Motivasi Menulis

Makalah Dasar - Dasar Pengembangan Kurikulum Kelompok 7

MAKALAH
Organisasi dan Komponen – Komponen Kurikulum

Disusun untuk Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah Dasar - Dasar Pengembangan Kurikulum
Pada Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Semester III
Tahun Akademik 2017/2018



Dosen Pengampu :
Dr. H. Nawawi, M.Pd

Disusun oleh Kelompok 7 :

    1.    Indriana Wahyu Dwijayanti              (1608101003)
    2.    Yopi Muhamad Kahfi                       (1608101015)
    3.    Tanti Onaepit                                    (1608101032)


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI CIREBON
TAHUN 2017/2018


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas terstruktur mata kuliah dasar – dasar pengembangan Kurikulum, shalawat serta salam semoga Allah senantiasa melimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. kepada keluarganya, sahabatnya, serta kepada kita selaku umatnya.
Makalah ini membahas tentang “Organisasi Kurikulum dan Komponen – Komponen Kurikulum  ucapan terima kasih orang tua yang telah mendoakan dan memberikan dukungan berupa materi dan nonmateri. Dr. Nawawi, M.Pd sebagai dosen mata kuliah dasar – dasar pengembangan kurikulum yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam pembuatan makalah ini. Rekan-rekan mahasiswa, yang telah membantu dalam bentuk apapun.
Atas rahmat dan karunia-Nya kami bisa menyelesaikan makalah ini dengan berusaha semaksimal mungkin, akan tetapi kami menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, karena itu kami menerima kritik dan saran yang membangun, agar kami bisa lebih baik lagi dalam pembuatan makalah selanjutnya.
                      
                       
 Cirebon, 31 Oktober 2017



                             Penyusun



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................................... ii
PENDAHULUAN....................................................................................................... 1
A.       Latar  Belakang.................................................................................................... 1
B.       Rumusan Masalah................................................................................................ 1
C.       Tujuan................................................................................................................. 1
PEMBAHASAN.......................................................................................................... 2
A.       Organisasi Kurikulum ......................................................................................... 2
1) Pengertian........................................................................................................ 2
2) Kegunaan........................................................................................................ 2
B.       Komponen Kurikulum......................................................................................... 6
1) Tujuan Kurikulum........................................................................................... 6
2) Bahan Ajar...................................................................................................... 8
3) Proses Pembelajaran........................................................................................ 10
4) Evaluasi........................................................................................................... 12
C.       Model – Model Konsep Kurikulum..................................................................... 14
PENUTUP................................................................................................................... 23
Kesimpulan................................................................................................................. 23
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................. 25







PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Kurikulum  merupakan  acuan  pembelajaran  dalam  pendidikan oleh  karenanya  pengembangan  kurikulum  melibatkan  pemikiran - pemikiran yang sangat kompleks, Kurikulum  menurut Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) no. 20 tahun 2003 pasal 1 poin 9 adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi, tujuan dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum  berisi  keharusan  dan  kemungkinan.
Bimbingan  dan  arahan  bukan hanya menjadi  tugas  dan  kewajiban  guru  tetapi  menjadi kewajiban  sekolah  yang  komponen-komponen lainnya bukan hanya  guru,  tetapi  juga  kepala sekolah, warga masyarakat sekolah dan unsur lain yang terkait dengan pendidikan.
Sebuah kurikulum pasti memuat tujuan yang ingin dicapai dalam suatu sistem pendidikan, untuk itu tujuan dalam kurikulum memegang peranan yang sangat penting, karena tujuan mengarahkan semua kegiatan pengajaran dan mewarnai organisasi kurikulum serta komponen – kompenen kurikulum lainnya.
B.  Rumusan Masalah
1)      Apa saja organisasi kurikulum?
2)      Apa saja komponen – komponen kurikulum?
3)      Bagaimana model – model konsep kurikulum?

C. Tujuan
1)      Untuk mengetahui apa organisasi kurikulum
2)      Untuk mengetahui komponen – komponen kurikulum
3)      Untuk mengetahui bagaimana model – model konsep kurikulum



PEMBAHASAN

A. ORGANISASI KURIKULUM
1) Pengertian
     Organiasai kurikulum adalah struktur program kurikulum yang berupa kerangka umum program – program pengajaran yang disampaikan kepada peserta didik guna tercapaianya tujuan pendidikan atau pembelajaran yang diterapkan. Organiasasi kurikulum ini merupakan struktur program kurikulum yang berupa kerangka umum program-program pengajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik.[1]
     Pengertian kurikulum adalah seperangkat susunan rencana kegiatan pendidikan mengenai tujuan, pokok,isi, bahan, metode dan strategi pembelajaran sebagai acuan penyelenggaraan kegiatan proses pembelajaran.[2]
2) Kegunaan
Kurikulum berfungsi sebagai rencana untuk keperluan pelajaran peserta didik, maka bahan pelajaran harus dituangkan dalam organisasi kurikulum tertentu agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Organisasi kurikulum dimaksudkan untuk memudahkan peerta didik dalam proses pembelajaran. Organisasi atau desain kurikulum bertalian erat dengan tujuan pendidikan yang akan dicapai.

Bentuk  organisasi  kurikulum  memiliki  karakteristik tersendiri,  dan  nampaknya  mengalami  proses  pengembangan  secara  berurutan  sejalan dengan  berbagai inovasi  dalam  kurikulum.  Beberapa  bentuk  organisasi  kurikulum tersebut  di  antaranya  adalah;  kurikulum  mata  pelajaran,  kurikulum  dengan  mata pelajaran  berkorelasi,  kurikulum  bidang  studi,  kurikulum  terintegrasi,  dan  kurikulum inti.[3]
1.    Kurikulum Mata Pelajaran
Kurikulum  mata  pelajaran  (isolated  subjects  atau  subject-matter  curriculum) dikategorikan  sebagai  bentuk  kurikulum  yang  masih  tradisional.  Kurikulum  ini  sejak lama  diterapkan  pada  sekolah-sekolah  di  Indonesia,  sampai  dengan  munculnya kurikulum tahun 1968 dan kurikulum tahun 1975.

