Motivasi Menulis

Makalah Dasar - Dasar Pengembangan Kurikulum Kelompok 1

Landasan dan Prinsip Pengembangan Kurikulum
Disusun untuk memenuhi  Tugas Terstruktur
Mata kuliah Dasar – dasar Pengembangan Kurikulum
Dosen Pengampu :
Dr. Nawawi, M.Pd



Disusun oleh PAI-A/3
  kelompok 1:
Apriyida Jurmiati                            1608101001
Fajri Baha Uzzad                            1608101021
Prasetio                                           1608101035
Sintiya Rahayu                               1608101013
                                

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI CIREBON
TAHUN AKADEMIK 2017/2018





KATAPENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan Tugas Terstruktur Mata kuliah Dasar – dasar Kurikulum , shalawat serta salam semoga Allah tetap melimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Kepada keluarganya, sahabatnya, serta kepada kita selaku umatnya.
Makalah ini membahas tentang “Landasan Filosofis dan Landasan Teologisserta Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum.  ucapan terima kasih kepada Allah Yang Maha Esa, yang telah memudahkan dalam pembuatan Makalah ini.Orang tua, yang telah mendoakan dan memberikan dukungan berupa materi dan nonmateri. Dr. Nawawi, M.Pd sebagai dosen Mata kuliah Dasar – dasar Kurikulum, yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam pembuatan Makalah ini.Rekan-rekan mahasiswa, yang telah membantu dalam bentuk apapun.
Atas rahmat dan karunia-Nya kami bisa menyelesaikan Makalah ini dengan berusaha semaksimal mungkin, akan tetapi kami menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, karena itu kami menerima kritik dan saran yang membangun, agar kami bisa lebih baik lagi dalam pembuatan Makalah selanjutnya.





Cirebon, 20 September 2017


Penyusun,



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
I.          PENDAHULUAN........................................................................................ 1
A.    Latar Belakang.......................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah..................................................................................... 1
C.     Tujuan Penulisan....................................................................................... 2
II.       PEMBAHASAN........................................................................................... 3
A.    Pengertian Kurikulum dan Pengembangan Kurikulum............................. 3
B.     Landasan dalam Pengembangan Kurikulum............................................. 4
C.     Prinsip – prinsip Pengembangan Kurikulum............................................. 12
III.    PENUTUP.................................................................................................... 16
A.    Kesimpulan................................................................................................ 16
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 17


                                                                             BAB I                              
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Kurikulum sebagai salah satu komponen pendidikan yang sangat berperan dalam mengantarkan pada tujuan pendidikan yang diharapkan, harus mempunyai landasan-landasan dan prinsip yang merupakan kekuatan utama yang mempengaruhi dan membentuk materi kurikulum, susunan dan organisasi kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum ada beberapa landasan, diantaramya landasan yuridis, landasan teoritik, landasan empiris, landasan filosofis dan landasan teologis.
Landasan teologis diartikan pula sebagai dasar religious yang memberikan nilai terhadap semua materi yang ada dalam kurikulum. Landasan filosofis berperan sebagai penentu tujuan umum pendidikan. Sedangkan dasar sosiologis berperan memberikan dasar untuk memberikan dasar untuk menentukan apa saja yang akan dipelajari sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kebudayaan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sementara, dasar organisatoris berfungsi memberikan dasar-dasar dalam bentuk bagaimana bahan pelajaran itu disusun, dan bagaimana penentu luas serta urutan mata pelajarannya. Selanjutnya dasar psikologis berperan memberikan berbagai prinsip-prinsip tentang perkembangan peserta didik dalam berbagai aspeknya, serta cara menyampaikan bahan ajar agar dapat dicerna dan dikuasai oleh peserta didik sesuai dengan tahap perkembangannya.
Dalam makalah ini hanya akan dibahas mengenai landasan filosofis dan teologis serta prinsip-prinsip pengembangan kurikulum.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Kurikulum?
2.      Bagaimana landasan Teologi mengenai Pengembangan Kurikulum?
3.      Bagaimana landasan Filosofis mengenai Pengembangan Kurikulum?
4.      Bagaimana prinsip – prinsip  mengenai kurikulum?

C.     Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui apa yang dimaksud dengan kurikulum.
2.      Mengetahui landasan Teologi mengenai Pengembangan Kurikulum.
3.      Mengetahui landasan Filosofis mengenai Pengembangan Kurikulum.
4.      Mengetahui prinsip-prinsipapa saja yang ada didalam kurikulum.





