MAKALAH
LANDASAN SOSIOLOGIS
PENGEMBANGAN KURIKULUM
Disusun Untuk Memenuhi Tugas
Terstruktur
Mata Kuliah Dasar-dasar
Pengembangan Kurikulum
Pada Jurusan Pendidikan Agama Islam
Semester III
Tahun Akademik 2016/2017
Dosen
Pengampu :
Dr.
H. Nawawi, M.Pd
Disusun
Oleh :
Kelompok
4 PAI-A
Alia
Dewi (1608101007)
Dedeh
Intan Permatasari (1608101038)
Susep
Suryaman (1608101005)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH
DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI CIREBON
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya,
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas terstruktur Dasar-dasar Pengembangan
Kurikulum, shalawat serta salam semoga Allah tetap melimpahkan kepada Nabi Muhammad
SAW kepada keluarganya, sahabatnya, serta kepada kita selaku umatnya.
Makalah
ini membahas tentang Landasan Sosiologis
Pengembangan Kurikulum. Penyusun ucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. H.
Nawawi, M.Pd, sebagai dosen mata kuliah Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum,
yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam pembuatan karya ilmiah ini
serta kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah membantu dalam bentuk apapun.
Atas
rahmat dan karunia-Nya kami bisa menyelesaikan karya ilmiah ini dengan berusaha
semaksimal mungkin, akan tetapi kami menyadari makalah ini jauh dari
kesempurnaan, karena itu kami menerima kritik dan saran yang membangun agar
kami bisa lebih baik lagi dalam pembuatan karya ilmiah selanjutnya.
Cirebon, 16 Oktober 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR
ISI....................................................................................................... ii
BAB
I PENDAHULUAN................................................................................... 1
A.
Latar Belakang.......................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah..................................................................................... 1
C.
Tujuan Penulisan....................................................................................... 1
BAB
II PEMBAHASAN.................................................................................... 2
A.
Landasan
Sosiologis Pengembangan Kurikulum...................................... 2
B.
Sosiologi
Sebagai Landasan Kurikulum.................................................... 6
C.
Faktor
Sosiologis yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum 7
D.
Urgensi Aspek
Sosiologis dalam Perkembangan Kurikulum..................10
BAB
III PENUTUP............................................................................................ 13
A. Kesimpulan................................................................................................ 13
DAFTAR
PUSTAKA......................................................................................... 14
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan, hal tersebut merupakan
bahwa kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil dari proses pendidikan.
Pendidikan bukan hanya sekedar pembelajaran tetapi lebih dari sekedar
pembelajaran. Berkaitan dengan pengembangan kurikulum agar dapat berhasil
sesuai dengan apa yang diharapkan, maka diperlukan pula adanya suatu landasan
pengembangan kurikulum yang akan menjadi pondasi bagi penyusunan suatu
kurikulum tersebut.
Jika dilihat dari kehidupan masyarakat dengan segala karakteristik dan
kekayaan budayanya menjadi suatu landasan sekaligus menjadi acuan bagi
kurikulum atau lebih kompleksnya bagi pendidikan. Adapun program pendidikan
disusun dan dipengaruhi oleh nilai, masalah, kebutuhan dan suatu tantangan
dalam masyarakat sekitarnya. Hal ini berarti kurikulum disusun berlandaskan dasar
sosiologis yang akan menjadi pembahasan dalam makalah ini.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa yang dimaksud landasan sosiologis
pengembangan kurikulum?
2.
Apa yang
dimaksud sosiologi sebagai landasan kurikulum?
3.
Apa saja faktor
sosiologis yang mempengaruhi pengembangan kurikulum?
C.
Tujuan
Penulisan
1.
Untuk mengetahui landasan sosiologis
pengembangan kurikulum.
2.
Untuk mengetahui sosiologi sebagai landasan kurikulum.
3.
Untuk
mengetahui faktor sosiologis yang mempengaruhi pengembangan kurikulum.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Landasan Sosiologis Pengembangan Kurikulum
1. Pengertian Sosiologi
Secara harfiah atau etimologis (defenisi nominal),
sosiologi berasal dari kata bahasa latin: socius = teman, kawan, sahabat, dan
logos = ilmu pengetahuan. Jadi sosiologi adalah ilmu tentang cara berteman/berkawan/bersahabat yang
baik, atau cara bergaul yang baik dalam masyarakat.