2.    Kurikulum dengan Mata Pelajaran Berkorelasi
Kurikulum  ini  bertujuan  untuk  mengurangi  kelemahan  dengan  adanya keterpisahan  antara  berbagai  mata  pelajaran,  sehingga  diusahakanlah  agar  mata pelajaran  tersebut  disusun  dalam  pola  korelasi  sehingga  mudah  dipahami  oleh  subjek didik.  Inilah  yang  dinamakan  dengan  kurikulum  dengan  mata  pelajaran  berkorelasi. Bentuk  korelasi  ini  terdiri  atas  dua  pola  yaitu  korelasi  informal  dan  korelasi  formal. Pola  korelasi  informal,  seorang  pengajar  mata  pelajaran  meminta  agar  guru  mata pelajaran lainnya mengorelasikan pelajaran yang akan diberikannya dengan bahan yang telah  diberikan  oleh  guru  pertama.  Sedangkan  model  korelasi  formal  yaitu  beberapa guru bersama-sama merencanakan untuk mengorelasikan mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing.

3.    Kurikulum Bidang Studi
Sebagian  ahli  berpendapat  bahwa  kurikulum  bidang  studi  (broadfield curriculum)  ini  termasuk  dalam  jenis  kurikulum  berkorelasi.  Pandangan  ini  ada benarnya,  karena  bidang  studi  (broadfield)  sudah  merupakan  perpaduan  atau  fungsi sejumlah mata pelajaran sejenis yang memiliki ciri-ciri yang sama.

4.    Kurikulum Terintegrasi
Kurikulum terintegrasi atau terpadu (integrated curriculum) tidak mempunyai batas-batas di  antara  semua  mata  pelajaran,  karena  semua  mata pelajaran  sudah dirumuskan  dalam  bentuk  masalah  atau  unit,  sehingga  semua  mata pelajaran sudah terpadu (terintegrasi) sebagai satu kesatuan yang bulat.

5.    Kurikulum Inti
Penjelasan  tentang  pengertian  kurikulum  inti  sangatlah  beragam  namun  dalam penjelasan  ini  hanya  mengambil  satu  pendapat  saja  mengingat  lebih  komprehensif.
Menurut Romine bahwa kurikulum inti (core curriculum) yaitu:“The core curriculum, core program, or core course may be defined as the part of  total  curriculum  objectives,  which  is  schedule  for  proportionally  longer  blocks  of time”.
Rumusan   yang  dibuat  oleh  Romine  ini  kira-kira  mengandung  sejumlah hal yang menjadi perhatian penting, yaitu:
ü Kurikulum  merupakan  bagian  dari  keseluruhan  kurikulum  yang  diperuntukkan terhadap subjek didik.
ü Kurikulum inti bermaksud untuk mencapai tujuan pendidikan umum.
ü Kurikulum inti disusun dari garis-garis pelajaran namun tidak secara ketat.
ü Kurikulum inti disusun untuk jangka panjang[4]

Adanya berbagai pandangan yang mendasari pengembangan kurikulum memunculkan terjadinya keragaman dalam mengorgaisasikan kurikulum, sekurang – kurangnya terdapat enam ragam pengorganisasian kurikulum :
1. Mata Pelajaran Terpisah (separated subject) ; kurikulum terdiri dari sejumlah mata pelajaran yang terpisah – pisah, yang diajarkan sendiri – sendiri tanpa ada hubungan dengan mata pelajaran lainnya. Masing – masing diberikan pada waktu tertentu dan tidak mempertimbangkan minat, kebutuhan dan kemampuan peserta didik, semua materi diberikan sama.
2. Mata Pelajaran Berkolerasi; korelasi diadakan sebagai upaya untuk mengurangi kelemahan – kelemahan sebagai akibat pemisahan mata pelajaran. Prosedur yang ditempuh adalah menyampaikan pokok-pokok materi pelajaran yang saling berhubungan untuk memudahkan peserta didik memahami pelajaran tertentu.
3. Bidang Studi (broad field) ; yaitu organisasi kurikulum yang berupa peleburuan beberapa mata pelajaran yang sejenis dan memiliki ciri –ciri yang sama serta difungsikan dalam satu bidang pengajaran atau bidang studi. Salah satu mata pelajaran yang dijadikan “core subject” dan mata pelajaran lainnya berkorelasi dengan core tersebut.[5]
4. Program yang berpusat pada anak (child centered) ; program kurikulum yang menitikberatkan pada kegiatan – kegiatan peserta didik, bukan pada mata pelajaran.
5. Inti Masalah (core program) ; suatu program yang berupa unit – unit masalah, masalah – masalah diambil dari suatu mata pelajaran tertentu dan mata pelajaran lainnya diberikan melalui kegiatan – kegiatan belajar dalam upaya memecahkan masalahnya. Mata pelajaran – mata pelajaran yang menjadi pisau analisinya diberikam secara terintegrasi.
6. Eclectic Program ; suatu program yang mencari keseimbangan antara organisasi kurikulum yang terpusat pada mata pelajaran dan peserta didik.
     Berkaitan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tampaknya lebih cenderung  menggunakan pengorganisasian yang bersifat eklektik, yang terbagi kedalam lima kelompok mata pelajaran ; 1. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia; 2. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian ; 3. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi ; 4. Kelompok mata pelajaran estetika dan 5. Kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga dan kesehatan.
     Kelompok - kelompok mata pelajaran tersebut selanjutnya dijabarkan lagi kedalam sejumlah mata pelajaran tertentu yag disesuaikan dengan jenjang dan jenis sekolah dan madrasah. Di simping itu, untuk memenuhi kebutuhan lokal disediakan mata pelajaran muatan lokal serta untuk kepentingan penyaluran bakat dan minat peserta didik disediakan kegiatan pengembangan diri.[6]