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Kurikulum
Istilah kurikilum berasal dari bahasa latin. Kata currir bermakna pelari dan curere memiliki makna tempat berpacu. Pada awalnya, kedua istilah tersebut digunakan dalam dunia olahraga. Pada saat itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai finis untuk memperoleh medali atau penghargaan. Kemudian, pengertian tersebut diterapkan dalam dunia pendidikan menjadi sejumlah mata pelajaran (subject) yang harus ditempuh oleh seorang siswa dari awal sampai akhir program pelajaran untuk memperoleh penghargaan dalam bentuk ijazah.
Kurikulum dalam bahasa Arab diungkapkan dengan manhaj yang berarti jalan terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupan, sedangkan kurikulum pendidikan (manhaj al-dirosah) dalam kamus Tarbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh lembagapendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan[1].
Undang- undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 butir 19, kurikulumadalah seperangkat rencana dan pengaturan menganai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
William H. Schubert mengemukakan beberapa batasan berkenaan dengan kurikulum.[2]
1.      Kurikulum sebagai Subject Matter atau Content
Hal ini kurikulum disamakan dengan mata pelajaran yang diajarkan. Mata pelajaran dalam hal ini dipandang sebagai pengalaman orang tua atau orang pandai pada masa lalu yang telah disusun secara sistematis dan dapat diterima oleh akal dan pikiran. Dengan demikian, kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan.
2.      Kurikulum sebagai Program of Planned Activities
Kurikulum sebagai perencanaan pembelajaran adalah suatu program Pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan siswa atau dengan kata lain menyediakan lingkungan bagi siswa untuk memberi kesempatan belajar. Oleh karena itu kurikulum dirancang sedemikian rupa, tidak hanya sebatas pada jumlah mata pelajaran saja, melainkan meliputi segala sesuatu yang dapat memengaruhi perkembangan siswa, seperti bangunan sekolah, alat pelajaran, perlengkapan perpustakaan dan semua yang membuat siswa dapat belajar efektif.
3.      Kurikulum sebagai Experiences (Pengalaman)
Kurikulum bukan hanya rencana pengajaran atau bidang studi, tetapi merupakan semua yang secara nyata terjadi dalam proses pembelajaran. Dalam pendidikan kegiatan yang dilakukan siswa dapat memberikan pengalaman, seperti olahraga, Pramuka, PMR, dan pergaulan selain mempelajari bidang studi. Semua yang merupakan pengalaman belajar yang bermafaat adalah kurikulum. Pengertian ini menunjukan bahwa kegiatan-kegiatan kurikulum tidak terbatas dalam ruang kelas saja, melainkan mencakup kegiatan-kegiatan di luar kelas. Dengan demikian semua yang memberi pengalaman kepada siswa pada hakikatnya adalah kurikulum.

4.      Kurikulum sebagai Cultural Production
Kurikulum merupakan refleksi kebudayaan yang berfungsi untuk memproduksi kebudayaan dan nilai-nilai untuk generasi penerus. Hal ini merupakan tugas para pendidik mengenai keterampilan, pengetahuan dan apresiasi terhadap budaya agar mampu ditransfer ke dalam kurikulum untuk disampaikan kepada anak.

