Motivasi Menulis

Makalah Dasar - Dasar Pengembangan Kurikulum Kelompok 6

Karakteristik Peserta Didik
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Mata Kuliah Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum







Disusun Oleh  :
Kelompok 6
                      Tri Firnawati                (1608101006)
                      Mantiqul Badiul B.      (1608101028)
                     Suci Alvisahr                (1608101036)
Dosen Pengampu :
Dr. H . Nawawi, M.Pd
Jurusan/Kelas/Semester : PAI/A/III
2017
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekhnurjati Cirebon
Jl.Perjuangan By Pass Sunyaragi Cirebon



KATA PENGANTAR
Segala puji kita panjatkan kehadirat Allah SWT, shalawat dan salam mudah-mudahan senantiasa terlimpah curahkan pada panutan kita Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya sampai akhir zaman. Alhamdulillah dengan rahmat Allah SWT, tugas terstruktur mata kuliah “Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum” dengan judul “ Karakteristik peserta didik” ini telah selesai.
Kami  menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, masih banyak kekurangan. Kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan tugas  ini.
          Atas segala kekurangannya kami ucapkan mohon maaf dan semoga kita mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya. Aamiin




                                      Cirebon,  22 Oktober 2017
                                   


Kelompok 6


Daftar Isi
KATA PENGANTAR................................................................... 2
DAFTAR ISI.................................................................................. 3
BAB I PENDAHULUAN............................................................. 4
A. Latar Belakang ......................................................................... 4
      B. Rumusan Masalah..................................................................... 4
                         C. Tujuan................................................................................ ....... 4
BAB II PEMBAHASAN
A.    Aspek fisik ........................................................................ 5
B.     Aspek Moral dan Spritual ................................................. 8
C..   Aspek Sosial  ................................................................. 11
       D.  Aspek emosional ............................................................. 13
       E.   Aspek inteligensi ............................................................ 17
BAB III PENUTUP
                        Kesimpulan................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA.................................................................. 21










BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Setiap peserta didik memiliki kemampuan yang berbeda-beda untuk itu kita sebagai calon guru harus mengetahui telebih dahulu karekter-karekter yang dimiliki peserta didik agar kita bisa mengkontrol peserta didik dan menjadi guru yang beshasil.
Banyak guru yang tidak mengetahui karekter peserta didik dan tidak mengontrol hanya mengajarkan materi terus sudah seperti tidak ada tanggungan lagi.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaiman karakter peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial ?
2.      Bagaimana karakter peserta didik dari aspek sosial dan emosional dan inteligensi ?
C.    TUJUAN 
1.    Untuk Mengetahui karakter peserta didik dari aspek fisik, moral,   sosial ?
2.    Untuk mengetahui karakter peserta didik dari aspek sosial dan emosional dan inteligensi ?