B. KOMPONEN KURIKULUM
1) Tujuan Kurikulum
     Tujuan kurikulum memegang peranan penting karena tujuan akan mengarahkan semua kegiatan pembelajaran dan memberi warna setiap komponen kurikulum lainnya. Tujuan kurikulum dirumuskan berdasarkan dua hal yaitu ; 1. Perkembangan tuntutan, kebutuhan dari kondisi masyarakat, 2. Didasari oleh pemikiran – pemikiran dan terarah pada pencapaian nilai – nilai filosofis, terutama falsafah negara, tujuan pendidikan terbagi dalam beberapa kategori yaitu tujuan pendidikan umum dan khusus, tujuan jangka panjang menengah dan jangka pendek.
Komponen tujuan berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan. Rumusan tujuan kurikulum dalam skala besar erat kaitannya dengan filsafat atau sistem nilai yang dianut suatu bangsa. Bahkan, rumusan tujuan menggambarkan suatu masyarakat yang dicita – citakan.
Kurikulum pendidikan dasar dan menengah 1975/1976 tujuan pendidikannya memiliki klasifikasi, dari mulai tujuan yang sangat umum sampai tujuan khusus yang bersifat spesifik dan dapat diukur, yang kemudian dinamakan kompetensi. Tujuan pendidikan diklasifikasikan menjadi empat yaitu :
1. Tujuan Pendidikan Nasional (TPN)
Tujuan yang bersifat paling umum dan merupakan sasaran yang harus dijadikan pedoman oleh setiap usaha pendidikan.
2. Tujuan Intitusional (TI)
Tujuan yang harus dicapai oleh setiap lembaga pendidikan. Tujuan intitusional merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan umum yang diwujudkan dalam bentuk kompetensi lulusan setiap jenjang pendidikan.



3. Tujuan Kurikuler (TK)
Tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi atau mata pelajaran. Tujuan kurikuler juda pada dasarnya merupakan tujuan untuk mencapai tujuan lembaga pendidikan
4. Tujuan Intruksional atau Tujuan Pembelajaran (TP)
Merupakan bagian dari tujuan kurikuler, dapat didefinisikan sebagai kemampuan - kemampuan yang harus dimiliki oleh peserta didik setelah mereka mempelajari materi pelajaran tertentu dalam satu kali pertemuan.[7]
Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) tersebut sebagai penyempurnaan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) kategori tujuan terdiri dari 1. Tujuan Pendidikan Nasional 2. Tujuan Pendidikan Satuan Pendidikan 3. Standar Kompetensi 4. Kompetensi Dasar 5. Indikator.
Standar kompetensi adalah ukuran kemampuan minimal yang mencakup kemampuan, pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak untuk jenjang kelas dan semester tertentu. Kompetensi dasar adalah kemampuan – kemmapuan pokok yang membentuk kompetensi atau tercakup dalam kompetansi yang distandarkan atau ukuran kemampuan minimal. Indikator adalah penanda minimal penguasaan kompetensi atau kompetensi dasar yang lebih spesifik yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai ketercapaian hasil belajar.
Kompetensi dasar dan indikator lebih diutamakan dalam pembelajaran di kelas karena lebih jelas, mudah dan terukur pencapaiannya. Dalam merencanakan pembelajaran guru menjabarkan standar kompetensi, kompetensi dasar kedalam indikator yang bersifat oprasional (teramati dan terukur).
Tujuan pembelajaran dibedakan atas beberapa kategori, sesuai dengan perilaku yang menjadi sasarannya. Gagne (1975) mengemukakan lima kategori tujuan atau hasil belajar berupa kapabilitas yaitu : 1. Informasi Verbal 2. Keterampilan Intelektual 3. Strategi Kognitif 4.Strategi Afektif 5. Keterampilan gerak.
2) Bahan Ajar
Bahan Ajar adalah komponen yang didesain untuk mencapai komponen tujuan, yang dimaksud dengan bahan ajar adalah bahan-bahan kajian yang terdiri dari ilmu pengetahuan, nilai, pengalaman dan keterampilan yang dikembangkan ke dalam proses pembelajaran guna mencapai komponen tujuan.
Siswa belajar dalam bentuk interaksi dengan lingkungannya, lingkungan orang-orang, alat-alat, dan ide-ide. Tugas utama seorang guru adalah menciptakan lingkungan tersebut, untuk mendorong siswa melakukan interaksi yang produktif dan memberikan dirancang dalam suatu rencana mengajar. Bahan ajar disusun secara logis dan sistematis, dalam bentuk:
ü Teori
Seperangkat konstruksi atau konsep, definisi atau preposisi yang saling berhubungan, yang menyajikan pendapat sistematik tentang gejala dengan menspesifikasi hubungan-hubungan antara variabel-variabel dengan maksud menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut.
ü Konsep
Suatu abstraksi yang dibentuk oleh organisasi dari kekhususan-kekhususan, merupakan definisi singkat dari sekelompok fakta atau gejala.
ü Generalisasi
Kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus, bersumber dari analisis, pendapat atau pembuktian dalam penelitian.
ü Prinsip
Ide utama, pola skema yang ada dalam materi yang mengembangkan hubungan antara beberapa konsep.
ü Prosedur
Seri langkah-langkah yang berurutan dalam materi pelajaran yang harus dilakukan peserta didik.