B.     Landasan Kurikulum
Menurut Hornby dalam buku” Kurikulum dan Pembelajaran” Landasan adalah suatu gagasan atau kepercayaan yang menjadi sandaran, sesuatu prinsip yang mendasari. Contohnya: seperti landasan kepercayaan agama, dasar atau titik tolak.[3]
Secara bahasa landasan berarti tumpuan, dasar ataupun alas, karena itu landasan merupakan tempat bertumpu atau titik tolak maupun dasar pijakan. Atau dapat pula diartikan sebagai asumsi-asumsi yang menjadi dasar pijakan atau titik tolak. Dengan demikian landasan kurikulum dapat diartikan sebagai suatu gagasan, landasan, suatu asumsi, atau prinsip yang menjadi sandaran atau titik tolak dalam mengembangkan kurikulum.
Pada pengembangan kurikulum PAI diperlukan landasan atau asas yang kuat. Apabila proses pengembanganya secara acak-acakan dan tidak memiliki landasan yang kuat, maka output pendidikan yang dihasilkan tidak akan terjamin kualitasnya
1.      Landasan Teologi
As-Syaibani (Ahmad Jayadi: 2004) Penyusunan Kurikulum pendidikan harus didasarkan pada nilai nilai agama (Illahiah) yang tertuang dalam kitab suci Al-qur’an maupun Al-sunnah, karena kedua hal tersebut merupakan nilai kebenaran yang Universal, abadi dan bersifat futuristik. Di samping kedua sumber itu, masih ada juga sumber yang lain, yaitu dasar yang bersumber dari dalil Ijtihad, suatu hasil pemikiran manusia yang tidak berlawanan dengan jiwa dan semangat Al-qur’an, Al-sunnah serta diarahkan kepada tujuan pendidikan yang dilandasi kaidah kaidah islami.[4]Dalam mengembangkan kurikulum sebaiknya berlandaskan pada Pancasila terutama sila ke satu “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Indonesia menyatakan bahwa kepercayaan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing individu. Sikap saling menghormati dan bekerjasama antara pemeluk-pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda diterapkan dalam kehidupan, sehingga dapat terbina kehidupan yang rukun dan damai.[5]
 Berikut ini dapat dijadikan pegangan dasar kurikulum tersebut:
a.       Carilah segala apa yang telah dikaruniakan Allah kepadamu mengenai kehidupan di akhirat dan janganlah kamu melupakan nasib hidupmu di dunia dan berbuatlah kebaikan sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. (Al-Qisas : 77)
Æ÷tGö/$#ur!$yJÏùš9t?#uäª!$#u#¤$!$#notÅzFy$#(Ÿwurš[Ys?y7t7ŠÅÁtRšÆÏB$u÷R9$#(`Å¡ômr&ur!$yJŸ2z`|¡ômr&ª!$#šøs9Î)(....
b.       Sabda Rasulullah : Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmunya dan barang siapa menghendaki akhirat (kebahagiaan hidup di akhirat) hendaklah ia menguasai ilmunya, dan barangsiapa menghendaki keduanya, maka hendaklah ia menguasai ilmu keduanya. (Hadist Nabi)
2.      Landasan Filosofis
Terdapat interaksi antara manusia dalam pendidikan yaitu antara pendidik dan terdidik untuk mencapai tujuan pendidikan serta melibatkan isi yang di interaksikan serta proses bagaimana interaksi tersebut berlangsung. Apakah yang menjadi tujuan pendidikan, siapa pendidik dan terdidik, apa isi pendidikan dan bagaimana proses pendidikan tersebut, merupakan pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang mendasar, yang esensial yaitu jawaban- jawaban filosofis. Kajian-kajian filosofis tentang kurikulum akan berupaya menjawab permasalah-permasalahan berkisar: (1) Bagiamana seharusnya tujuan pendidikan itu dirumuskan, (2) isi atau materi pendidikan yang bagaimana seharusnya diajarkan kepada siswa, (3) metode pendidikan apa yang seharusnya dilakukan pendidik dan peserta didik.
Secara harfiah filosofis (filsafat) berarti cinta akan kebijakan (love of wisdom). Orang belajar berfilsafat agar ia menjadi orang yang mengerti dan berbuat secara bijak. Untuk dapat mengerti kebijakan dan berbuat secara bijak, ia harus tahu atau berpengetahuan. Pengetahuan tersebut diperoleh melalui proses berfikir, yaitu berfikir secara sistematis, logis dan mendalam.  Berfilsafat diartikan pula berfikir secara radikal, berfikir sampai ke akar. Filsafat mencakup keseluruhan pengetahuan manusia, berusaha melihat segala yang ada ini sebagai satu kesatuan yang menyeluruh dan mencoba mengetahui kedudukan manusia didalamnya.
Filsafat membahas segala permasalahan yang dihadapi oleh manusia termasuk masalah-masalah pendidikan ini yang disebut filsafat pendidikan. Walaupun dilihat sepintas, filsafat pendidikan ini hanya merupakan aplikasi dari pemikiran pemikiran filosofis untuk memecahkan masalah- masalah pendidikan, tetapi antar keduanya yaitu antara filsafat dan filsafat pendidikan terdapat hubungan yang sangat erat. Menurut Donald Butler, filsafat memberikan arah dan metodologi terhadap praktik pendidikan, sedangkan praktik pendidikan memberikan bahan-bahan bagi pertimbangan pertimbangan filosofis.
Pendapat para filusuf umumnya memandang filsafat umum sebagai dasar dari filsafat pendidikan, tetapi John Dewey umpamanya mempunyai pandangan yang hampir sama dengan Butler. Bagi Dewey, filsafat dan filsafat pendidikan adalah sama, sebagaimana juga pendidikan menurut Dewey sama dengan kehidupan. Seperti halnya dalam filsafat umum, dalam filsafat pendidikan pun dikenal banyak pandangan atau aliran.
Dasar-dasar filsafat menurut John Dewey, Filsafat John Dewey lebih berkenaan dengan epistimologi dan tekanannya kepada proses berpikir. Selain itu dewey juga sangat menghargai peranan pengalaman, yang merupakan dasar bagi pengetahuan dan kebijakan. Pengalaman selain merupakan sumber dari pengetahuan, juga sumber dari nilai-nilai. Karena pengalaman selalu berubah maka nilaipun berubah. Nilai-nilai adalah relative, subjektif, dan hanya dirasakan oleh manusia. Sesuatu itu bernilai karena diberi nilai oleh manusia, sesuatu dibutuhkan karena manusia membutuhkannya, selalu dalam hubungannya dengan pengalaman.
Teori pendidikan Dewey
Menurutnya, pendidikan berarti perkembangan sejak lahir hingga menjelang kematian. Sehingga pendidikan dapat diartikan sebagai kehidupan. Tunjuan pendidikan diarahkan untuk mencapai suatu kehidupan yang demokratis. Tujuan pendidikan sendiri terletak pada proses pendidikan itu sendiri, yakni kemampuan dan keharusan individu meeruskan perkembangannya. John Dewey juga menegaskan bahwa pendidikan itu tidak memiliki tujuan, hanya guru, orangtua, dan masyarakat yang mempunyai tujuan.
Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti: perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran–aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan. Dengan merujuk kepada pemikiran Ella Yulaelawati, di bawah ini diuraikan tentang isi dari-dari masing-masing aliran filsafat, kaitannya dengan pengembangan kurikulum.
1.        Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.
2.        Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.
3.        Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. Aliran ini mempertanyakan : bagaimana saya hidup di dunia ? Apa pengalaman itu ?
4.        Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.
5.        Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu ? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.
Aliran Filsafat Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis. Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan dalampengembangan Model Kurikulum Interaksional.