BAB II
PEMBAHASAN
A.       Aspek Fisik
Pertumbuhan fisik adalah perubahan-perubahan fisik yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan peserta didik. Pertumbuhan adalah perubahan fisiologis yang bersifat progresif dan kontinu dan berlangsung dalam periode tertentu. Pertumbuhan ini meliputi perubahan perubahan progresif yang bersifat internal maupun eksternal. Perubahan internal antara lain, meliputi perubahan ukuran alat pencernaan makanan, bertambah besarnya dan berat jantung dan paru-paru, serta bertambah sempurnanya sistem kelenjar endoktrin/kelamin dan berbagai jaringan tubuh. Adapun perubahan eksternal meliputi bertambahnya tinggi badan, bertambahnya lingkar tubuh. [1]
Berkaitan dengan perkembangan fisik, Kuhlen dan Thompson (Hurlock, 1956) mengemukakan bahwa perkembangan fisik individu meliputi empat aspek, yaitu:
Ø  Sistem syaraf, yang sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan dan emosi
Ø  Otot-otot, yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan kemampuan motorik
Ø  Kelenjar endoktrin, yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku baru
Ø  Struktur fisik/tubuh, yang meliputi tinggi, berat, dan proporsi
Aspek fisiologis yang sangat penting bagi kehidupan manusia adalah otak (brain). Otak dapat dikatakan sebagai pusat atau sentral perkembangan dan fungsi kemanusiaan. Fungsi otak, dapat dibedakan berdasarkan kedua belahan otak tersebut, yaitu belahan kiri dan kanan. Fungsi kedua otak tersebut diantaranya:[2]
       Fungsi otak kiri:
Ø  Berpikir rasional, ilmiah, logis, kritis, linier, analitis, referensial, dan konvergen.
Ø  Berkaitan erat dengan kemampuan belajar membaca, berhitung dan bahasa.
Fungsi otak kanan:
Ø  Berpikir holistik, non-linier, non-verbal, intuitif, imajinatif, non-referensial, divergen dan bahkan mistik.
Otak mempunyai pegaruh yang sangat menentukan bagi perkembangan aspek-aspek perkembangan individu lainnya, baik keterampilan motorik, intelektual, emosional, sosial, moral maupun kepribadian. Pertumbuhan otak yang normal (sehat) berpengaruh positif bagi perkembangan aspek-aspek lainnya. Sedangkan apabila pertumbuhannya tidak normal (karena pengaruh penyakit atau kurang gizi) cenderung akan menghambat perkembangan aspek-aspek lainnya.
Semakin matangnya perkembangan sistem syaraf otakyang mengatur otot memungkinkan berkembangnya kompetensi atau keterampilan motorik anak. Keterampilan motorik anak dibagi menjadi dua jenis diantaranya:
Ø  Keterampilan atau gerakan dasar, seperti berjalan, berlari, melompat, naik dan turun tangga.
Ø  Keterampilan motorik halus, seperti menulis, menggambar, memotong, melempar, dan menangkap bola, serta memainkan benda-benda atau alat-alat mainan.
Perkembangan keterampilan motorik merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangan pribadi secara keseluruhan. Elizabeth Hurlock (1956) mencatatat beberapa fungsi perkembangan motorik, diantaranya :[3]
Ø  Melalui keterampilan motorik anak dapat menghibur dirinya dan memperoleh perasaan senang.
Ø  Melalui keterampilan motorik, anak dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekolah.
Ø  Melalui perkembangan motorik yang normal memungkinkan anak dapat bermain dan bergaul dengan teman sebayanya.
Seiring dengan perkembangan motorik, bagi anak pra sekolah (taman kanank-kanak) atau anak SD, tepat sekali diajarkan atau dilatihkan tentang hal-hal berikut:
Ø  Dasar-dasar keterampilan untuk menulis (huruf arab, latin, dan menggambar).
Ø  Keterampilan berolah raga (sepeti senam) atau menggunakan alat-alat olah raga.
Ø  Gerakan-gerakan permainan, seperti meloncat, memanjat, dan berlari.
Ø  Baris berbaris secara sederhana untuk menanamkan kebiasaan kedisiplinan dan ketertiban.
Ø  Gerakan-gerakan ibadah sholat.
Faktor-faktor yang Memengaruhi Pertumbuhan Fisik:[4]
1.                  Faktor Internal, adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu, yaitu:
Ø  Sifat jasmaniah yang diwariskan dari orang tuanya, anak yang ayah dan ibunya bertubuh tinggi cenderung lebih lekas menjadi tinggi dari pada anak yang berasal dari orang tua yang bertubuh pendek.
Ø  Kematangan, Secara sepintas, pertumbuhan fisik seolah-lah seperti sufah direncanakan oleh faktor kematangan. Meskipun anak itu sudah diberi makanan yang bergizi tinggi. Tetapi kalau saat kematangan belum sampai, pertumbuhan akan tertunda. Misalnya, anak berumur tiga bulan diberi makanan yang cukup bergizisupaya pertumbuhan otot kakinya berkembang sehingga mampu untuk berjalan, ini tidak mungkin berhasil sebelum mencapai umur lebih dari sepuluh bulan.
