SEJARAH PERKEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN
MENEGAH
Dosen Pengampu : Dr.
H. Nawawi, M.Pd
|
|
Disusun Oleh kelompok 2:
EHA
SITI JULAEHA (1608101008)
RINI
NUR’AENI (1608101011)
YAHYA
NUR ASIF (1608101014)
IZKI
NUR FITROH (1608101040)
Jurusan/Semester : PAI
A/3
2017
FAKULTAS ILMU TARBIYAH
DAN KEGURUAN
JURASAN PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI
SYEKH
NURJATI CIREBON
Jl.Perjuangan By Pass Sunyaragi
Cirebon
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji dan syukur hanya
tertuju kepada Allah SWT. Berkat taufik dan hidayahnya makalah ini dapat
terselesaikan. Sholawat serta salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada Nabi
Muhammad Saw. Pembawa risalah yang menjadi petunjuk serta rahmat bagi seluruh
alam.
Makalah ini pembahasannya akan berisi pada makalah
ini akan merujuk
kepada ”mengaplikasikan
fakta-fakta sejarah perkembangan kurikulum di Indonesia.”
Semoga makalah yang kami tulis ini
dapat bermanfaat bagi teman-teman dan siapa pun yang membacanya. Kami menyadari
bahwa makalah yang kami tulis ini masih
jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kritik, dan saran sangat kami harapkan dari pembaca sekalian. Semoga ibadah yang
kita lakukan selama ini dan yang akan datang mengandung ridho Allah SWT. Aamiin
Cirebon, 11 Oktober 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................. ii
BAB 1 PENDAHULUAN............................................................................. 1
A.
Latar
Belakang ............................................................................ ....... 1
B.
Rumusan
Masalah................................................................................ 1
C.
Tujuan........................................................................................... ....... 2
BAB II PEMBAHASAN............................................................................ 3
A. Pengertian
dan dasar perkembangan kurikulum Agama Islam .... ....... 3
B. Perkembangan kurikulum PAI dari tahun
1945-1994.................. ....... 4
C. Perkembangan kurikulum PAI dari tahun 1994-2002..................
D. Perkembangan kurikulum PAI dari tahun 2002- sekarang...........
BAB III PENUTUP................................................................................... 11
Kesimpulan........................................................................................ 11
DAFTAR PUSTAKA............................................................................... 12
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Pendidikan dalam sejarah peradaban
anak manusia adalah salah satu komponen kehidupan yang paling urgen. Semenjak
manusia berinteraksi dengan aktifitas pendidikan ini semenjak itulah manusia
telah berhasil merealisasikan berbagai perkembangan dan kemajuan dalam segala
lini kehidupan mereka. Bahkan pendidikan adalah suatu yang alami dalam
perkembangan peradaban manusia. Secara paralel proses pendidikan pun mengalami
kemajuan yang sangat pesat, baik dalam bentuk metode, sarana maupun target yang
akan dicapai. Karena hal ini merupakan salah satu sifat dan keistimewaan dari
pendidikan, yaitu selalu bersifat maju. Sebuah pendidikan tidak mengalami
serta tidak menyebabkan suatu kemajuan atau malah menimbulkan kemunduran maka
tidaklah dinamakan pendidikan. Karena pendidikan adalah sebuah aktifitas yang
integral yang mencakup target, metode dan sarana dalam membentuk
manusia-manusia yang mampu berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungannya,
baik internal maupun eksternal demi terwujudnya kemajuan yang lebih baik.
Peningkatkan
mutu pendidikan Indonesia, terus diupayakan pemerintah melakukan berbagai reformasi dalam
bidang pendidikan. Dan sebagai sarana untuk meningkatkan mutu pendidikan
diperlukan sebuah kurikulum. Menurut Sukmadinata, “Kurikulum ( curriculum) merupakan suatu rencana yang
memberi pedoman atau pegangan dalam proses kegiatan belajar mengajar”.
