mengemukakan lima hal dalam proses pengembangan suatu kurikulum diataranya :
a. Menetapkan wilayah atau area yang akan melakukan
perubahan suatu kurikulum.Wilayah itu bisa terjadi hanya pada satu
sekolah/madrasah, satu kecamatan, kabupaten, kota atau mungkin tingkat provinsi
atau tingkat nasional. Penetapan arena ini ditentukan oleh wewenang yang
dimiliki oleh pengambil kebijakan dalam pengembangan kurikulum.
b. Menetapkan personalia, yaitu pihak-pihak yang akan
terlibat dalam proses pengembangan kurikulum. Pihak-pihak yang harus dilibatkan
dalam proses pengembangan kurikulum itu
terdiri dari para ahli/spesialis kurikulum, para ahli pendidikan termasuk
didalamnya para guru yang dianggap berpengalaman, para profesional dan tenaga
lain dalam bidang pendidikan seperti pustakawan, laboran dan konsultan
pendidikan.
c. Menetapkan organisasi dan prosedur yang akan
ditempuh yaitu dalam hal merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus, memilih isi
dan pengalaman belajar serta menentukan evaluasi.
d. Implementasi kurikulum, pada tahap ini perlu
dipersiapkan secara matang berbagai hal yang dapat berpengaruh baik langsung
maupun tidak langsung terhadap efektivitas penggunaan kurikulum seperti
pemahaman guru tentang kurikulum, sarana atau fasilitas yang tersedia dan
manajemen sekolah.
e. Melaksanakan evaluasi kurikulum yang menyangkut :
(1) evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru di sekolah. (2)
evaluasi terhadap desain kuriukulum (3) evaluasi keberhasilan belajar siswa (4)
evaluasi dari keseluruhan sistem kurikulum.[13]
4). Model
Pengembangan Kurikulum Olivia
Menurut
Olivia suau model kurikulum harus bersifat sederhana, komprehensif dan
sistematik. Langkah yang dikembangkan dalam kurikulum model ini terdiri atas 12
komponen yang satu sama lain saling berkaitan.
a. Menetapkan dasar filsafat yang digunakan dan pandangan
tentang hakikat belajar dengan mempertimbangkan hasil analisis kebutuhan umum
siswa dan kebutuhan masyarakat.
b. Menganalisis kebutuhan masyarakat dimana sekolah
itu berada, kebtuhan khusus siswa dan urgensi dari disiplin ilmu yang harus
diajarkan.
c. Merumuskan tujuan umum kurikulum yang didasarkan
pada kebutuhan seperti tercantum pada langkah-langkah sebelumnya.
d. Merumuskan tujuan khusus kurikulum yang merupakan
penjabaran dari tujuan umum kurikulum.
e. Mengorganisasikan rancangan implementasi kurikulum.
f. Menjabarkan kurikulum dalam bentuk perumusan tujuan
umum pembelajaran.
g. Merumuskan tujuan khusus pembelajaran.
h. Menetapkan dan menyeleksi strategi pembelajaran
yang dimungkinkan dapat mencapai tujuan pembelajaran.
i. Menyeleksi dan menyempurnakan tehnik penilaian yang
akan digunakan.
j. Mengimplementasikan strategi pembelajaran
k. Mengevaluasi pembelajaran
l. Mengevaluasi kurikulum.
Menurut Olivia
(1988) model pengembangan kurikulum dapat digunakan dalam tiga dimensi, yaitu :
a. Bisa digunakan untuk penyempurnaan kurikulum
sekolah dalam bidang-bidang khusus seperti mata pelajaran tertentu di sekolah
atau madrasah, baik dalam tataran perencanaan kurikulum maupun dalam proses
pembelajarannya.
b. Dapat digunakan untuk membuat keputusan dalam
merancang suatu program kurikulum.
c. Dapat digunakan dalam mengembangkan program
pembeklajaran secara lebih khusus[14]
2) Konsep Kurikulum
A) Kurikulum Subjek
Akademis (Subject Oriented Curriculum)
Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan. Belajar adalah berusaha
menguasai ilmu sebanyak-banyaknya. Kurikulum sangat mengutamakan pengetahuan
maka pendidikannya sangat bersifat intelektual, nama-nama mata pelajaran yang
menjadi isi kurikulum hampir sama dengan nama disiplin ilmu, seperti bahasa dan
sastra, geografi, matematika, ilmu kealaman, sejarah.[15]
Sekurang-kurangnya ada
tiga pendekatan dalam perkembangan kurikulum subjek akademis yaitu:
a. Melanjutkan pendekatkan
struktur pengetahuan.
b. Studi yang bersifat
integratif.
c. Pendekatan yang dilaksanakan pada sekolah-sekolah fundamentalis.
a. Ciri-ciri kurikulum subjek
akademis
Kurikulum subjek akademis mempunyai beberapa ciri-ciri berkenaan dengan
tujuan, metode, organisasi isi dan evaluasi. Tujuan kurikulum subjek akademis
adalah pemberian pengetahuan yang solid serta melatih para siswa menggunakan
ide-ide dan proses penelitian. Metode yang banyak digunakan dalam kurikulum
subjek akademis adalah metode ekspositori dan inquiry. Sedangkan pola
organisasi isi (materi pelajaran) kurikulum subjek akademis antara lain:
1. Correlated curriculum
2.