2.         Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar anak, yaitu:
Ø  Kesehatan, anak yang sering sakit-sakitan pertumbuhan fisiknya akan terhambat.
Ø  Makanan, anak yang kurang gizi pertumbuhannya akan terhambat, sebaliknya yang cukup gizi pertumbuhannya pesat.
Ø  Stimulasi lingkungan, individu yang tubuhnya sering dilatih untuk meningkatkan percepatan tumbuhannya akan berbeda dengan tidak pernah mendapat latihan.
Upaya Membantu Pertumbuhan Fisik dan Implikasinya Bagi Pendidikan
Dalam batas-batas tertentu, percepatan pertumbuhan fisik dapat dibantu dengan berbagai usaha atau stimulasi secara sistematis, antara lain:[5]
Ø  Menjaga kesehatan
Ø  Member makanan yang baik
Implikasinya bagi pendidikan adalah perlunya memperhatikan faktor-faktor berikut ini:[6]
Ø  Sarana dan prasarana
Ø  Waktu istirahat
Ø  Diadakannya jam-jam olah raga bagi para siswa
B.       Aspek Moral dan Spritual
Istilah moral berasal dari kata latin mores yang artinya tata cara dalam kehidupan, adat istiadat, atau kebiasaan (Gunarsa, 1986). Moral pada dasarnya merupakan rangkaian nilai tentang berbagai macam perilaku yang harus dipatuhi (Shaffer, 1979). Moral merupakan kaidah norma dan pranata yang mengatur perilaku individu dalam hubungannya dengan kelompok sosial dan masyarakat.[7]
Pendidikan moral merupakan bagian lingkungan yang berpengaruh, dirancang secara sengaja untuk mengembangkan dan mengubah cara berpikir dan bertindak dalam situasi moral. Sebagaimana pendidikan pada umumnya, pendidikan moral dilakukan di sekolah dan di luar sekolah untuk kelompok laki-lakidan perempuan (Thomas, 1986: 349; Ryan, 1985). Dinyatakan bahwa segala yang diprogramkan sekolah bertujuan untuk membantu anak berpikir tentang isu-isu yang benar dan salah, baik dan buruk, mengharapkan perbaikan sosial, serta membantu siswa agar mampu berperilaku berdasarkan moral-moral.[8]
Moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip moral. Nilai-nilai moral tersebut diantaranya:[9]
Ø  Seruan untuk bebuat baik kepada orang lain, memelihara ketertiban dan keamanan, memelihara kebersihan dan memelihra hak orang lain.
Ø  Larangan untuk mencuri, berzina, membunuh, meminum keras dan berjudi.
Seseorang dapat dikatakan bermoral, apabila tingkah laku orang tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh sekelompok sosialnya.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Moral
Perkembangan moral seorang anak banyak dipengaruhi oleh lingkungannya. Anak memperoleh nilai-nilai moral dari lingkungannya, terutama dari orang tuanya. Dia belajar untuk mengenal nilai-nilai dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Dalam mengembangkan moral anak, peranan orang tau sangatlah penting, terutama pada waktu anak masih kecil. Beberapa sikap orang tua yang perlu diperhatikan sehubungan dengan perkembangan moral anak, diantaranya:[10]
Ø  Konsisten dalam mendidik anak
Ø  Sikap orang tua dalam keluarga
Ø  Penghayatan dan pengamalan agama yang dianut
Ø  Sikap konsistet orang tua dalam menerapkan norma
Proses Perkembangan Moral
Perkembangan moral anak dapat berlangsung melalui beberapa cara, antara lain:[11]
Ø  Pendidikan langsung, yaitu melalui pnanaman pengertian tentang tingkah laku yang benar dan salah, atau baik dan buruk oleh orang tua, guru atau orang dewasa lainnya. Disamping itu, yang paling penting dalam pendidikan moral ini, adalah keteladanan dari orang tua, guru atau orang dewasa lainnya dalam melakukan nilai-nilai moral.
Ø  Identifikasi,  yaitu dengan cara mengidentifikasi atau meniru penamoilan atau tingkah laku moral seseorang yang menjadi idolanya (seperti orang tua, guru, kyai, artis atau orang dewasa lainnya).
Ø  Proses coba-coba, yaitu dengan cara mengembangkan tingkah laku moral secara coba-coba.Tingkah laku yang mendatangkan pujian atau penghargaan akan terus dikembangkan, sementara tingkah laku yang mendatangkan hukuman atau celaan akan dihentikan.
Teori Pendidikan Moral
Dewey (dalam Kihlberg, 1977) menyatakan bahwa pada dasarnya pendidikan adalah mengembangkan kemampuan intelektual dan moral. Shaver (1972) mengemukakan bahwa sekolag sebagai lembaga pendidikan bertanggung jawab untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan kecakapan siswa dalam menetapkan suatu keputusan untuk bertindak atau untuk tidak bertindak. Goods (1945) menyatakan bahwa pendidikan moral dapat dilakukan secara formal maupun insidental, baik disekolah maupun dilingkungan rumah.[12]
Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa pendidikan adalah suatu sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Selanjutnya pasal 3 menegaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peseta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demikratis serta bertanggung jawab.
Konsep dan tujuan pendidikan pendidikan nasional Indonesia jauh lebih sempurna dari sekadar kemampuan intelektual dan moral. Hal ini dikarenakan tujuan tercapainya kemampuan intelektual dan moral sebagaimana yang dikehendaki oleh Dewey sudah tercakup di dalam nilai kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, dan akhlak mulia. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa negara kita merupakan negara yang mengakui pentingnya moralitas dan terselenggaranya pendidikan yang bermoral disekolah maupun dilingkungan masyarakat luas, yakni di rumah, di tempat-tempat ibadah seperti majelis taklim di masjid, bahkan melalui televisi yang disiarkan secara bebas dan menjangkau masyarakat luas.[13]
C.                Aspek Sosial
Sueann Robinso Ambron (1981) mengartikan sosialisasi itu sebagai proses belajar yang membimbing anak ke arah perkembangan kepribadian sosial sehingga dapat menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan efektif.
Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi lingkungan sosialnya baik orang tua, sanak keluarga, orang dewasa dan lainya atau teman sebayanya. Apabila lingkunga sosial tersebut memfasilitasi tau memberikan peluang terhadap perkrmbangan anak secara positif, maka anak akan dapat mencapai perkembangan sosial secara matang. .[14]
Faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan hubungan sosial.
Proses sosialisasi individu terjadi di tiga lingkungan utama.
1.      Lingkungan keluarga.
2.      Lingkungan sekolah.
3.      Lingkungan masyarakat.
Lingkungan keluarga.
Faktor dari dalam keluarga yang sangat dibutuhkan oleh anak dalam proses perkembangan sosialnya yaitu, kebutuhan akan rasa aman, dihargai, disayangi, diterima, dan kebebasan untuk menyatakan diri.
Manusia normal, baik anak maupun orang dewasa senantiasa membutuhkan penghargaan atau dihargai oleh orang lain. Oleh karena itu, mempermalukan anak di depan orang banyak merupakan pukulan jiwa yang sangat berat dan dapat berakibat buruk bagi perkembangan sosial anak, dalam aspek psikologis, anak dapat terhambat atau bahkan tertekan, kan tetapi ketika memberikan pujian kepada anak secara tepat adalah sangat baik. Cara ini akan dapat menimbulkan perasaan disayang oleh orang tuanya adalah suatu yang sangat penting karena anak akan merasa seperti disayang oleh keluarganya.
Lingkungan Sekolah
            Kehadiran di sekolah merupakan perluasan lingkungan sosialnya dalam proses sosialisasinya dan sekaligus merupakan faktor lingkungan baru yang sangat menantang atau bahkan mencemaskan dirinya. Ada emapat tahap proses penyesuaian diri yang harus dilalui oleh anak selama membangun hubungan sosialnya, yaitu sebagai berikut.
1.      Anak dituntut agar tidak merugikan orang lain serta menghargai dan menghormati hak orang lain.
2.      Anak didik untuk menaati peraturan-peraturan dan menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok.
3.      Anak dituntut untuk lebih dewasa di dalam melakukan interaksi sosial berdasarkan asas saling memberi dan menerima.
4.      Anak dituntut untuk memahami orang lain.`
Selama proses penyesuaian diri, sangat mungkin terjadi anak menghadapi konflik yang dapat berakibat pada terhambatnya perkembangan sosial mereka. Sekolah juga sangat penting bagi perkembangan sosial anak karena sekolah merupakan tempat kesehariannya. Hubungan sosial tersimpul dalam interaksi antar guru dengan siswa, siswa dengan siswa, keteladanan perilaku guru.
Lingkungan Masyarakat
Peran masyarakat sangatlah besar seiring dengan perkembanagan psikologi anak. Kehidupan dalam masyarakat yang kondusif juga sangat diharapkan kemunculannya bagi perkembangan sosial.
Perkembangan individu terjadi dalam segala macam hubungan dan pengalaman, termasuk varisi kebudayaan dan sosial yang ada dalam masyarakat. Suatu contoh, suatu sistem kebudayaan yang sangat memetingkan kejujuran dan hormat kepada orang tua, maka anak akan dengan sendirinya akan mengikuti lingkungannya. Begitu dengan sebaliknya kebudayaan yang buruk akan berdampak buruk juga terhadap anak. [15]