ü  Fakta
Sejumlah informasi khusus dalam materi yang dianggap penting, terdiri dari terminologi, orang dan tempat serta kejadian.
ü  Istilah
Kata-kata perbendaharaan yang baru dan khusus yang diperkenalkan dalam materi.
ü  Contoh/ilustrasi
Hal atau tindakan atau proses yang bertujuan untuk memperjelas suatu uraian atau pendapat.
ü Definisi
Penjelasan tentang makna atau pengertian tentang suatu hal/kata dalam garis besarnya.
ü Preposisi
Cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan kurikulum.
Bahan Ajar / isi program kurikulum adalah segala sesuatu yang diberikan kepada anak didik dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan. Bahan ajar meliputi jenis-jenis bidang studi yang diajarkan dan isi program masing-masing bidang studi tersebut. Bidang-bidang studi tersebut disesuaikan dengan jenis, jenjang maupun jalur pendidikan yang ada. Kriteria yang dapat membantu pada perancangan kurikulum dalam menentukan isi kurikulum. Kriteria itu antara lain:
a.       Isi kurikulum harus sesuai, tepat dan bermakna bagi perkembangan siswa.
b.       Isi kurikulum harus mencerminkan kenyataan sosial.
c.       Isi kurikulum harus mengandung pengetahuan ilmiah yang tahan uji
d.       Isi kurikulum mengandung bahan pelajaran yang jelas
e.       Isi kurikulum dapat menunjang tercapainya tujuan pendidikan.[8]



3) Proses Pembelajaran dan Strategi Pelaksanaan Kurikulum
Proses pembelajaran dan strategi merupakan komponen selanjutnya dalam pengembangan kurikulum. Komponen ini merupakan komponen yang memiliki peran yang sangat penting, sebab berhubungan dengan implementasi kurikulum. Menurut JR. David, strategi diartikan sebagai a plan, method, or series of activities designed to achives a particular educational goal, dengan demikian strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangaian kegiatan yang didesai untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Ada 2 hal yang patut dicerati dari pengertian diatas. Pertama, stertegi pembelajaran adalah rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode da emanfaatan bagi sumberdaya/ kekuatan dalam pembelajaran. Ini berarti penyusunan suatu strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Kedua, strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya, arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan.  Denan demikian, penyusunan langkah-langkah  pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan, oleh sebab itu sebelum menentukan strategi, perlu dirumuskan tujuan yang jelas dan dapat diukur keberhailannya, sebab tujuan adalah rohnya dalam implementasi suatu strategi.
Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan dapat dicapai secara efektif dan efisien. Strategi pembelajaran menurut T. Rakjoni (1979) sebagai pola dan urutan umum perbuatan guru-siswa dalam mewujudkan kegiatan belajar dan pembelajara untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Dari beberapa pengertian diatas ada dua hal yang perlu dicermati, yakni:
1.      Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian tindakan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran.
2.      Strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu.
Metode adalah upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Metode juga digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dalam satu strategi pembelajaran digunakan beberapa metode. Strategi berbeda dengan metode. Strategi menunju pada a plannof operation achieving something,sedangan metode adalah a way in achieving something .
Istilah lain yang sering dipertukarkan adalah pendekatan (approach) pengertian pendekatan berbeda denan strategi maupun metode. Pendekatan diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandan terhadap proses pembelajaran.
Roy Killer (1998) mengemukakan ada dua pendekatan dalam pembelajaran yakni pendekatan yang berpusat pada guru (teacher centered approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student centered approach), sedangkan Rowntree (1974), membagi strategi pembelajaran terdiri atas:
1.      Strategi expository dan strategi discovery learning
2.      Strategi groups dan individual learning
Strategi pembelajaran expository adalah strategi pembelajaran yang menekankan pada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pembelajaran secara optimal. Misalnya, ceramah diselingi Tanya jawab.
Strategi pembelajaran discovery adalah strategi pembelajaran yang mengatur pembelajaran sedemikian rupa sehingga siswa memperoleh pengetahuan yang sebelumnya tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri. Strategi pembelaaran discovery berangkat dari suatu pandangan bawa suswa sebagai subjek disamping sebagai objek pembelajaran. Mereka memiliki kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Strategi pembelajarana diartikan pula sebagai proses mental dimana mereka mengasimilasi suatu konsep atau prinsip. Proses mental tersebut seperti mengamati,menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat simpulan, dalam strategi pembelajaran ini siswa dibiarkan menemukan sendiri, sedangkan guru hanya membimbing dan memberi instruksi.
Strategi belajar individual dilakukan oleh siswa secara mandiri, bahan pelajaran serta bagaimana mempelajarinya didesain untuk belajar sendiri. Contoh, pembelajaran individual adalah belajar melalui modul, belajar bahasa melalui kaset atau audio dan lainnya. Berbeda dengan strategi pelajaran individual, pembelajaran kelompok dilakukan beregu.
Adapun strategi pelaksanaan kurikulum berhubungan dengan bagaimana kurikulum itu dilaksanakan di sekolah dan di madrasah. Kurikulum merupakan rencana, ide, harapan yang harus diwujudkn secaranyata di sekolah dan di madrasah, sehingga mampu mengantarkan peserta didik mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum yang baik akan mencapai hasil yang optimal, jika pelaksanaannya menghasilkan sesuatu yang baik bagi peserta didik. Komponen strategi pelaksanaan kurikulum meliputi pedoman, pembelajaran, penilaian, bimbingan dan konseling, pengaturan dan pengelolaan kegiatan sekolah.[9]
4) Evaluasi Kurikulum
Evaluasi merupakan komponen untuk melihat efektivitas pencapaian tujuan. Dalam konteks kurikulum, evaluasi dapat berfungsi untuk mengetahui apakah tujuan yang ditetapkan telah tercapai atau belum dan digunakan sebagai uman balik dalam perbaikan strategi yang ditetapkan, dengan evaluasi dapat diperoleh informasi yang akurat tentang pelaksanaan pembelajaran, keberhasilan siswa, guru, dan proses pembelajaran. Tiap kegiatan akan memberikan umpan balik, demikian juga dalam pencaaian tujuan belajar dan proses pelaksanaan pembelajaran. Umpan balik tersebut digunakan untuk mengadakan berbagai usaha penyempurnaan bagi penentuan dan perumusan tujuan pembelajaran, penentuan urutan (sekuens) bahan ajar, strategi, metode dan media pembelajaran.