Kurikulum dipahami sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan,
isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu. Kurikulum memiliki empat komponen, yaitu komponen tujuan, isi
kurikulum, metode atau strategi pencapaian tujuan dan komponen evaluasi.
Sebagai suatu sistem setiap komponen harus saling berkaitan satu sama lain.
Manakala salah satu komponen yang membentuk sistem kurikulum
terganggu atau tidak berkaitan dengan komponen lainnya, maka sistem kurikulum
pun akan terganggu pula.
Kurikulum tiap satuannya memuat suatu tujuan yang ingin
dicapai dalam suatu sistem pendidikan, untuk itu tujuan dalam suatu
kurikulum memegang peranan yang sangat penting, karena tujuan mengarahkan semua
kegiatan pengajaran dan mewarnai komponen-komponen kurikulum lainnya.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa pengertian
dasar dan tujuan perkembangan kurikulum?
2.
Bagaimana perkembangan kurikulum dari
tahun 1947 sampai dengan sekarang ?
C.
Tujuan
- Untuk mengetahui
pengertian dan tujuan perkembangan kurikulum.
- Untuk mengetahui perkembangan kurikulum dari tahun
1947 sampai dengan sekarang.
PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Dasar Kurikulum
1.
Pengertian
Kurikulum
adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran
serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. (Undang-Undang No.20 TH. 2003 Tentang Sistem Pendidikan
Nasional).
Kurikulum
adalah serangkaian mata ajar dan pengalaman belajar yang mempunyai tujuan
tertentu, yang diajarkan dengan cara tertentu dan kemudian dilakukan evaluasi.
(Badan Standardisasi Nasional SIN 19-7057-2004 tentang Kurikulum Pelatihan
Hiperkes dan Keselamatan Kerja Bagi Dokter Perusahaan).
Kurikulum
memuat isi dan materi pelajaran. Kurikulum ialah sejumlah mata ajaran yang
harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan.
Mata ajaran (subject matter) dipandang sebagai pengalaman orang tua atau
orang-orang pandai masa lampau, yang telah disusun secara sistematis dan logis.
Mata ajaran tersebut mengisis materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa,
sehingga memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan yang berguna baginya.
2.
Dasar-dasar
dalam mengembangkan kurikulum yaitu:
- kuriulum disusun untuk mewujudkan system
pendidikan nasional.
- kurikulum pada semua jenjang pendidikan
dkembangkan dengan pendekatan kemampuan.
- kurikulum harus sesuai dengan cirri khas satuan
pendidikan pada masing-masing jenjang pendidikan.
- kurikulum pada semua jenjang pendidikan
dikembangkan sesuai dengan kebutuhan , potensi, dan minat peserta didik
dan tuntutan pihak-pihak yang memerlukan dan berkepentingan.
- kurikulum pada semua jenjang pendidikan
dikembangkan sesuai dengan tuntutan lingkungan .
- kurikulum pada semua jenjag
pendidikan mencakup aspek spiritual keagamaan, intelektualitas, watak
konsep diri, keterampilan belajar, kewirausahaan, keterampilan hidup yang
berharkat dan bermartabat, pola hidup sehat, estetika dan rasa kebangsaan.
B. Perubahan
Kurikulum dan Tujuannya
Perjalanan
sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami
perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004,
2006 dan yang sekarang 2013. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis
dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek
dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat
rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan
perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang
berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada
penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam
merealisasikannya.[1]
Perubahan
kurikulum tersebut tentu disertai dengan tujuan pendidikan yang berbeda-beda,
karena dalam setiap perubahan tersebut ada suatu tujuan tertentu yang ingin
dicapai untuk memajukan pendidikan nasional kita. Perubahan kurikulum di dunia
pendidikan Indonesia beserta tujuan yang ingin dicapai dapat diuraikan sebagai
berikut:
1. Kurikulum 1947
Kurikulum
saat itu diberi nama Rentjana Pelajaran
1947. Pada saat itu, kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi
sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang
pernah digunakan sebelumnya. Rentjana
Pelajaran 1947 boleh dikatakan sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda, karena suasana kehidupan berbangsa
saat itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekaan maka pendidikan sebagai
development conformism, bertujuan
untuk pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan
sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini.
