Motivasi Menulis

Makalah Dasar - Dasar Pengembangan Kurikulum Kelompok 3

HAKEKAT PESERTA DIDIK USIA SMP-SMA
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Mata Kuliah “Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum”






Disusun Oleh  :
KELOMPOK 3
1.      Eva Nurul Fadilah             (1608101009)
2.      Pipih Fajriyatul Hasanah   (1608101034)
3.      Insan Kamiludin                (1608101012)

Dosen Pengampu :
Drs. H. Nawawi, M.pd
Jurusan/Kelas/Semester : PAI/A/III
2017

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon
Jl.Perjuangan By Pass Sunyaragi Cirebon
KATA PENGANTAR
Segala puji kita panjatkan kehadirat Allah SWT, shalawat dan salam mudah-mudahan senantiasa terlimpah curahkan pada jungjungan dan panutan kita Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, shahabat, dan para pengikutnya sampai akhir zaman.
        Alhamdulillah dengan rahmat Allah SWT, tugas mata kuliah “Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum” dengan judul “Hakikat Peserta Didik Usian SMA/SMK” ini telah selesai kami susun.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, masih banyak kekurangan. Kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan tugas kami.
          Atas segala kekurangannya kami ucapkan mohon maaf dan semoga kita mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya. Aamiin




                          Cirebon,  24 Oktober 2017
                                   


Kelompok 3




DAFTAR ISI

Kata Pengantar.............................................................................................. i
Daftar Isi...................................................................................................... ii
BAB I:  PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................................ 1
B.  Rumusan Masalah................................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan...................................................................................... 1
BAB II: PEMBAHASAN
A.  Hakekat dan Karakteristik Peserta Didik Usia SMP/MTs..................... 2
B.  Hakekat dan Karakteristik Peserta Didik Usia SMA/MA..................... 5
BAB III : PENUTUP
Kesimpulan................................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................. 10













BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Peserta didik memiliki perbedaan satu sama lain, karakteristik yang terdapat pada anak usia Sekolah Menengah Atas (SMA) sangat berbeda dengan karakteristik yang terdapat pada anak usia Sekolah Dasar (SD) maupun dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Peserta didik memiliki perbedaan dalam minat, kemampuan, kesenangan, pengalaman, dan cara belajar.
Anak usia Sekolah Menengah mengalami perubahan yang cepat, memang tidak bisa dihindarkan bahwa tingkah laku sebagian remaja mengalami ketidaktentuan saat mereka mencari kedudukan dan identitas. Para remaja bukan lagi kanak-kanak, tetapi juga belum menjadi orang dewasa. Mereka cenderung dan bersifat lebih sensitif karena perannya belum tegas. Ia mengalami pertentangan nilai-nilai dan harapan-harapan yang akibatnya lebih mempersulit dirinya yang sekaligus mengubah perannya teman sebaya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah hakekat dan karakteristik peserta didik usia SMP-MTs?
2.      Bagaimanakah hakekat dan karakteristik peserta didik usia SMA-MA?

C.     Tujuan
1.      Mengetahui bagaimana hakekat peserta didik usia SMP-MTs
2.      Mengetahui bagaimana hakekat peserta didik usia SMA-MA