1.      Evaluasi Hasil Pembelajaran
Untuk menilai keberhasilan penguasaan siswa atau tujuan-tjuan khusus yang telah ditentukan ditentukan diadakan suatu evaluasi. Evaluasi ini disebut juga hasil pembelajaran. Evaluasi ini di dalamnya disusun soal untuk mengukur pencapaian setiap tujuan yang khusus atau indikator yang telah ditentukan.

2.      Evaluasi Pelaksanaan Pembelajaran
Komponen yang dievaluasi dalam pembelajaran bukan hanya hasil belajar tetapi keseluruhan pelaksanaan pembelajaran yang meliputi evaluasi komponen tujuan pembelajaran, materi pelajaran, strategi atau metode pembelajaran serta komponen evaluasi pembelajaran itu sendiri. Stufflebeam dkk. (1967) menggunakan model CIPP model evaluasi ini paling banyak diikuti oleh para evaluator, karena model evaluasi ini lebih komprehensif jika dibandingkan dengan model evaluasi lainnya.
Model CIPP berorientasi pada suatu keputusan (a dicision oriented evaluation approach structured). Tujuannya adalah untuk membantu administrator (kepala sekolah dan guru) dalam membuat keputusan. Komponen model CIPP antara lain:
a.       Evaluasi konteks
Tujuan evaluasi konteks yang utama adalah untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan yang dimiliki evaluan. Dengan mengetahui kelebihan ini, evaluator akan dapat memberikan arah perbaikan yang diperlukan.
b.      Evaluasi masukan
Tahap kedua dari model CIPP adalah evaluasi input,  atau evaluasi masukan. Evaluasi masukan membantu mengatur keputusan, menentukan sumber yang ada, alternative apa yang diambil, rencana dan strategi apa yang diambil untuk mencapai tujuan, dan bagaimana rosedur kerja untuk mencapainya. Komponen evaluasi masukan meliputi:
1.      Sumber daya manusia
2.      Sarana dan peralatan pendukung
3.      Anggaran
4.      Berbagai prosedur dan aturan yang diperlukan.
c.       Evaluasi proses
Evaluasi proses digunakan untuk mendeteksi rancangan prosedur atau rancangan implementasi selama tahap imlementasi, menyediakan informasi untuk keputusan program dan sebagai rekaman atau arsip prosedur yang tela terjadi.evaluasi proses meliputi koleksi data penilaian yang telah ditentukan dan diterapkan dalam praktik pelaksanaan program. Pada dasarnya evaluasi proses untuk mengetahui sampai seberapa jauh rencana telah diterapkan dan komponen apa yang perlu diperbaiki.
d.      Evaluasi hasil (product evaluation)
Dari evaluasi proses diharapkan dapat membantu pemimpin proyek atau guru untuk membuat keputusan yang berkenaan dengan kelanjuta, akhir, modifikasi program. Farida Yusuf (2000) menjelaskan, bahwa evaluasi produk untuk membantu membuat keputusan selanjutnya, baik mengenai hasil yang telah dicaat maupun yang dilakukan setelah program itu berjalan.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa evaluasi produk merupakan penilaian yang dilakukan guna untuk melihat ketercapaian atau keberhasilan suatu program dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Pada tahap inilah seorang evaluator dapat menentukan atau memberikan rekomendasi kepada yang dievaluasi, apakh suatu program dapat dilanjutkan, dikemangkan, dimodifikasi, atau bahkan dihentikan.

C. MODEL DAN KONSEP KURIKULUM
            Model adalah konstruksi yang bersifat teoritis dari konsep. Model konsep kurikulum merupakan dasar untuk pengembangan kurikulum atau dengan kata lain, pendekatan pengembangan kurikulum didasarkan atas konsep-konsep kurikulum yang ada.

1) Model Kurikulum
            Kegiatan pengembangan kurikulum di tingkat satuan pendidikan (sekolah atau madrasah) memerlukan suatu model yang dijadikan landasan teoritis untuk melaksanakan kegiatan tersebu. Model atau konstruksi mrupakan ulasan teoritis tentang suatu konsepsi dasar.
Terdapat beberapa model pengembangan kurikulum yang telah dikembangkan oleh para ahli.[10]