2. Kurikulum 1952
Setelah
Rentjana Pelajaran 1947, pada tahun
1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan. Pada tahun 1952 ini diberi
nama Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini sudah
mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional, yang paling menonjol dan sekaligus
ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan
isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.
3. Kurikulum 1964
Usai
tahun 1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem
kurikulum di Indonesia. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964.
Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar
rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga
pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana yang meliputi pengembangan
daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral[2].
Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral,
kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmani.
Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional
praktis.
4. Kurikulum 1968
Kurikulum
1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan
struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa
pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan
dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Segi
tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada
upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani,
mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan
mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat
dan kuat.
5. Kurikulum 1975
Kurikulum
1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif. “Yang
melatarbelakangi adalah pengaruh konsep di bidang manejemen, yaitu MBO
(Management By Objective) yang terkenal saat itu. Metode, materi, dan tujuan
pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI).
Zaman ini dikenal istilah “satuan pelajaran”, yaitu rencana pelajaran setiap
satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi: petunjuk umum, Tujuan
Instruksional Khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar,
dan evaluasi. Kurikulum 1975 banyak dikritik. Guru dibuat sibuk menulis rincian
apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran.
- Kurikulum 1984
Kurikulum
1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi
faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975
yang disempurnakan”. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Mengamati sesuatu, mengelompokkan,
mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif
(CBSA) atau Student Active Leaming (SAL).
Kurikulum
1984 ini berorientasi kepada tujuan instruksional. Pandangan bahwa pemberian pengalaman
belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas di sekolah harus
benar-benar fungsional dan efektif, karena itu sebelum memilih atau
menentukan bahan ajar, yang pertama harus dirumuskan adalah tujuan apa yang
harus dicapai siswa.
7. Kurikulum 1994
Kurikulum
1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan
Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan
mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. Sistem caturwulan yang pembagiannya
dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi
siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak. Tujuan pengajaran
menekankan pada pemahaman konsep dan keterampilan menyelesaikan soal dan
pemecahan masalah.
- Kurikulum 2004 (KBK)
Kurikukum
2004 ini lebih dikenal dengan Kurikulum
Berbasis Kompetensi (KBK).
Pendidikan berbasis kompetensi menitikberatkan pada pengembangan kemampuan untuk melakukan (kompetensi)
tugas-tugas tertentu sesuai dengan standar performance
yang telah ditetapkan. Competency
Based Education is education geared toward preparing indivisuals to perform
identified competencies[3].
Hal ini mengandung arti bahwa pendidikan mengacu pada upaya penyiapan individu
yang mampu melakukan perangkat kompetensi yang telah ditentukan. Implikasinya
adalah perlu dikembangkan suatu kurikulum berbasis kompetensi sebagai pedoman
pembelajaran.
Kurikulum
Berbasis Kompetensi berorientasi pada: (1) hasil dan dampak yang diharapkan
muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang
bermakna, dan (2) keberagaman yang dapat dimanifestasikan sesuai dengan
kebutuhannya.
Tujuan
yang ingin dicapai menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara
individual maupun klasikal.
Mengimplementasi
kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi, setiap sekolah memiiliki kebebasan
untuk menekankan dan mengedepankan kompetensi tertentu sesuai dengan visi, misi
sekolah dan daerah masing-masing.[4]
Salah satu kelebihan yang paling utama dari kurikulum ini adalah biasa
mendongkrak kualitas Sumber Daya Manusia
(SDM), serta mengimplementasi masalah relevan pendidikan.