Unified atau concentrated curriculum
3. Integrated curriculum
4.
Problem solving curriculum.
Tentang kegiatan
evaluasi kurikulum subject akademis menggunakan bentuk evaluasi yang bervariasi
disesuaikan dengan tujuan dan sifat mata pelajaran.
b.
Pemilihan disiplin ilmu
Masalah besar yang
dihadapi oleh para pengembang kurikulum subjek akademis adalah bagaimana
memilih mata pelajaran dari sekian banyak disiplin ilmu yang ada. Ada bebrapa
saran untuk mengatasi masalah tersebut yaitu:
1. Mengusahakan adanya penguasaan yang menyeluruh dengan menekankan pada bagaimana cara menguji kebenaran atau
mendapatkan pengetahuan.
2. Mengutamakan kebutuhan
masyarakat (social utility).
3. Menekankan pengetahuan dasar.
c. Penyesuaian mata pelajaran dengan perkembangan anak
Para pengembang kurikulum subjek akademis, lebih mengutamakan penyusunan
bahan secara logis dan sistematis dari pada menyelaraskan urutan bahan dengan
kemampuan berfikir anak.
Untuk mengatasi kelemahan diatas dalam perkembangan selanjutnya dilakukan
bebrapa penyempurnaan , pertama untuk mengimbangi penekanannya pada proses
berfikir, kedua adnya upaya-upaya untuk menyesuaikan pelajaran dengan
perbedaan individu dan kebutuhan setempat, ketiga pemanfaatan fasilitas dan
sumber yang ada pada masyarakat.
B) Kurikulum
Humanistik
Kurikulum humanistik dikembangkan oleh para ahli pendidikan humanistik.
Kurikulum ini berdasarkan konsep aliran pendidikan pribadi. Aliran ini lebih
memberikan tempat utama kepada siswa. Mereka bertolak dari asumsi bahwa anak
/siswa adalah yang pertama dan utama dalam pendidikan.[16]
Pendidikan
humanistik menekankan peranan siswa oleh karena itu peran guru yang diharapkan
adalah sebagai berikut :
1. Mendengar
pandangan realitas peserta didik secara komperhensif.
2.
Menghormati individu peserta didik.
3. Tampil
alamiah, otentik dan tidak dibuat-buat.
a. Karakteristik kurikulum
humanistik
Kurikulum humanistik mempunyai beberapa karakteristik berkenaan dengan
tujuan, metode, organisasi isi dan evaluasi.
Kurikulum
humanistik menuntut hubungan emosional yang baik antara guru dan murid.
Evaluasi kurikulum humanistik berbeda dengan yang biasa lebih mengutamakan
proses daripada hasil.
b. Kelemahan
Kurikulum Humanistik
1) Keterlibatan
emosional tidak selamanya berdampak positif bagi perkembangan individual
peserta didik.
2) Meskipun
kurikulum ini sangat menekankan individu peserta didik, pada kenyataannya
disetiap program terdapat keseragaman peserta didik.
3) Kurikulum
ini kurang memperhatikan kebutuhan masyarakat secara keseluruhan.
4) Dalam
kurikulum ini prinsip-prinsip psikologis yang ada kurang terhubungkan.
C) Kurikulum
Rekonstruksi Sosial (Social Recontruction Curriculum)
Kurikulum rekonstruksi sosial berbeda dengan model-model kurikulum lainnya.
Kurikulum ini lebih memusatkan perhatian pada problema-problema yang
dihadapinya dalam masyarakat. Kurikulum ini bersumber pada aliran pendidikan
intrasksional.
Pandangan rekonstruksi sosial di dalam kurikulum dimulai sekitar tahun
1920. Harold Rug mulai melihat dan menyadarkan kawan-kawanya bahwa selama ini
terjadi kesenjangan antara kurikulum dengan masyarakat. Ia menginginkan para
siswa dengan pengetahuan dan konsep-konsep baru yang diperolehnya dapat
mengidentifikasi dan memecahkan masalah-masalah sosial.
a. Ciri-ciri
desain kurikulum ini adalah :
1. Asumsi
2.
Masalah-masalah sosial yang mendesak
3. Pola-pola
organisasi
b. Komponen-komponen kurikulum
rekonstruksi sosial
1. Tujuan
dan isi kurikulum
2. Metode
3. Evaluasi
Kegiatan yang dilakukan dalam
kurikulum ini antara lain melibatkan :
1. Survey
kritis terhadap suatu masyarakat.
2. Study
yang melihat hubungan antara ekonomi local dengan ekonom nasional dan
internasional
3. Studi
pengaruh sejarah dan kecenderungan situasi ekonomi lokal.
4. Uji coba
kaitan praktik politik dengan perekonomian
5. Berbagai
pertimbangan perubahan politik.