1) Model Kurikulum Zais
Berikut ini beberapa model pengembangan kurikulum sebagaimana dikemukakan oleh Zais antara lain :
a. Model Administratif
            Model administratif ini sering pula disebut sebagai model “garis dan staff” atau dikatakan pula sebagai model dari atas ke bawah yang sifatnya top down. Kegiatan pengembangan kurikulum dimulai dari pejabat pendidikan yang berwenang yang membentuk panitia pengarah yang terdiri dari para pengawas pendidikan,kepala sekolah dan madrasah serta staf pengajar inti, panitia pengarah tersebut diberikan tugas untuk merencanakan, memberikan pengarahan,tentang garis besar kebijaksanaan, menyiapkan rumus filsafat dan tujuan umum pendidikan.
            Pengembangan kurikulum model administratif menekankan kegiatannya pada orang-orang yang terlibat sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing, berhubung pengarahan kegiatan berasal dari atas ke bawah, pada dasarnya model ini mudah dilaksanakan pada negara yang menganut sistem sentralistik dan negara yang kemampuan profesional tenaga pengajarnya msih rendah. Kelemahan model ini terletak pada kurang pekanya terhadap adanya perubahan masyarakat, selain itu kurikulum ini biasanya bersifat seragam secara nasional sehingga kadang-kadang melupakan adanya kebutuhan dan kekhususan yang ada pada setiap daerah. Model pengembangan ini dikembangkan di Indonesia bertahun-tahun sejak kurikulum 1968 sampai dengan kurikulum 2004.
b. Model Akar Rumput (Grassroots Approach)
            Model ini biasanya diawali dari keresahan guru tentang kurikulum yang berlaku. Mereka memiliki kebutuhan dan keinginan untuk memperbaharui atau menyempurnakannya.Tugas administrator dalam pengembangan model ini, tidak lagi berperan sebagai pengendali pengembangan kurikulum, tetapi sebagai motivator dan fasilitator. Perubahan dan penyempurnaan kurikulum dapat dimulai oleh guru secara individual atau dapat juga oleh kelompok guru, misalnya kelompok guru mata pelajaran dari beberapa sekolah atau madrasah seperti melalui wadah musyawarah guru mata pelajaran (MGMP).
            Pengembangan model ini, hanya mungkin dapat dilakukan apabila guru di sekolah dan madrasah memiliki kemampuan dan sikap profesional yang tinggi yang memahami konsep dan teori pendidikan dan pembelajaran. Model pengembangan kurikulum ini dianut oleh pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) meskipun tidak secara penuh. Standar isi yang mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi lulusan setiap mata pelajaran pada setiap semester, setiap jenis dan jenjang pendidikan masih ditetapkan secara terpusat melalui keputusan mentri pendidikan nasional.[11]

2). Model Pengembangan Kurikulum Ralph W. Tyler
            Model Tyler menekankan pada bagaimana merancang sesuatu kurikulum disesuaikan dengan tujuan dan misi suatu institusi pendidikan. Menurut Tyler ada empat yang dianggap mendasar untuk mengembangkan suatu kurikulum. Pertama berhubungan dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai, kedua berhubungan dengan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan, ketga berhubungan dengan pengorganisasian pengalaman belajar, dan yang keempatberhubungan dengan pengembangan evaluasi. Dalam pengembangan kurikulum, kegiatan merumuskan tujuan merupakan langkah pertama dan utama yang harus dikerjakan, sebab tujuan merupakan arah atau sasaran pendidikan. Merumuskan tujuan kurikulum sangat tergantung dari filsafat dan teori pendidikan serta model kuriulum yang dianut, bagi pengembang kurikulum yang lebih berorientasi pada disiplin ilmu maka pengeuasaan berbagai konsep dan teori sebagaimana tergambar dalam disiplin ilmu tersebut merupakan sumber utama tujuan kurikulum.[12]

3). Model Pengebangan Kurikulum  Beauchamp
            Beuchamp mengemukakan lima hal dalam proses pengembangan suatu kurikulum diataranya :
a. Menetapkan wilayah atau area yang akan melakukan perubahan suatu kurikulum.Wilayah itu bisa terjadi hanya pada satu sekolah/madrasah, satu kecamatan, kabupaten, kota atau mungkin tingkat provinsi atau tingkat nasional. Penetapan arena ini ditentukan oleh wewenang yang dimiliki oleh pengambil kebijakan dalam pengembangan kurikulum.
b. Menetapkan personalia, yaitu pihak-pihak yang akan terlibat dalam proses pengembangan kurikulum. Pihak-pihak yang harus dilibatkan dalam  proses pengembangan kurikulum itu terdiri dari para ahli/spesialis kurikulum, para ahli pendidikan termasuk didalamnya para guru yang dianggap berpengalaman, para profesional dan tenaga lain dalam bidang pendidikan seperti pustakawan, laboran dan konsultan pendidikan.
c. Menetapkan organisasi dan prosedur yang akan ditempuh yaitu dalam hal merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus, memilih isi dan pengalaman belajar serta menentukan evaluasi.
d. Implementasi kurikulum, pada tahap ini perlu dipersiapkan secara matang berbagai hal yang dapat berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap efektivitas penggunaan kurikulum seperti pemahaman guru tentang kurikulum, sarana atau fasilitas yang tersedia dan manajemen sekolah.
e. Melaksanakan evaluasi kurikulum yang menyangkut : (1) evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru di sekolah. (2) evaluasi terhadap desain kuriukulum (3) evaluasi keberhasilan belajar siswa (4) evaluasi dari keseluruhan sistem kurikulum.[13]

4). Model  Pengembangan Kurikulum Olivia
            Menurut Olivia suau model kurikulum harus bersifat sederhana, komprehensif dan sistematik. Langkah yang dikembangkan dalam kurikulum model ini terdiri atas 12 komponen yang satu sama lain saling berkaitan.
a. Menetapkan dasar filsafat yang digunakan dan pandangan tentang hakikat belajar dengan mempertimbangkan hasil analisis kebutuhan umum siswa dan kebutuhan masyarakat.
b. Menganalisis kebutuhan masyarakat dimana sekolah itu berada, kebtuhan khusus siswa dan urgensi dari disiplin ilmu yang harus diajarkan.
c. Merumuskan tujuan umum kurikulum yang didasarkan pada kebutuhan seperti tercantum pada langkah-langkah sebelumnya.
d. Merumuskan tujuan khusus kurikulum yang merupakan penjabaran dari tujuan umum kurikulum.
e. Mengorganisasikan rancangan implementasi kurikulum.
f. Menjabarkan kurikulum dalam bentuk perumusan tujuan umum pembelajaran.
g. Merumuskan tujuan khusus pembelajaran.
h. Menetapkan dan menyeleksi strategi pembelajaran yang dimungkinkan dapat mencapai tujuan pembelajaran.
i. Menyeleksi dan menyempurnakan tehnik penilaian yang akan digunakan.
j. Mengimplementasikan strategi pembelajaran
k. Mengevaluasi pembelajaran
l. Mengevaluasi kurikulum.
Menurut Olivia (1988) model pengembangan kurikulum dapat digunakan dalam tiga  dimensi, yaitu :
a. Bisa digunakan untuk penyempurnaan kurikulum sekolah dalam bidang-bidang khusus seperti mata pelajaran tertentu di sekolah atau madrasah, baik dalam tataran perencanaan kurikulum maupun dalam proses pembelajarannya.
b. Dapat digunakan untuk membuat keputusan dalam merancang suatu program kurikulum.
c. Dapat digunakan dalam mengembangkan program pembeklajaran secara lebih khusus[14]