Dalam menyusun bahan ajar menurut John Dewey hendaknya memperhatikan syarat-syarat sebagai berikut:
1.      Bahan ajar hendaknya konkret, dipilih mana yang betul-betul berguna dan dibutuhkan, dipersiapkan secara sistematis dan mendetail.
2.      Pengetahuan yang telah  diperoleh sebagai hasil belajar, hendaknya ditempatkan dalam kedudukan yang berarti, yang memungkinkan dilaksanakannya kegiatan baru, dan kegiatan yang lebih mneyeluruh.
Bahan pelajaran bagi anak tidak bisa semata-mata diambil dari buku pelajaran, yang diklasifikasikan dalam beberapa mata pelajaran terpisah. Bahan pelajaran harus berisikan kemungkinan-kemungkinan, harus mendorong anak untuk bergiat dan berbuat. Bahan ajar harus memberikan rangsangan pada anak-anak untuk bereksperimen.
Metode mengajar merupakan penyusunan bahan pelajaran yang memungkinkan diterimaoleh para siswa dengan lebih efektif. Sesuatu metode tidak pernah terlepas dari bahan pelajaran, kita dapat membedakan cara berbuat, tetapi cara ini hanya ada sebagai cara berhunbungan dengan bahan atau materi tertentu. Metode mengajar harus fleksibel dan menimbulkan inisiatif kepada para siswa.[6]
Landasan filsafat ini memberikan arah dan tujuan pendidikan dengan dasar filosofis sehingga susunan kurikulum mengandung suatu kebenaran, terutama kebenaran di bidang nilai-nilai sebagai pandangan hidup yang di yakini dari suatu kebenaran. Hal tersebut karena salah satu kajian filsafat adalah sistem nilai, baik yang berkaitan arti hidup dan kehidupan, masalah kehidupan, norma-norma yang muncul dari individu, masyarakat maupun suatu bangsa yang dilatar belakangi oleh pengasuh agama, adat istiadat, dan konsep individu tentang pendidikan.
Secara nasional pandangan hidup bangsa Indonesia adalah pancasila. Oleh karena itu, kaidah dan norma sosial maupun sistem nilai yang dianut secara nasional mengacu kepada pancasila. Dengan demikian, penyelenggaraan pendidikan secara resmi diarahkan untuk membentuk manusia Indonesia yang berpancasila.
Pancasila sebagai salah satu acuan nilai-nilai bangsa Indonesia, diakui pula bahwa bangsa Indonesia terdiri dari aneka ragam kelompok masyarakat dengan agama, suku bangsa dan adat istiadat yang berbeda-beda pula. Perbedaan-perbedaan ini secara konstitusional di jamin keberadaannya oleh undang-undang juga merupakan salah satu perwujudan dari falsafah pancasila yang mengakui persamaan perbedaan. Atas dasar ini, dapat terjadi arah pendidikan secara nasional adalah sama, namun dalam menanamkan nilai-nilai kepada anak didik dapat muncul perbedaan sesuai dengan latar belakang sosial ataupun agamanya masing-masing.
Sistem nilai yang berlatar belakang agama atau adat istiadat, konsep individu tentang pendidikan itu sendiri membawa pengaruh terhadap arah pendidikan. Konsep tentang fungsi pendidikan tersebut diataranya:
1.    Pendidikan di sekolah berfungsi memelihara dan menyampaikan warisan budaya kepada anak didik.
2.    Pendidikan di sekolah berfungsi mentransformasi budaya.
3.    Pendidikan di sekolah berfungsi mengembangkan pribadi individu.[7]
Muzayyin Arifin mengatakan bahwa mempelajari filsafat pendidikan islam berarti memasuki area pemikiran yang mendasar, sistematik, logis dan menyeluruh tentang pendidikan, yang tidak hanya dilatarbelakangi oleh agama Islam saja, melainkan menuntut kita untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang relevan. Pendapat ini memberikan petunjuk bahwa ruang lingkup filsafat pendidikan Islam adalah masalah-masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan, seperti masalah tujuan pendidikan, guru, kurikulum, metode dan masalah lingkungan.
Athiyah Abrosyi dalam kajiannya tentang pendidikan Islam telah menyimpulkan lima tujuan yang asasi bagi pendidikan Islam yang diuraikan dalam “at Tarbiyah Al Islamiyah wa falsafatuha”, sebagai berikut
1.        Untuk membantu pembentukan akhlak mulia. Islam menetapkan bahwa pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam.
2.        Persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.
3.        Menumbuhkan ruh ilmiah pada pelajaran dan memuaskan untuk mengetahui dan memungkinkan dia untuk mengkaji ilmu bukan sekedar ilmu, tetapi juga agar menumbuhkan minat pada sains, sastra, dan kesenian dalam berbagai jenisnya.
4.        Menyiapkan pelajar dari segi professional, teknis, dan perusahaan supaya ia dapat menguasai profesi tertentu, teknis tertentu, dan perusahaan tertentu supaya dapat dicari rezeki dalam hidup dengan mulia disamping memelihara dari segi kerohanian dan keagamaan.
5.        Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan.
Pendidikan Islam tidak semuanya bersifat agama atau akhlak, tetapi menaruh perhatian pada segi-segi kemanfaatan, tujuan-tujuan, kurikulum, dan aktivitasnya. Tidak tercapai kesempurnaan manusia tanpa memadukan ilmu agama dan ilmu pengetahuan.
Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa filsafat Pendidikan Islam itu merupakan suatu kajian secara filosofis mengenai masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada Al-qur’an dan Hadits sebagai sumber primer dan pendapatan para ahli, khususnya para filusuf muslim, sebagai sumber sekunder. Filsafat pendidikan Islam secara singkat dapat dikatakan adalah filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau filsafat pendidikan yang dijiwai oleh ajaran Islam, jadi ia bukan filsafat yang bercorak liberal, bebas, tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat pada umumnya.[8]
C.    Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum terdapat beberapa prinsip. Prinsip-prinsip tersebut dibagi menjadi dua kelompok:
1.      Prinsip-prinsip Umum