D.                Aspek Emosional
Daniel Goleman (1995) mengatakan bahwa emosi merajuk kepada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.
Hubungan antara emosi dan tingkah laku
            Melalui teori kecerdasan emosional yang dikembangkannya, Daniel Golmen  mengemukakan sejumlah ciri utama pikiran emosional sebagai bukti bahwa emosi memainkan peranan penting dalam pola berpikir maupun tingkah laku individu. Adapun ciri utama pikiran emosional tersebut adalah  sebagai berikut.
1.      Respon yang cepat tetapi ceroboh
Pikiran emosional sesungguhnya langsung melompat bertidak tanpa mempertimbangkan apapun yang akan dilakukannya. Karena kecepatan itu sehingga sikap hati-hati dan proses analistis alam berpikir dikesampingkan begitu saja sehingga tidak jarang menjadi ceroboh
2.      Mendahulukan  perasaan kemudian pikiran
Pada dasarnya, pikiran rasional sesungguhnya membutuhkan waktu sedikit lama dibandingkan dibandingkan pikiran emosional sehingga dorongan yang lebih dahulu muncul adalah dorongan hati dan emosi kemudian dorongan pikiran. Dalam urutan respon yang cepat , perasaan mendahului atau minimal berjalan serempak dengan pikiran. 
3.      Masa lampau diposisikan sebagai masa sekarang
Dari sudut pandang ini, apabila sejumlah ciri sesuatu peristiwa tampak serupa dengan kenangan masa lampau yang mengandung muatan emosi maka pikiran emosional akan menanggapinya dengan memicu perasaan yang berkaitan dengan peristiwa yang diingat.pikiran emosional bereaksi terhadap keadaan sekarang seolah-olah keadaan itu adalah masa lampau. Kesulitannya adalah terutama apabila penilaian terhadap masa lampau itu cepat dan otomatis, barangkali kita tidak menyadari bahwa yang dulu memang begitu, sekarang sudah tidak lagi seperti itu. Dalam konteks ini, sigmuntd Freud melukiskan dengan bagus sekali, yaitu bahwa seseorang yang pada masa kanak-kanak sering mendapat pukulan yang menyakitkan. Setelah dewasa akan bereaksi terhadap hardikan atau kemarahan dengan perasaa sangat takut atau kebencian, meskipun sebenarnya hardikan atau kemarahan itu tidak lagi menimbulkan ancaman seperti yang dialaminya pada masa lampau.
4.      Realitas yang ditemukan keadaan
Pikiran emosional individu banyak ditentukan oleh keadaan dan di tekan oleh perasaan tertentu yang sedang menonjol pada saat itu. Cara seseorang berpikir dan bertindak pada saat merasa senang dan romantis akan sangat berbeda dengan perilakunya ketika sedang dalam keadaan sedih, marah, atau cemas. Dalam mekanisme emosi itu ada repertoar pikiran, reaksi, bahkan ingatannya sendiri.repertoar menjadi sangat menonjol pada saat disertai itensitas emosi yang tinggi. 
Selain teori kecerdasan emosional yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan atau pengaruh emosi terhadap tingkah laku, ada juga sejumlah teori emosi yang lain yang juga menjelaskannya. Adapun teori-teori tersebut adalah sebagai berikut.
a.       Teori sentral
Teori ini dikemukakan oleh walter B.canon. menurut teori ini, gejala kejasmanian termasuk tingkah laku merupakan akibat dari emosi yang dialami oleh individu jadi, individu mengalami emosi lebih dahulu, baru kemudian mengalami perubahan-perubahan dalam jasmaninya. Dengan demikian, menurut teori ini dapat dikatakan bahwa emosional yang menimbulkan tingkah laku, dan bukan sebaliknya.
b.      Teori Peripheral
Dikemukakan oleh James dan Lange . menurut teori ini diktakan bahwa gejal- gejala kejasmanian atau tingkah laku seseorang bukanlah merupakan akibat dari emosi, melaikan emosi yng dialami oleh individu itu sebagai akibat dari gejala-gejala kejasmanian. Menurut teori ini seseorang bukannya karena takut kemudian lari, melainkan karena leri menyebabkan seseorang menjadi takut demikian juga, seseorang bukan menangis karena sedih, tetapi karena  menangis, ia menjadi sedih. Seandainya seseorang itu tidak menangis, kemungkinan tidak akan menjadi teramat sedih. Dengan demikian, menurut teori ini dapat dikatakan bahwa tingkah laku yang menimbulkan emosi, dan bukan sebaliknya (chaplin,1989:264). 
c.       Teori kepribadian
Menurut teori ini, emosi merupakan suatu aktivitas pribadi dimana pribadi ini tidak dapat dipisah-pisahkan. Oleh karena itu, emosi meliputi perubahan-perubahan jasmani.