2) Konsep Kurikulum
A)  Kurikulum Subjek Akademis (Subject Oriented Curriculum)
Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan. Belajar adalah berusaha menguasai ilmu sebanyak-banyaknya. Kurikulum sangat mengutamakan pengetahuan maka pendidikannya sangat bersifat intelektual, nama-nama mata pelajaran yang menjadi isi kurikulum hampir sama dengan nama disiplin ilmu, seperti bahasa dan sastra, geografi, matematika, ilmu kealaman, sejarah.[15]
Sekurang-kurangnya ada tiga pendekatan dalam perkembangan kurikulum subjek akademis yaitu:
a. Melanjutkan pendekatkan struktur pengetahuan.
b. Studi yang bersifat integratif.
c.   Pendekatan yang dilaksanakan pada sekolah-sekolah fundamentalis.

a. Ciri-ciri kurikulum subjek akademis
Kurikulum subjek akademis mempunyai beberapa ciri-ciri berkenaan dengan tujuan, metode, organisasi isi dan evaluasi. Tujuan kurikulum subjek akademis adalah pemberian pengetahuan yang solid serta melatih para siswa menggunakan ide-ide dan proses penelitian. Metode yang banyak digunakan dalam kurikulum subjek akademis adalah metode ekspositori dan inquiry. Sedangkan pola organisasi isi (materi pelajaran) kurikulum subjek akademis antara lain:
1. Correlated curriculum
2.  Unified atau concentrated curriculum
3.  Integrated curriculum
4.  Problem solving curriculum.
Tentang kegiatan evaluasi kurikulum subject akademis menggunakan bentuk evaluasi yang bervariasi disesuaikan dengan tujuan dan sifat mata pelajaran.

b.      Pemilihan disiplin ilmu
Masalah besar yang dihadapi oleh para pengembang kurikulum subjek akademis adalah bagaimana memilih mata pelajaran dari sekian banyak disiplin ilmu yang ada. Ada bebrapa saran untuk mengatasi masalah tersebut yaitu:

1. Mengusahakan adanya penguasaan yang menyeluruh dengan menekankan pada    bagaimana cara menguji kebenaran atau mendapatkan pengetahuan.
2. Mengutamakan kebutuhan masyarakat (social utility).
3. Menekankan pengetahuan dasar.
c.  Penyesuaian mata pelajaran dengan perkembangan anak
Para pengembang kurikulum subjek akademis, lebih mengutamakan penyusunan bahan secara logis dan sistematis dari pada menyelaraskan urutan bahan dengan kemampuan berfikir anak.
Untuk mengatasi kelemahan diatas dalam perkembangan selanjutnya dilakukan bebrapa penyempurnaan , pertama untuk mengimbangi penekanannya pada proses berfikir, kedua adnya upaya-upaya untuk menyesuaikan pelajaran dengan  perbedaan individu dan kebutuhan setempat, ketiga pemanfaatan fasilitas dan sumber yang ada pada masyarakat.

B) Kurikulum Humanistik
Kurikulum humanistik dikembangkan oleh para ahli pendidikan humanistik. Kurikulum ini berdasarkan konsep aliran pendidikan pribadi. Aliran ini lebih memberikan tempat utama kepada siswa. Mereka bertolak dari asumsi bahwa anak /siswa adalah yang pertama dan utama dalam pendidikan.[16]
Pendidikan humanistik menekankan peranan siswa oleh karena itu peran guru yang diharapkan adalah sebagai berikut :
1. Mendengar pandangan realitas peserta didik secara komperhensif.
2. Menghormati individu peserta didik.
3. Tampil alamiah, otentik dan tidak dibuat-buat.

a. Karakteristik kurikulum humanistik
Kurikulum humanistik mempunyai beberapa karakteristik berkenaan dengan tujuan, metode, organisasi isi dan evaluasi.
Kurikulum humanistik menuntut hubungan emosional yang baik antara guru dan murid. Evaluasi kurikulum humanistik berbeda dengan yang biasa lebih mengutamakan proses daripada hasil.

b. Kelemahan Kurikulum Humanistik
1) Keterlibatan emosional tidak selamanya berdampak positif bagi perkembangan individual peserta didik.
2) Meskipun kurikulum ini sangat menekankan individu peserta didik, pada kenyataannya disetiap program terdapat keseragaman peserta didik.
3) Kurikulum ini kurang memperhatikan kebutuhan masyarakat secara keseluruhan.
4) Dalam kurikulum ini prinsip-prinsip psikologis yang ada kurang terhubungkan.