a.    Prinsip Relevansi. Secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebut memiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan dan potensi peserta didik (relevansi psikologi) serta tuntutan dan keutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosiologis).
b.   Prinsip fleksibilitas. Dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur, dan fleksibel dalam pelaksanaannya memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang serta kemampuan dan latar belakang peserta didik.
c.    Prinsip kontinuitas. Adanya kesinambungan dalam kurikulum, baik secara vertical maupun horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan baik yang berada dalam tingkat kelas, antara jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenjang pekerjaan.
d.   Prinsip efisiensi. Mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.
e.    Prinsip efektivitas. Mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa dilakukannya kegiatan yang sia-sia atau mubazir.[9]
2.      Prinsip-prinsip Khusus
a.       Prinsip yang berkenaan dengan tujuan pendidikan
Tujuan menjadi pusat kegiatan dan arah semua kegiatan pendidikan. Perumusan komponen-komponen kurikulum hendaknya mengacu pada tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan mencakup tujuan yang bersifat umumatau berjangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek (bersifat khusus). Perumusan tujuan pendidikan bersumber pada:
Ø  Ketentuan dan kebijakan pemerintah, yang dapat ditemukan dalam dokumen-dokumen lembaga Negara mengenai tujuan dan strategi pembangunan termasuk didalamnya pendidikan.
Ø  Survai mengenai persepsi orangtua/masyarakat tentang kebutuhan merekayang dikirimkan melalui angket atau wawancara dengan mereka.
Ø  Survai tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidang tertentu, dilakukan melalui angket, wawancara, observasi dan dari berbagai media masa.
Ø  Survai tentang manpower.
Ø  Pengalaman Negara lain yang telah mengalami  masalah yang sama.
Ø  Penelitian.
b.      Prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan
Memilih isi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan yang telah ditentukan oleh perencana kurikulum perlu mempertimbangkan beberapa hal.
·         Perlu penjabaran tujuan pendidikan/pengajaran ke dalam bentuk perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana. Semakin umum suatu perbuatan hasil belajar dirumuskan semakin sulit menciptakan pengalaman belajar.
·         Isi bahan peajaran harus meliputi segi pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
·         Unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan sistematis. Ketiga ranah belajar yaitu ranah pengetahuan, sikap dan keterampilandiberikan secara stimulant dalam urutan situasi belajar. Diperlukan buku pedoman guru yang memberikan tentang organisasi bahan dan alat pengajaran secara lebih mendetail.
c.       Prinsip berkenaan dengan proses belajar mengajar
Pemilihan proses belajarmengajar yang digunakan hendaknya memperhatikan hal-hal berikut.
v  Apakah metode/teknik belajar mengajar yang digunakan cocok untuk mengajarkan bahan pelajaran?
v  Apakah metode/teknik tersebut memberikan kegiatan yang bervariasi sehingga dapat melayani perbedaan individual siswa?
v  Apakah metode/teknik tersebut memberikan urutan kegiatan yang bertingkat-tingkat?
v  Apakah metode/teknik tersebut dapat menciptakan kegiatan untuk mencapai tujuan kognitif, afektif, dan psikomotor?
v  Apakah metode/teknik tersebut lebih mengaktifkan siswa, atau mengaktifkan guru atau kedua-duanya?
v  Apakah metode/teknik tersebut mendorong berkembangnya kemampuan baru?
v  Apakah metode/teknik tersebut menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah dan di rumah, juga mendorong penggunaan sumber yang ada di rumah dan di masyarakat?
v  Untuk belajar keterampilan sangat dibutuhkan kegiatan belajar yang menekankan “learning by doing” di samping “learning by seeing and knowing”.
d.      Prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran
Proses belajar mengajar yang baik perlu didukung oleh penggunaan media dan alat-alat bantu pengajaran yang tepat.
o   Alat atau media pengajaran apa yang diperlukan. Apakah semuanya sudah tersedia? Bila alat tersebut tidak ada apa penggantinya?
o   Kalau ada alat yang harus dibuat, hendaknya memperhatikan bagaimana membuatnya, siapa yang membuat, pembiayaannya, waktu pembuatan?
o   Bagaimana pengorganisasian alat dalam bahan pelajaran, apakah dalam bentuk modul, paket belajar, dan lain-lain?
o   Bagaimana pengintegrasiannya dalam keseluruhan kegiatan belajar?
o   Hasil yang terbaik akan diperoleh dengan menggunakan multimedia.
e.       Prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian
1)      Penyusunan alat penilaian (test) hendaknya diikuti langkah-langkah berikut:
Rumuskan tujuan-tujuan pendidikan yang umum, dalam ranah-ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Uraikan ke dalam bentuk tingkah-tingkah laku murid yang dapat diamati. Hubungkan dengan bahan pelajaran. Tuliskan butir-butir test.
2)      Merencanakan suatu penilaian hendaknya diperhatikan beberapa hal:
·         Bagaimana kelas, usia, dan tingkat kemampuan kelompok yang akan ditest?
·         Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pelaksanaan test?
·         Apakah test tersebut berbentuk uraian atau objektif?
·         Berapa bantak butir test yang perlu disusun?
·         Apakah test tersebut diadministrasikan oleh guruatau oleh murid?
3)      Pengolahan suatu hasil penilaian hendaknya diperhatikan hal-hal berikut.
o   Norma apa yang digunakan di dalam pengolahan hasil test?
o   Apakah digunakan formula queesing?
o   Bagaimana pengubahan skor ke dalam skor masak?
o   Skor standar apa yang digunakan?
o   Untuk apakah hasil-hasil test digunakan?[10]