d.      Teori kedaruratan emosi
Teori ini dikemukakan oleh Cannon. Teori ini mengemukakan bahwa relaksi yang mendalam dari kecepatan jantung yang semakin bertambah akan menambah capatnya aliran darah menuju ke urat-urat, hambatan pada pencernaan, pengembangan atau pemuaian kentung-kantung di dalam paru-paru dan proses lainnya yang mencirikan secara khas keadaan emosional seseorang.  Perbuatan atau tingkah laku seseorang merupakan akibat dari emosi yang dialami orang tersebut. Hubungan motivasi dengan motivasi adalah karena termotivasi, seseorang kemudian mengalami emosi yang pada akhirnya berbuat sesuatu atau bertingkah laku tertentu.[16]
Ciri-ciri emosi
1.      Lebih bersifat subjektif dari pada peristiwa psikologis lainnya, seperti pengamatan dan berpikir.
2.      Bersifat fluktuatif (tidak tetap)
3.      Banayak bersangkut paut dengan peristiwa pengenalan panca indra.[17]
E.                 Aspek Inteligensi
C.P Chaplin (1975) mengartikan inteligensi itu sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif .
Beberapa ciri yang berhubungan dengan tingkatan intelegensi serta pengaruhnya terhadap proses belajar ( Nana SY. Dan M. Surya, 1975).
a.       Idiot IQ: 0-29. Idiot merupakan kelompok individu terbelakang yang paling rendah. Tidak dapat berbicara atau hanya dapat mengucapkan beberapa kata saja. Biasanya , tidak dapat mengurus dirinya sendiri, seperti mandi, berpakaian, makan dan sebagainya, dia harus diurus oleh orang lain.
b.      Imbecile IQ: 30-40. Kelompok ini setingkat lebih tinggi dari anak idiot. Ia dapat belajar berbahasa, dapat mengurus dirinya sendiri dengan pengawasan yang teliti. Pada hal ini dapat diberikan latihan-latihan ringan tetapi dalam kehidupannya selalu bergantung pada orang lain, tidak berdiri sendiri/ mandiri. Kecerdasannya sama dengan anak normal berumur 3 tahun sampai 7 tahun. Anak ini tidak bisa didik disekolah-sekolah biasa.
c.       Moron atau debil IQ: 50-69. Kelompok ini sampai tingkat tertentu dapat belajar membaca, menulis, dan membuat perhitungan-perhitungan sederhana, dapat diberikan pekerjaan rutin tertentu yang tidak memerlukan perencanaan dan pemecahan.
d.      Kelompok bodoh IQ:70 – 79. Kelompok ini berada di atas kelompok terbelakang dan di bawah kelompok normal (sebagai batas). Secara berusaha payah dengan beberapa hambatan, individu tersebut dapat melaksanakan sekolah lanjutan pertama tetapi sukar sekali untuk dapat menyelesaikan kelas-kelas terakhir di sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).
e.        Normal rendah IQ: 80-89. Kelompok ini termasuk kelompok normal, rata- rata atau sedang tetapi pada tingkat terbawah, mereka agak lambat belajarnya.
f.       Normal sedang IQ: 90-109. Kelompok ini merupakan kelompok yang normal atau rata-rata.
g.      Normal tinggi IQ: 110-119. Kelompok ini merupakan kelompok individu  yang normal tetapi berada pada tingkat yang tingkat.
h.      Cerdas IQ: 120-129, kelompok ini sangat berhasil dalam pekerjaan sekolah/ akademik.
i.        Sangat cerdas IQ: 130-139. Anak-anak ini lebih cakap dalam membaca, mempunyai pengetahuan tentang bilangan yang sangat baik`
j.        Genius IQ: 140 keatas. Kelompok ini kemampuannya sangat luar biasa. Mereka pada umumnya memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah dan menemukan sesuatu yang baru, walaupun mereka tidak bersekolah. Kelompok ini berada dalam semua ras dan bangsa, dalam semua tingkat ekonomi, baik laki-laki atau perempuan. Contoh orang-orang genius ini adalah Edison dan Einstein.
Pandangan lama menunjukan bahwa kualitas intelegensi atau kecerdasan yang tinggi dipandang sebagai faktor yang memengaruhi keberhasilan individu dalam belajar atau meraih kesuksesan dalam hidupnya. Namun baru-baru ini, telah berkembang pandangan lain yang menyatakan bahwa faktor yang paling dominan mempengaruhi keberhasilan (kesuksesan) individu dalam hidupnya bukan semata-mata ditentukan oleh tingginya kecerdasan intelektual, tetapi oleh faktor kemantapan emosional yang oleh ahlinya. Kecerdasan emosional ini merujuk kepada kemampuan-kemampuan menganddalkan diri, memotivasi diri.[18]


BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
1.      Karakter peserta didik berbeda-beda diantaranya adalah aspek fisik, moral, sosial, emosional dan inteligensi.
2.       Aspek fisik  adalah pertumbuh dan berkembanganya peserta didik dari segi internal dan eksternal.
3.       Pendidikan moral merupakan bagian lingkungan yang berpengaruh, dirancang secara sengaja untuk mengembangkan dan mengubah cara berpikir dan bertindak dalam situasi moral.
4.      Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa pendidikan adalah suatu sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Selanjutnya pasal 3 menegaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peseta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demikratis serta bertanggung jawab. Pasal ini ada terkaitannya dengan moral, seprti berakhlak mulia.
5.      Aspek sosial meliputi 3 lingkungan, yaitu lingkungan rumah, lingkungn sekolah, dan lingkungan masyarakat. Lingkungan sosial sangatlah berpengaruh terhadap karakteristik peserta didik karena peserta didik kesehariannya hidup dilingkungan yang disebutkan di atas.
6.      Aspek emosional. Daniel Goleman (1995) mengatakan bahwa emosi merajuk kepada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.
7.      Aspek inteligensi. Aspek ini mengenai kecerdasan setiap manusia.





















DAFTAR PUSTAKA

Mohammad Ali dan Mohammad Asrori. 2004. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Bumi Aksara.
Sjarkawi. 2006. Pembentukan Kepribadian Anak. Jakarta: Bumi Aksara.
Syamsu Yusuf. 2001. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya.





[1] Mohammad Ali dan Mohammad Asrori. 2004. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Bumi Aksara. Hal. 20
[2] Syamsu Yusuf. 2001. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya. Hal 101-103
[3] Ibid. hal. 105
[4] Mohammad Ali dan Mohammad Asrori. 2004. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Hal. 21

[5] Ibid. hal. 22
[6] Ibid. hal. 23
[7] Ibid. hal. 136
[8] Sjarkawi. 2006. Pembentukan Kepribadian Anak. Jakarta: Bumi Aksara. Hal. 42
[9] Syamsu Yusuf. 2001. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Hal. 132
[10] Ibid. hal. 133
[11] Ibid. hal. 144
[12] Sjarkawi. 2006. Pembentukan Kepribadian Anak. Hal. 42
[13] Ibid. Hal. 43
[14] Syamsu Yusuf. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Hal.122-125
[15] Mohammad Ali dan Mohammad Asrori. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Hal. 94-104
[16] Ibid.hal. 62-67
[17] Syamsu Yusuf. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Hal.116
[18] Syamsu Yusuf. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Hal.106-113


Demi pengembangan makalah ini kami selaku penyusun makalah mengharapkan penilaian, masukan saran dari para pembaca sekalian, silahkan ketik di kolom komentar,terima kasih

Postingan terkait:

2 Tanggapan untuk "Makalah Dasar - Dasar Pengembangan Kurikulum Kelompok 6"