9. Kurikulum 2006 (KTSP)
Kurikulum
2006 ini dikenal dengan sebutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Awal 2006 ujicoba KBK dihentikan, munculah KTSP. Tinjauan dari segi isi dan
proses pencapaian target kompetensi pelajaran oleh siswa hingga teknis evaluasi
tidaklah banyak perbedaan dengan Kurikulum 2004. Perbedaan yang
paling menonjol adalah guru lebih diberikan kebebasan untuk merencanakan
pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi siswa serta kondisi sekolah
berada. Hal ini disebabkan Karangka Dasar (KD), Standar Kompetensi Lulusan
(SKL), Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD) setiap mata pelajaran
untuk setiap satuan pendidikan telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan
Nasional. Jadi pengambangan perangkat pembelajaran, seperti silabus dan sistem
penilaian merupakan kewenangan satuan pendidikan (sekolah) di bawah koordinasi
dan supervisi pemerintah Kabupaten/Kota.[5]
Tujuan
KTSP ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan,
kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu
kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program
pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah. Tujuan Panduan Penyusunan
KTSP ini untuk menjadi acuan bagi satuan pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB,
SMA/MA/SMALB, dan SMK/MAK dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum yang akan
dilaksanakan pada tingkat satuan pendidikan yang bersangkutan.[6]
- Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 atau
Pendidikan Berbasis Karakter adalah kurikulum baru yang dicetuskan oleh
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menggantikan Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan. Kurikulum 2013 merupakan sebuah kurikulum yang mengutamakan
pemahaman, skill, dan pendidikan berkarakter, siswa dituntut untuk paham atas
materi, aktif dalam berdiskusi dan presentasi serta memiliki sopan santun
disiplin yang tinggi. Kurikulum ini menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan yang diterapkan sejak 2006 lalu, dalam Kurikulum 2013 mata pelajaran wajib diikuti oleh seluruh peserta
didik di satu satuan pendidikan pada setiap satuan atau jenjang pendidikan.
Mata pelajaran pilihan yang
diikuti oleh peserta didik dipilih sesuai dengan pilihan mereka. Kedua kelompok
mata pelajaran tersebut (wajib dan pilihan) terutama dikembangkan dalam
struktur kurikulum pendidikan menengah (SMA dan SMK).
Pengetahuan dalam kurikulum
2013 sama seperti kurikulum-kurikulum sebelumnya, yaitu penekanan pada tingkat
pemahaman siswa dalam pelajaran. Nilai dari aspek pengetahuan bisa didapat dari
Ulangan Harian, Ujian Tengah/Akhir Semester, dan Ujian Kenaikan Kelas. Pada
kurikulum 2013, Pengetahuan bukan aspek utama seperti pada kurikulum-kurikulum
sebelumnya.
Keterampilan merupakan aspek
baru dalam kurikulum di Indonesia. Keterampilan merupakan penekanan pada skill
atau kemampuan. misalnya adalah kemampuan untuk mengemukakan pendapat,
berdiksusi/bermusyawarah, membuat laporan, serta berpresentasi. Aspek keterampilan
merupakan salah satu aspek penting karena hanya dengan pengetahuan, siswa tidak
dapat menyalurkan pengetahuan tersebut sehingga hanya menjadi teori semata.
Aspek sikap merupakan aspek
tersulit untuk dinilai. Sikap meliputi sopan santun, adab dalam belajar,
absensi, sosial, dan agama. Kesulitan penilaian dalam aspek ini karena guru
tidak setiap saat mengawasi siswa-siswinya. Sehingga penilaian tidak begitu
efektif.[7]
PENUTUP
Kesimpulan
1.
Pengertian,
Dasar, dan Tujuan Kurikulum
a.
Pengertian
Kurikulum
adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan
bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
b.