PENUTUP
KESIMPULAN
Ada tiga point utama dalam makalah ini yaitu sebagai berikut:
1.       Kurikulum
Dalam Undang - undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 butir 19, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan menganai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
2.      Landasan – landasan Pengembangan  Kurikulum
Secara bahasa landasan berarti tumpuan yang menjadi dasar pijakan atau suatu gagasan yang menjadi sandaran dalam mengembangkan kurikulum. Ada beberapa landasan dalama pengembangan kurikulum antara lain:
a.       Landasan Teologis
b.      Landasan  Teoritik,
c.        Landasan  Filosofis
d.       Landasan  Psikologis
e.        Landasan  Sosiologis
3.      Prinsip – Prinsip Pengembangan Kurikulum
a.       Prinsip Umum
·         Prinsip Relevansi
·         Prinsip Fleksibilitas
·         Prinsip Kontinuitas
·         Prinsip Efisiensi
·         Prinsip Efektivitas
b.      Prinsip Khusus
·         Berkenaan dengan Tujuan Pendidikan
·         Berkenaan dengan Isi Pendidikan
·         Berkenaan dengan Proses belajar mengajar
·         Berkenaan dengan media dan alat pengajaran
·         Berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian
DAFTAR PUSTAKA
Ali Muhammad. Pengembangan Kurikulum Di Sekolah. Bandung: Sinar Baru Algensindo Offset. 2009.
Majid Abdul. Belajar dan Pembelajaran Pendidikaan Agama Islam. Bandung : Remaja Rosdakarya. 2012.
Oemar Hamalik. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya.  2008
Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam  Mulia. 2015
Sukmadinata  Nana Syaodih. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. 2016.
Tim Pengembangan MKDP.  Kurikulum dan Pembelajaran.  Jakarta: Rajawali Pers.  2012
http://andraputra.blogspot.co.id/2014/03/landasan-dan-prinsip-prinsip.html. Diakses pada tanggal 27 September 2017 pukul 21.30 WIB.