Menurut Sukmadinata, sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang
menyelidiki berbagai gejala sosial hubungan antar individu, antar golongan,
antar lembaga sosial atau masyarakat. Di dalam kehidupan kita tidak hidup
sendiri, namun hidup dalam suatu masyarakat. Dalam lingkungan itulah kita
memiliki tugas yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab sebagai
bakti kepada masyarakat yang telah memberikan jasanya kepada kita. Sedangkan
Menurut Emile Durkheim bahwa
sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta
yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar
individu dimana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan
individu.[1]
2. Landasan Sosiologis
Sebelum membahas mengenai Landasan Sosiologis Pengembangan Kurikulum,
maka terlebih dahulu kita harus mengetahui pengertian dari empat kata tersebut.
Secara etimologi, pengertian dari empat kata tersebut yaitu “Landasan”
yang mempunyai arti alas, bantalan,
dasar, dan tumpuan. “Sosiologis” mempunyai arti yang bersifat sosial kemasyarakatan dan yang
bersifat pengetahuan tentang sifat dan perkembangan masyarakat. “Pengembangan” yang mempunyai arti
proses perubahan menjadi lebih
berkembang dan yang terakhir kata “Kurikulum” yang
mempunyai arti perangkat mata
pelajaran yang diajarkan lembaga pendidikan, dengan demikian dapat
disimpulkan definisi landasan sosiologis yang merupakan pengembangan kurikulum secara etimologi yaitu
suatu landasan atau pijakan dalam
menyusun sebuah kurikulum yang mengacu pada aspek kemasyarakatan.
Secara terminologi Landasan Sosiologis
Pengembangan Kurikulum mempunyai arti asumsi-asumsi yang berasal dari sosiologi yang dijadikan titik tolak
dalam pengembangan kurikulum. Mengapa pengembangan kurikulum
harus mengacu pada landasan sosiologis?, hal itu dikarenakan peserta didik berasal
dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik informal, formal, maupun non
formal dalam lingkungan masyarakat, dan diarahkan pula agar mampu terjun dalam
kehidupan bermasyarakat. Karena itu kehidupan masyarakat dan budaya dengan
segala karakteristiknya harus menjadi landasan dan titik tolak dalam
melaksanakan kurikulum.[2]
Jika dipandang dari sosiologi,
pendidikan adalah proses mempersiapkan individu agar menjadi warga masyarakat
yang diharapkan, pendidikan adalah proses sosialisasi, dan berdasarkan pandangan
antrofologi, pendidikan adalah “enkulturasi”
atau pembudayaan. Dengan pendidikan, kita tidak mengharapkan muncul
manusia-manusia yang lain dan asing terhadap masyarakatnya, tetapi manusia yang
lebih bermutu, mengerti, dan mampu membangun masyarakat.
Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun
proses pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi, karakteristik kekayaan, dan
perkembangan masyarakat tersebut. Untuk menjadikan peserta didik agar menjadi
warga masyarakat yang diharapkan maka pendidikan memiliki peranan penting,
karena itu kurikulum harus mampu memfasilitasi peserta didik agar mereka mampu
bekerja sama, berinteraksi, menyesuaikan diri dengan kehidupan di masyarakat
dan mampu meningkatkan harkat dan martabatnya sebagai mahluk yang berbudaya.
Dalam merumuskan
tujuan kurikulum harus memahami tiga sumber kurikulum yaitu siswa (student),
masyarakat (society), dan konten (content). Sumber siswa lebih menekankan pada
kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan siswa pada tingkat pendidikan tertentu yang
sesuai dengan perkembangan jiwa atau usianya. Sumber masyarakat lebih melihat
kepada kebutuhan-kebutuhan masyarakat dan nilai-nilai yang ada dalam
masyarakat, sedangkan sumber konten adalah berhubungan dengan konten kurikulum
yang akan dikembangkan pada tingkat pendidikan yang sesuai. Dengan kata lain
landasan sosiologi digunakan dalam pengembangan kurikulum dalam merumuskan
tujuan pembelajaran dengan memperhatikan sumber masyarakat (society source)
agar kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan tidak
bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat yang
dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan,
kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan.
Landasan sosial-budaya dalam pengembangan
kurikulum yaitu kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan.
Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan.
Kita maklumi bahwa pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk
terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan
semata, namun memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai
untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat.