6.
Pembatasan kebutuhan masyarakat pada umumnya.[17]
PENUTUP
Kesimpulan
Ada tiga poin utama dalam makalah ini yaitu sebagai berikut:
1.
Organiasi Kurikulum
1) Pengertian
Organiasasi kurikulum ini merupakan struktur program kurikulum yang
berupa kerangka umum program-program pengajaran yang akan disampaikan kepada
peserta didik
2) Kegunaan
Organisasi
kurikulum dimaksudkan untuk memudahkan peerta didik dalam proses pembelajaran.
Organisasi atau desain kurikulum bertalian erat dengan tujuan pendidikan yang
akan dicapai
Pembagian organiasasi kurikulum diantaranya adalah mata
pelajaran terpisah (separated subject), mata pelajaran berkolerasi,
bidang studi (broad field), program yang berpusat pada anak (child
centered), inti masalah (core program), eclectic program.
2. Komponen – komponen kurikulum
1) Tujuan
Kurikulum
Tujuan
kurikulum dirumuskan berdasarkan dua hal yaitu :
ü Perkembangan tuntutan, kebutuhan dari kondisi masyarakat
ü Berdasarkan pemikiran – pemikiran dan terarah pada pencapaian nilai
– nilai filosofis
2) Bahan Ajar
Bahan Ajar disusun secara logis dan sistematis, dalam bentuk:
Teori Istilah
Generalisasi Contoh/ilustrasi
Prinsip Definisi
Prosedur Preposisi
Fakta
3) Proses
Pembelajaran dan strategi belajar
Perencanaan
yang berisi tentang rangaian kegiatan yang didesai untuk mencapai tujuan
pendidikan tertentu
4) Evaluasi
Evaluasi berfungsi untuk mengetahui apakah tujuan yang
ditetapkan telah tercapai atau belum dan digunakan sebagai uman balik dalam
perbaikan strategi yang ditetapkan
3.
Model
– model konsep kurikulum
Model kurikulum Zais terdiri dari model administratif dan model akar rumput
(Grassroots Approach)
Konsep kurikulum
terdiri dari kurikulum subjek akademis (Subject Oriented Curriculum), kurikulum
humanistik dan kurikulum rekonstruksi sosial (Social Recontruction
Curriculum).
DAFTAR PUSTAKA
Hamdani Hamid.2013.Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Bandung : Pustaka Setia
Muhaimin.1991.Konsep
Pendidikan Islam. Solo : CV Ramadhani
Nana Syaodih
Sukmadinata.2009. Pengembangan
Kurikulum. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Oemar Hamalik.
2008. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sholeh
Hidayat.2013. Pengembangan Kurikulum Baru. Bandung : PT Remaja
Rosdakarya
[1]
Muhaimin.1991.Konsep Pendidikan Islam. Solo : CV Ramadhani. hlm. 41
[2]
Hamdani Hamid.2013.Pendidikan Karakter Perspektif Islam.
Bandung : Pustaka Setia. hlm.149
[3] Oemar
Hamalik.2008. Dasar-Dasar
Pengembangan Kurikulum.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya. hlm. 155
[4] Oemar
Hamalik. 2008. Dasar-Dasar
Pengembangan Kurikulum. hlm.
156-160
[5] Sholeh
Hidayat.2013. Pengembangan Kurikulum Baru. Bandung : PT Remaja
Rosdakarya. hlm. 67
[6] Sholeh
Hidayat.2013. Pengembangan Kurikulum Baru. hlm. 68
[7] Sholeh
Hidayat. 2013. Pengembangan Kurikulum Baru. hlm. 53
[8] Nana Syaodih Sukmadinata. 2009. Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya. hlm.102-105
[9] Sholeh
Hidayat. 2013. Pegembangan Kurikulum Baru. hlm 64-67
[10]
Sholeh Hidayat.2013. Pengembangan
Kurikulum Baru. hlm. 68-79
[11]
Sholeh Hidayat.2013. Pengembangan Kurikulum Baru. hlm.80-81
[12]
Sholeh Hidayat.2013. Pengembangan Kurikulum Baru. hlm.82
[13]
Sholeh Hidayat.2013. Pengembangan
Kurikulum Baru. hlm.84-85
[14]
Sholeh Hidayat.2013. Pengembangan
Kurikulum Baru. hlm. 85-86
[15]
Nana Syaodih Sukmadinata.2009. Pengembangan
Kurikulum. hlm. 81
[16]
Oemar Hamalik.2008. Dasar-Dasar
Pengembangan Kurikulum. hlm.44
[17]
Nana Syaodih Sukmadinata.2009. Pengembangan
Kurikulum. hlm.88
Demi pengembangan makalah ini kami selaku penyusun makalah mengharapkan penilaian, masukan saran dari para pembaca sekalian, silahkan ketik di kolom komentar,terima kasih

Belum ada tanggapan untuk "Makalah Dasar - Dasar Pengembangan Kurikulum Kelompok 7"
Posting Komentar