C) Kurikulum Rekonstruksi Sosial (Social Recontruction Curriculum)
Kurikulum rekonstruksi sosial berbeda dengan model-model kurikulum lainnya. Kurikulum ini lebih memusatkan perhatian pada problema-problema yang dihadapinya dalam masyarakat. Kurikulum ini bersumber pada aliran pendidikan intrasksional.
Pandangan rekonstruksi sosial di dalam kurikulum dimulai sekitar tahun 1920. Harold Rug mulai melihat dan menyadarkan kawan-kawanya bahwa selama ini terjadi kesenjangan antara kurikulum dengan masyarakat. Ia menginginkan para siswa dengan pengetahuan dan konsep-konsep baru yang diperolehnya dapat mengidentifikasi dan memecahkan masalah-masalah sosial.

a. Ciri-ciri desain kurikulum ini adalah :
1. Asumsi
2. Masalah-masalah sosial yang mendesak
3. Pola-pola organisasi

b. Komponen-komponen kurikulum rekonstruksi sosial
1. Tujuan dan isi kurikulum
2. Metode
3. Evaluasi

Kegiatan yang dilakukan dalam kurikulum ini antara lain melibatkan :
1. Survey kritis terhadap suatu masyarakat.
2. Study yang melihat hubungan antara ekonomi local dengan ekonom nasional dan internasional
3. Studi pengaruh sejarah dan kecenderungan situasi ekonomi lokal.
4. Uji coba kaitan praktik politik dengan perekonomian
5. Berbagai pertimbangan perubahan politik.
6. Pembatasan kebutuhan masyarakat pada umumnya.[17]



PENUTUP
Kesimpulan
Ada tiga poin utama dalam makalah ini yaitu sebagai berikut:
1.    Organiasi Kurikulum
1) Pengertian
Organiasasi kurikulum ini merupakan struktur program kurikulum yang berupa kerangka umum program-program pengajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik
2) Kegunaan
Organisasi kurikulum dimaksudkan untuk memudahkan peerta didik dalam proses pembelajaran. Organisasi atau desain kurikulum bertalian erat dengan tujuan pendidikan yang akan dicapai
Pembagian organiasasi kurikulum diantaranya adalah  mata pelajaran terpisah (separated subject), mata pelajaran berkolerasi, bidang studi (broad field), program yang berpusat pada anak (child centered), inti masalah (core program), eclectic program.
2.    Komponen – komponen kurikulum
1) Tujuan Kurikulum
Tujuan kurikulum dirumuskan berdasarkan dua hal yaitu :
ü Perkembangan tuntutan, kebutuhan dari kondisi masyarakat
ü Berdasarkan pemikiran – pemikiran dan terarah pada pencapaian nilai – nilai filosofis
2) Bahan Ajar
Bahan Ajar disusun secara logis dan sistematis, dalam bentuk:
Teori                       Istilah
Generalisasi            Contoh/ilustrasi
Prinsip                    Definisi
Prosedur                 Preposisi
Fakta
3) Proses Pembelajaran dan strategi belajar
Perencanaan yang berisi tentang rangaian kegiatan yang didesai untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu
4) Evaluasi 
Evaluasi  berfungsi untuk mengetahui apakah tujuan yang ditetapkan telah tercapai atau belum dan digunakan sebagai uman balik dalam perbaikan strategi yang ditetapkan
3.    Model – model konsep kurikulum
Model kurikulum Zais terdiri dari model administratif dan model akar rumput (Grassroots Approach)
Konsep kurikulum terdiri dari kurikulum subjek akademis (Subject Oriented Curriculum), kurikulum humanistik dan kurikulum rekonstruksi sosial (Social Recontruction Curriculum).


DAFTAR PUSTAKA

Hamdani Hamid.2013.Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Bandung : Pustaka Setia
Muhaimin.1991.Konsep Pendidikan Islam. Solo : CV Ramadhani
Nana  Syaodih  Sukmadinata.2009. Pengembangan Kurikulum. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Oemar Hamalik. 2008. Dasar-Dasar  Pengembangan  Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sholeh Hidayat.2013. Pengembangan Kurikulum Baru. Bandung : PT Remaja Rosdakarya



[1] Muhaimin.1991.Konsep Pendidikan Islam. Solo : CV Ramadhani. hlm. 41
[2] Hamdani Hamid.2013.Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Bandung : Pustaka Setia. hlm.149
[3] Oemar Hamalik.2008. Dasar-Dasar  Pengembangan  Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. hlm. 155
[4] Oemar Hamalik. 2008. Dasar-Dasar  Pengembangan  Kurikulum. hlm. 156-160
[5] Sholeh Hidayat.2013. Pengembangan Kurikulum Baru. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. hlm. 67
[6] Sholeh Hidayat.2013. Pengembangan Kurikulum Baru. hlm. 68
[7] Sholeh Hidayat. 2013. Pengembangan Kurikulum Baru. hlm. 53
[8] Nana Syaodih Sukmadinata. 2009. Pengembangan KurikulumBandung: PT Remaja Rosdakarya. hlm.102-105
[9] Sholeh Hidayat. 2013. Pegembangan Kurikulum Baru. hlm 64-67
[10] Sholeh Hidayat.2013. Pengembangan Kurikulum Baru. hlm. 68-79
[11] Sholeh Hidayat.2013. Pengembangan Kurikulum Baru. hlm.80-81
[12] Sholeh Hidayat.2013. Pengembangan Kurikulum Baru. hlm.82
[13] Sholeh Hidayat.2013. Pengembangan Kurikulum Baru. hlm.84-85

[14] Sholeh Hidayat.2013. Pengembangan Kurikulum Baru. hlm. 85-86
[15] Nana Syaodih Sukmadinata.2009. Pengembangan Kurikulum. hlm. 81
[16] Oemar Hamalik.2008. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. hlm.44
[17] Nana Syaodih Sukmadinata.2009. Pengembangan Kurikulum. hlm.88




Demi pengembangan makalah ini kami selaku penyusun makalah mengharapkan penilaian, masukan saran dari para pembaca sekalian, silahkan ketik di kolom komentar,terima kasih

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Makalah Dasar - Dasar Pengembangan Kurikulum Kelompok 7"

Posting Komentar