Adapun azas sosial-budaya berkenaan
dengan penyampaian kebudayaan proses sosial individu, dan rekonstruksi
masyarakat. Bentuk-bentuk kebudayaan mana yang patut disampaikan dan ke arah
mana proses sosialisasi tersebut ingin direkonstruksi sesuai dengan tuntutan
masyarakat.
Masyarakat mempunyai norma-norma,
adat kebiasaan yang mau tidak mau harus dikenal dan diwujudkan peserta didik
pada gilirannya harus hidup dalam masyarakat itu, maka masyarakat harus
dijadikan suatu faktor yang harus dipertimbangkan dalam pembinaan dan
pengembangan kurikulum, disini harus dijaga keseimbangan antara kepentingan
siswa sebagai individu dengan kepentingan siswa sebagai anggota masayarakat.
Keseimbangan ini dapat dicapai apabila dicegah kurikulum semata-mata bersifat society- contered (terpusat pada
masyarakat).
Landasan
sosial budaya digunakan dalam mengembangkan kurikulum baik tingkat nasional
maupun bagi guru-guru dalam pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan
atau bahkan dalam proses pembelajaran di kelas. Terutama dalam menghadapi
situasi pendidikan dewasa ini, dimana tuntutan masyarakat akan hasil pendidikan
lebih tinggi. Dengan demikian, masyarakat lebih menginginkan agar hasil
pendidikan lebih baik.[3]
Para
pengembang kurikulum itu sendiri memiliki tugas untuk mempelajari dan memahami
kebutuhan masyarakat sebagaimana dirumuskan dalam undang- undang, peraturan,
keputusan pemerintah dan lain-lain; menganalisis masyarakat dimana sekolah
berada; menganalisis syarat dan tuntutan terhadap tenaga kerja;
menginterpretasi kebutuhan individu dalam ruang lingkup kepentingan masyarakat.
James
W. Thornton seperti yang dikutip Prof. Oemar Hamalik, mengatakan bahwa
setidaknya ada empat kelompok kekuatan sosial yang mempengaruhi kurikulum
diantaranya :
1.
Kekuatan sosial yang resmi, yang terdiri atas :
a.
Pemerintah suatu Negara, melalui UUD dan ideologi negara.
b.
Pemerintah daerah, melalui kebijakannya.
c.
Perwakilan departemen pendidikan setempat.
2.
Kekuatan sosial setempat, yang terdiri atas :
a.
Yayasan yang bergerak di bidang pendidikan.
b.
Kerukunan atau persatuan keluarga sekolah-sekolah sejenis.
c.
Perguruan tinggi.
d.
Persatuan orang tua murid.
e.
Penerbit buku-buku pelajaran.
f.
Media massa.
g.
Adat kebiasan masyarakat setempat.
3.
Organisasi profesional, seperti persatuan guru, dokter dan ahli hukum.
4.
Kelompok atau organisasi yang bergerak berdasarkan kepentingan tertentu,
seperti kelompok patriotik dan sebagainya.
Seperti
yang telah kami bahas di atas, bahwa ada beberapa pakar yang menggunakan istilah
masyarakat dan budaya sebagai pengganti dari istilah sosiologis. Hal ini
dipakai juga oleh Prof. Oemar Hamalik, beliau membagi pembahasannya menajdi dua
bagian yaitu masyarakat dan budaya.
Dalam
studi antropologi dan sosiologi akan ditemukan sejumlah pengertian “kebudayaan”
antara yang satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh, Selo Sumarjan dan
Sulaiman Sumardi merumuskan bahwa kebudayaan adalah hasil dari karya, rasa dan
cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan.
Rasa meliputi jiwa manusia yang diwujudkan dalam norma-norma dan nilai-nilai,
dan cipta merupakan pikiran orang-orang dalam hidup bermasyarakat.
Berbeda
dengan pendapat di atas, Maurich Boyd seperti yang dikutip Oemar Hamalik,
mengatakan bahwa hasil karya manusia yang bersifat material bukan termasuk
kebudayaan, seperti teknologi, karena ia merupakan hasil produksi dari
kebudayaan dan hanya merupakan aspek esensial dari sebuah kebudayaan. Dari dua
pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa budaya merupakan lingkungan sosial
manusia, dalam arti yang luas dan menyeluruh, yang terkait dengan masyarakat
tertentu.