Dasar-dasar dalam mengembangkan kurikulum yaitu:
· kuriulum disusun untuk
mewujudkan system pendidikan nasional, dikembangkan
dengan pendekatan kemampuan,sesuai dengan cirri khas
satuan pendidikan pada masing-masing jenjang pendidikan, dikembangkan
sesuai dengan kebutuhan , potensi, dan minat peserta didik dan tuntutan
pihak-pihak yang memerlukan dan berkepentingan, dikembangkan sesuai dengan
tuntutan lingkungan, mencakup
aspek spiritual keagamaan, intelektualitas, watak konsep diri, keterampilan
belajar, kewirausahaan, keterampilan hidup yang berharkat dan bermartabat, pola
hidup sehat, estetika dan rasa kebangsaan.
2.
Perubahan
Kurikulum dan Tujuannya
a.
Kurikulum
1947: Bertujuan
untuk pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan
sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini.
b.
Kurikulum
1952 paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap
rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan
kehidupan sehari-hari.
c.
Kurikulum
1964: Pokok-pokok pikiran kurikulumnya ini adalah bahwa pemerintah mempunyai
keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada
jenjang SD.
d.
Kurikulum
1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia
Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan
keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama.
e.
Kurikulum
1975: Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar
pendidikan lebih efisien dan efektif. “
f.
Kurikulum
1984 berorientasi kepada tujuan instruksional.
g.
Kurikulum
1994: Tujuan pengajaran menekankan pada pemahaman konsep
dan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.
h.
Kurikulum
2004 (KBK) bertujuan yang ingin dicapai menekankan pada ketercapaian kompetensi
siswa baik secara individual maupun klasikal.
i.
Kurikulum
2006 (KTSP disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian
program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.
j.
Kurikulum
2013 atau Pendidikan Berbasis Karakter merupakan sebuah
kurikulum yang mengutamakan pemahaman, skill, dan pendidikan berkarakter, siswa
dituntut untuk paham atas materi, aktif dalam berdiskusi dan presentasi serta
memiliki sopan santun disiplin yang tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional
Republik Indonesia. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Jakarta: 2003.
Hamalik, Oemar. (1993). Model-Model Pengembangan Kurikulum.
Bandung: PPs Universitas Pendidikan Indonesia.
______________. (2008). Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum.
Remaja Rosdakarya : Bandung.
Hasan, Hamid. Pendekatan Multikultural untuk Penyempurnaan Kurikulum Nasional.
http//www.pdk.go.id/balitbang/Publikasi/Jurnal/No._026/pendekatan_hamid_ hasan.
2001.
Nasution. 2011. Sejarah Pendidikan
Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Rosdakarya : Bandung.
Sudrajat, Akhmad. Pegembangan Diri dalam KTSP.
http://guruw. wordpress.com/. 2008
Sukmadinata, Nana S. (2008). Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek.
Remaja
[1]Nasution.
2011. Sejarah Pendidikan Indonesia.
Jakarta: Bumi Aksara. hlm 3.
[2] Hamalik,
Oemar. (1993). Model-Model Pengembangan
Kurikulum. Bandung: PPs Universitas Pendidikan Indonesia. hlm. 88.
[3]Hamalik, Oemar. (1993). Model-Model
Pengembangan Kurikulum. hlm. 89.
[4]Sukmadinata.
Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT
Rosdakarya, hlm. 23.
[5]Sudrajat, Akhmad. Pegembangan
Diri dalam KTSP. http://guruw. wordpress.com/. 2008
[6]Hasan, Hamid. Pendekatan
Multikultural untuk Penyempurnaan Kurikulum Nasional.
http//www.pdk.go.id/balitbang/Publikasi/Jurnal/No._026/pendekatan_hamid_ hasan.
2001.
[7] https://jasmanfaizza.wordpress.com/2014/08/20/buku-guru-dan-siswa-kurikulum-2013-format-pdf/.
Minggu, 8 Oktober 2017 pukul 13:20.
Demi pengembangan makalah ini kami selaku penyusun makalah mengharapkan penilaian, masukan saran dari para pembaca sekalian, silahkan ketik di kolom komentar,terima kasih

Belum ada tanggapan untuk "Makalah Dasar - Dasar Pengembangan Kurikulum Kelompok 2"
Posting Komentar