[1]  Majid Abdul. Belajar dan Pembelajaran Agama Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2012. Hlm. 34.
[2]  Ibid. Hlm. 39 – 41.
[3]Tim Pengembangan MKDP.  Kurikulum dan Pembelajaran.  Jakarta: Rajawali Pers.  2012. Hlm . 16.
[4]Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia. 2015. Hlm. 242.
[5]Oemar Hamalik. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya.  2008.  Hlm. 57.

[6]Sukmadinata Nana Syaodih.. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. 2016. Hlm. 38
[7]Ali Muhammad. Pengembangan Kurikulum Di Sekolah. Bandung: Sinar Baru Algensindo Offset. 2009.  Hlm . 33
[8]Majid Abdul. Belajar dan Pembelajaran Pendidikaan Agama Islam. Bandung : Remaja Rosdakarya.2012.  Hlm. 52.
[9]http://andraputra.blogspot.co.id/2014/03/landasan-dan-prinsip-prinsip.html. Diakses pada tanggal 27 September 2017 pukul 21.30 WIB.
[10]Sukmadinata Nana Syaodih. 2016. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Hlm. 152




Demi pengembangan makalah ini kami selaku penyusun makalah mengharapkan penilaian, masukan saran dari para pembaca sekalian, silahkan ketik di kolom komentar,terima kasih

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Makalah Dasar - Dasar Pengembangan Kurikulum Kelompok 1"

Posting Komentar