Kebudayaan
mempunyai dimensi yang kompleks. Karena itu dalam prakteknya kita tidak dapat
melihat berbagai dimensi kebudayaan yang terpisah. Walaupun demikian untuk
kepantingan analisis, para pakar menggolongkan unsur dimensi kebudayaan menjadi
enam, yaitu keluarga, pendidikan, politik, ekonomi, agama, dan teknologi.
Setiap
lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem sosial-budaya tersendiri
yang mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat. Salah
satu aspek penting dalam sistem sosial-budaya adalah tatanan nilai-nilai yang
mengatur cara berkehidupan dan berprilaku para warga masyarakat. Nilai-nilai
tersebut dapat bersumber dari agama, budaya, politik atau segi-segi kehidupan
lainnya.
B. Sosiologi Sebagai Landasan Kurikulum
Kurikulum mutlak diperlukan dalam
proses pendidikan karena tujuan dalam kurikulum itulah yang akan menghasilkan
lulusan dengan kompetensinya. Oleh karena itu diperlukan kurikulum yang
benar-benar menggali nilai sosial budaya serta mampu menyiapkan peserta didik
untuk menghadapi perubahan zaman.
Menurut undang-undang SISDIKNAS No.
20 tahun 2003 tujuan pendidikan di Indonesia adalah bertujuan untuk berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[4]
Ketaqwaan dibangun dari nilai-nilai agama serta budaya yang santun.
Kecerdasan dan keterampilan hidup ditumbuhkan dengan berbagai bacaan,
eksperimen dan pelatihan. Jika dirunut kualitas atau keunggulan suatu generasi
ternyata terletak pada karakter yang kokoh dan baik. Di sinilah pentingnya
memasukkan kurikulum untuk membangun karakter tersebut.
Kurikulum karakter bersumber pada nilai agama dan
nilai sosial-budaya yang terpuji. Bangsa kita yang mayoritas muslim dan secara
turun temurun hidup dalam budaya yang harmonis serta gotong royong hendaknya
menjadi acuan dalam penyusunan kurikulum sehingga kurikulum kita semestinya
berisi tentang pengamalan agama yang benar, membudayakan kebiasaan gotong
royong dan santun pada setiap jenjang pendidikan.
Kurikulum dapat dipandang sebagai
suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan
pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita maklumi bahwa pendidikan merupakan usaha
mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan
bukan hanya untuk pendidikan semata, namun memberikan bekal pengetahuan,
keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan
lebih lanjut di masyarakat. Dengan pendidikan, kita tidak mengharapkan muncul
manusia-manusia yang terasingkan dari lingkungan masyarakatnya, tetapi justru
melalui pendidikan diharapkan dapat lebih mengerti dan mampu membangun
kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan
harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan
perkembangan yang ada di masyakarakat.
Peserta didik berasal dari
masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan
masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupan masyarakat,
dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan
sekaligus acuan bagi pendidikan.
Maka dengan adanya pendidikan, kita
tidak mengharapkan muncul manusia-manusia yang menjadi terasingkan dari
lingkungan masyarakatnya, tetapi justru melalui pendidikan diharapkan dapat
lebih mengerti dan mampu membangun kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu,
tujuan, isi maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan,
kondisi, karakteristik, kekayaan perkembangan yang ada di masyarakat.
Sejalan dengan perkembangan
masyarakat maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat juga turut berkembang
sehingga menuntut setiap warga masyarakat untuk melakukan perubahan dan
penyesuaian terhadap tuntutan perkembangan yang terjadi di sekitar masyarakat.
Kurikulum yang dikembangkan sudah seharusnya mempertimbangkan, merespons dan
berlandaskan pada pekembangan sosial-budaya dalam suatu masayarakat, baik dalam
konteks lokal, nasional maupun global.[5]
Setiap lingkungan masyarakat
masing-masing memiliki sistem sosial-budaya tersendiri yang mengatur pola kehidupan
dan pola hubungan antar anggota masyarakat. Salah satu aspek penting dalam
sistem sosial-budaya adalah tatanan nilai-nilai yang mengatur cara berkehidupan
dan berperilaku para warga masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber
dari agama, budaya, politik atau segi-segi kehidupan lainnya.
C. Faktor Sosiologis yang Mempengaruhi
Pengembangan Kurikulum
Setiap
kurikulum mencerminkan keinginan, cita-cita, tuntutan dan kebutuhan masyarakat.
Sekolah memang didirikan oleh dan untuk masyarakat. Maka sudah sewajarnya
pendidikan harus memperhatikan dan merespons terhadap suara masyarakat. Setiap
lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem sosial-budaya tersendiri
yang mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat. Faktor
yang melandasi kurikulum mengalami diskriminasi hingga mempengaruhi
pengembangannya antara lain :
·
Potensi daerah
yang masih rendah sehingga tidak diberikan ruang lebih untuk diaktualisasikan dan
dipublikasikan.
·
Masyarakat yang
masih kaku sehingga tidak diperhatikan.
Adapun
beberapa faktor yang memberikan pengaruh terhadap pengembangan kurikulum dalam
masyarakat tersebut antara lain :
Ø Kebutuhan
Masyarakat
Kebutuhan
masyarakat tidak pernah tidak terbatas dan beraneka ragam. Oleh karena itu
lembaga pendidikan berusaha menyiapkan tenaga-tenaga terdidik yang terampil
yang dapat dijadikan sebagai penggali kebutuhan masyarakat.
Ø Perubahan
dan Perkembangan Masyarakat
Masyarakat
adalah suatu lembaga yang hidup, selalu berkembang dan berubah. Perubahan dan
perkembangan nilai yang ada dalam masyarakat sering menimbulkan konflik antar
generasi. Dengan diadakannya pendidikan diharapkan konflik yang terjadi antar
generasi dapat teratasi.
Ø Tri Pusat
Pendidikan
Yang dimaksud dengan tri pusat
pendidikan adalah bahwa pusat pendidikan dapat bertempat di rumah, sekolah, dan
masyarakat. Selain itu media massa, lembaga pendidikan agama, serta lingkungan
fisik juga dapat berperan sebagai pusat pendidikan.[6]
Sekolah
pula mendapatkan pengaruh dari kekuatan-kekuatan yang ada dalam masyarakat,
terutama dari perguruan tinggi dan masyarakat.
1.
Perguruan Tinggi
Kurikulum
minimal mendapatkan dua pengaruh dari perguruan tinggi. Pertama, dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
dikembangkan di perguruan tinggi umum. Kedua,
dari pengembangan ilmu pendidikan dan keguruan serta penyiapan guru-guru di
perguruan tinggi keguruan (lembaga pendidikan tenaga kependidikan). Telah
diuraikan terdahulu bahwa pengetahuan dan teknologi banyak memberikan sumbangan
bagi isi kurikulum serta proses pembelajaran. Jenis pengetahuan yang
dikembangkan di perguruan tinggi akan mempengaruhi isi pelajaran yang akan
dikembangkan di perguruan tinggi akan mempengaruhi isi pelajaran yang akan dikembangkan
di perguruan tinggi akan mempengaruhi isi pelajaran yang akan mempengaruhi isi
pelajaran yang akan dikembangkan dalam kurikulum. Perkembangan teknologi selain
menjadi isi kurikulum juga mendukung pengembangan alat bantu dan media
pendidikan.[7]
Kurikulum
lembaga pendidikan tenaga kependidikan juga mempengaruhi pengembangan
kurikulum, terutama melalui penguasaan ilmu dan kemampuan keguruan dari
guru-guru yang dihasilkannya. Penguasaan ilmu, baik ilmu pendidikan maupun
bidang studi serta kemampuan mengajar dari guru-guru akan sangat mempengaruhi
pengembangan dan implementasi kurikulum di sekolah. Guru-guru yang mengajar
pada berbagai jenjang dan jenis sekolah yang ada pada masa sekarang ini,
umumnya disiapkan oleh LPTK (IKIP, FKIP, STKIP) melalui berbagai program, yaitu
program D2, D3 dan S1. Pada sekolah dasar masih banyak guru berlatar belakang
pendidikan SPG dan SGO, tetapi secara berangsur-angsur mereka akan mengikuti
program penyetaraan D2.
2.
Masyarakat
Sekolah
merupakan bagian dari masyarakat dan mempersiapkan anak untuk kehidupan di
masyarakat. Sebagai bagian dan agen dari masyarakat, sekolah sangat dipengaruhi
oleh lingkungan masyarakat dimana sekolah tersebut berada. Isi kurikulum
hendaknya mencerminkan kondisi dan dapat memenuhi tuntutan dan kebutuhan
masyarakat di sekitarnya. Masyarakat yang ada di sekitar sekolah mungkin
merupakan masyarakat homogen atau heterogen, masyarakat kota atau desa, petani,
pedagang atau pegawai, dan sebagainya. Sekolah harus melayani aspirasi-aspirasi
yang ada di masyarakat. Salah satu kekuatan yang ada dalam masyarakat adalah
dunia usaha. Perkembangan dunia usaha yang ada di masyarakat mempengaruhi
pengembangan kurikulum sebab sekolah bukan hanya mempersiapkan anak untuk
bekerja dan berusaha. Jenis pekerjaan dan perusahaan yang ada di masyarakat
menuntut persiapannya di sekolah.
3.
Sistem Nilai
Dalam
kehidupan masyarakat terdapat sistem nilai, baik nilai moral, keagamaan,
sosial, budaya maupun nilai politis. Sekolah sebagai lembaga masyarakat juga
bertanggung jawab dalam pemeliharaan dan penerusan nilai-nilai. Sistem nilai
yang akan dipelihara dan diteruskan tersebut harus terintegrasikan dalam
kurikulum. Masalah utama yang dihadapi para pengembang kurikulum menghadapi
nilai ini adalah bahwa dalam masyarakat nilai itu tidak hanya satu. Masyarakat
umumnya heterogen dan multifaset. Masyarakat memiliki kelompok-kelompok etnis,
kelompok vokasional, kelompok intelek, kelompok sosial, ekonomi, politik,
fisik, estetika, etika, religius, dan sebagainya.
Aspek-aspek
tersebut sering juga mengandung nilai-nilai yang berbeda. Ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan guru dalam mengajarkan nilai diantaranya :
1)
guru hendaknya mengetahui dan memperhatikan semua nilai yang ada dalam
masyarakat,
2)
guru hendaknya berpegang pada prinsip demokrasi, etis, dan moral,
3)
guru berusaha menjadikan dirinya sebagai teladan yang patut untuk ditiru,
4)
guru menghargai nilai-nilai kelompok lain,
5)
guru mampu memahami dan menerima keragaman kebudayaan sendiri.
D. Urgensi Aspek Sosiologis dalam
Perkembangan Kurikulum
Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan empat
landasan utama dalam pengembangan kurikulum, yaitu: (1) filosofis ; (2)
psikologis; (3) sosial-budaya; dan (4) ilmu pengetahuan dan tekhnologi.
1. Landasan filosofis
Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum.
Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai
aliran filsafat, seperti : perenialisme, essensialisme, eksistesialisme,
progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum pun
senantiasa berpijak pada aliran – aliran filsafat tertentu, yakni diantara nya
yaitu :
1) Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan
keindahan dari warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap
lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang
menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut, kebenaran universal yang
tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa
lalu.
2) Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian
pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota
masyarakat yang berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap
sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di
masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih
berorientasi pada masa lalu.
3) Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan
tentang hidup dan makna. Untuk memahamu kehidupan seseorang mesti memahami
dirinya sendiri. Aliran ini mempertanyakan bagaimana saya hidup di dunia?
Apa pengalaman itu?
4) Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual,
berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses.
Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.
5) Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme.
Pada rekonstruksivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan.
Disamping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme,
rekonstuktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir
kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis
, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu? Penganut aliran ini menekankan
pada hasil belajar dan proses.
Aliran filsafat
Perenialisme, Essensialisme, eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang
mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis.
Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model
Kurikulum Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak
diterapkan dalam Pengembangan Model Kurikulum Interaksional.
2. Landasan Psikologis
Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan bahwa
minimal terdapat dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum
yaitu (1) psikologi perkembangan dan (2) psikologi belajar. Psikologi
perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu
berkenaan dengan perkembangannya. Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang
hakekat perkembangan, pentahapan perkembangan, aspek-aspek perkembangan,
tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal lainnya yang berhubungan
perkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan
dan mendasari pengembangan kurikulum. Psikologi belajar merupakan ilmu yang
mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar. Psikologi belajar
mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar, serta berbagai aspek
perilaku individu lainnya dalam belajar yang semuanya dapat dijadikan sebagai
bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan kurikulum.
3. Landasan Sosial-Budaya
Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan
pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil
pendidikan. Kita maklumi bahwa pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta
didik untuk terjun kelingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk
pendidikan semata, namun memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta
nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di
masyarakat.
Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan
pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan
diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala
karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi
pendidikan.
4. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi
Ilmu pengetahuan adalah seperangkat pengetahuan yang disusun
secara sistematis yang dihasilkan melalui riset atau penelitian. Sedangkan
teknologi adalah aplikasi dari ilmu pengetahuan untuk memecahkan
masalah-masalah praktis dalam kehidupan. Ilmu dan teknologi tidak bisa
dipisahkan. Sejak abad pertengahan ilmu pengetahuan telah berkembang
dengan pesat. Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa kini banyak didasari oleh
penemuan dan hasil pemikiran para filsuf purba seperti Plato, Socrates,
Aristoteles, John Dewey, Archimides, dan lain-lain.
Pada awalnya, ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang
dimiliki manusia masih relatif sederhana, namun sejak abad pertengahan
mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai penemuan teori-teori baru terus
berlangsung hingga saat ini dan dipastikan kedepannya akan terus semakin berkembang.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
·
Secara terminologi Landasan
Sosiologis Pengembangan Kurikulum mempunyai arti asumsi-asumsi yang berasal dari sosiologi yang dijadikan titik tolak
dalam pengembangan kurikulum. Mengapa pengembangan kurikulum
harus mengacu pada landasan sosiologis?, hal itu dikarenakan peserta didik
berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik informal, formal, maupun
non formal dalam lingkungan masyarakat, dan diarahkan pula agar mampu terjun
dalam kehidupan bermasyarakat. Karena itu kehidupan masyarakat dan budaya
dengan segala karakteristiknya harus menjadi landasan dan titik tolak dalam
melaksanakan pendidikan.
·
Faktor yang memberikan pengaruh
terhadap pengembangan kurikulum dalam masyarakat tersebut antara lain :
§ Kebutuhan
Masyarakat
§ Perubahan
dan Perkembangan Masyarakat
§ Tri Pusat
Pendidikan
·
Urgensi landasan
sosiologis dalam perkembangan kurikulum menurut Nana Syaodih Sukmadinata (1997)
mengemukakan ada empat landasan utama dalam pengembangan kurikulum, yaitu: (1) filosofis
; (2) psikologis; (3) sosial-budaya; dan (4) ilmu pengetahuan dan tekhnologi.
DAFTAR
PUSTAKA
Hidayat, Sholeh. 2013. Pengembangan
Kurikulum Baru. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Sukmadinata, Nana S. 2007. Pengembangan
Kurikulum: Teori dan Praktek.
Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Sukmadinata, Nana S. 2010. Pengembangan
Kurikulum: Teori dan Praktek. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Sukmadinata, Nana S. 2013. Pengembangan
Kurikulum. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Suteja. 2017. Tafsir Tarbawi.
Cirebon : Nurjati Press.
Undang-Undang
Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
http://ratnasari15.blogspot.co.id/2016/03/landasan-landasan-kurikulum.html?m=1.
Diakses pada tanggal 16 Oktober 2017 Pukul 19:10.
Hamalik, O. (1990). Pengembangan Kurikulum: Dasar-dasar dan
Perkembangannya. Bandung: Mandar Maju.
[1]Sukmadinata, Nana S. 2007. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. Bandung : PT Remaja
Rosdakarya. Hal. 124.
[2]
Sukmadinata, Nana S.
2010. Pengembangan Kurikulum: Teori dan
Praktek. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Hal. 58.
[3]
Hidayat, Sholeh.
2013. Pengembangan Kurikulum Baru.
Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Hal. 40-41.
[4]
Undang-Undang
Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
[6]
http://ratnasari15.blogspot.co.id/2016/03/landasan-landasan-kurikulum.html?m=1.
Diakses pada tanggal 16 Oktober 2017 Pukul 19:10.
[7]
Sukmadinata, Nana S.
2013. Pengembangan Kurikulum. Bandung
: PT Remaja Rosdakarya. Hal. 158.
Demi pengembangan makalah ini kami selaku penyusun makalah mengharapkan penilaian, masukan saran dari para pembaca sekalian, silahkan ketik di kolom komentar,terima kasih

Belum ada tanggapan untuk "Makalah Dasar - Dasar Pengembangan Kurikulum Kelompok 4 "
Posting Komentar