BAB II
PEMBAHASAN
A.     Hakikat dan Karakteristik Peserta Didik Usia SMP/MTs
1.   Hakikat Peserta Didik
         Peserta didik adalah makhluk yang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya masing-masing, mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju kearah titik optimal kemampuan fitrahnya, di dalam pandangan yang lebih modern anak didik tidak hanya dianggap sebagai objek atau sasaran pendidikan, melainkan juga mereka harus diperlukan sebagai subjek pendidikan, diantaranya adalah dengan cara melibatkan peserta didik dalam memecahkan masalah dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan pengertian ini, maka anak didik dapat dicirikan sebagai orang yang tengah memerlukan pengetahuan atau ilmu, bimbingan dan pengarahan.
        Dasar-dasar kebutuhan anak untuk memperoleh pendidikan, secara kodrati anak membutuhkan dari orang tuanya. Dasar-dasar kodrati ini dapat dimengerti dari kebutuhan-kebutuhan dasar yang dimiliki oleh setiap anak dalam kehidupannya.[1]
2.    Karakteristik Perkembangan Anak Usia SMP-MTs
Peserta didik adalah manusia dengan segala fitrahnya. Mereka mempunyai perasaan dan pikiran serta keinginan atau aspirasi. Mereka mempunyai kebutuhan dasar yang perlu dipenuhi (pangan, sandang, papan), kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan, dan kebutuhan untuk mengaktualisasi dirinya (menjadi dirinya sendiri sesuai dengan potensinya), dalam tahap perkembangannya, peserta didik  SMP berada pada tahap periode  perkembangan Operasional formal (umur 11/12-18 tahun).
 Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mampu berpikir abstrak dan logis. Model berpikir ilmiah dengan tipe hipotetico deductive dan inductive sudah mulai dimiliki anak, dengan kemampuan menarik kesimpulan, menafsirkan dan mengembangkan hipotesa. Sebagai upaya memahami mekanisme perkembangan intelektual, Piaget menggambarkan fungsi intelektual kedalam tiga persfektif, yaitu: (1) proses mendasar bagaimana terjadinya perkembangan kognitif (asimilasi, akomodasi, dan equilibirium); (2) cara bagaimana pembentukan pengetahuan; dan (3) tahap-tahap perkembangan intelektual. Berikut ini disajikan perkembangan yang sangat erat kaitannya dengan pembelajaran, yaitu perkembangan aspek kognitif, psikomotor, dan afektif.
1.               Perkembangan Aspek Kognitif
Periode yang dimulai pada usia 12 tahun, yaitu yang lebih kurang sama dengan usia peserta didik  SMP, merupakan ‘periodof formal operation’, pada usia ini, yang berkembang pada peserta didik  adalah kemampuan berfikir secara simbolis dan bisa memahami sesuatu secara bermakna (meaningfully) tanpa memerlukan objek yang konkrit atau bahkan objek yang visual. Peserta didik  telah memahami hal-hal yang bersifat imajinatif. Implikasinya dalam pembelajaran, bahwa belajar akan bermakna kalau input (materi pelajaran) sesuai dengan minat dan bakat peserta didik. Pembelajaran  akan berhasil kalau penyusun silabus dan guru mampu menyesuaikan tingkat kesulitan dan variasi input dengan harapan serta karakteristik peserta didik  sehingga motivasi belajar mereka berada pada tingkat maksimal, pada tahap perkembangan ini juga ada ketujuh kecerdasan dalam MultipleIntelligences  yaitu: 1) kecerdasan linguistik (kemampuan berbahasa yang fungsional), 2) kecerdasan logis-matematis (kemampuan berfikir runtut), 3) kecerdasan musikal (kemampuan menangkap dan menciptakan pola nada dan irama), 4) kecerdasan spasial (kemampuan membentuk imaji mental tentang realitas), 5) kecerdasan kinestetik-ragawi (kemampuan menghasilkan gerakan motorik yang halus), 6) kecerdasan intra-pribadi (kemampuan untuk mengenal diri sendiri dan mengembangkan rasa jati diri), kecerdasan antarpribadi (kemampuan memahami orang lain), di antara ketujuh macam kecerdasan ini,  apabila guru mampu meramu pembelajaran yang sesuai dengan karakter peserta didik yang dipadukan dengan karakteristik masing-masing mata pelajaran, maka  akan dapat membantu siswa untuk melalukan eksplorasi dan elaborasi dalam rangka membangun konsep.
2.               Perkembangan Aspek Psikomotor
Aspek psikomotor merupakan salah satu aspek yang penting untuk diketahui oleh guru. Perkembangan aspek psikomotor juga melalui beberapa tahap. Tahap-tahap tersebut antara lain:
1.               Tahap kognitif
Tahap ini ditandai dengan adanya gerakan-gerakan yang kaku dan lambat. Ini terjadi karena peserta didik  masih dalam taraf belajar untuk mengendalikan gerakan-gerakannya. Dia harus berpikir sebelum melakukan suatu gerakan.
2.               Tahap asosiatif
Pada tahap ini, seorang peserta didik  membutuhkan waktu yang lebih pendek untuk memikirkan tentang gerakan-gerakannya. Dia mulai dapat mengasosiasikan gerakan  yang sedang dipelajarinya dengan gerakan yang sudah dikenal. Tahap ini masih dalam tahap pertengahan dalam perkembangan psikomotor.
3.               Tahap otonomi
Pada tahap ini, seorang peserta didik  telah mencapai tingkat otonomi yang tinggi. Proses belajarnya sudah hampir lengkap meskipun dia tetap dapat memperbaiki gerakan-gerakan yang dipelajarinya. Tahap ini disebut tahap otonomi karena peserta didik  sudah tidak memerlukan kehadiran instruktur untuk melakukan gerakan-gerakan.
3.                Perkembangan Aspek Afektif
Keberhasilan proses pembelajaran juga ditentukan oleh pemahaman tentang perkembangan aspek afektif peserta didik . Ranah afektif tersebut mencakup emosi atau perasaan yang dimiliki oleh setiap peserta didik. Pemahaman terhadap apa yang dirasakan dan direspon, dan apa yang diyakini dan diapresiasi merupakan suatu hal yang sangat penting dalam teori pemerolehan bahasa kedua atau bahasa asing. Faktor pribadi yang lebih spesifik dalam tingkah laku peserta didik  yang sangat penting dalam penguasaan berbagai materi pembelajaran, yang meliputi:
1.  Self-esteem, yaitu penghargaan yang diberikan seseorang kepada dirinya sendiri.
2. Inhibition, yaitu sikap mempertahankan diri atau melindungi ego.
3.  Anxiety (kecemasan), yang meliputi rasa frustrasi, khawatir, tegang, dsbnya.
4.  Motivasi, yaitu dorongan untuk melakukan suatu kegiatan.
5.  Risk-taking, yaitu keberanian mengambil risiko.
6.  Empati, yaitu sifat yang berkaitan dengan pelibatan diri individu pada perasaan orang lain.
Secara umum, semakin tinggi tahap perkembangan kognitif seseorang akan semakin teratur dan semakin abstrak cara berfikirnya. Guru harus memahami tahap-tahap perkembangan kognitif, psikomotorik, dan afektif peserta didiknya, agar ketika mendesain dan melaksakan proses pembelajaran  sesuai dengan tahap perkembangan yang telah dijelaskan diatas. Sehingga dapat tercipta proses pembelajaran yang bermakna (meaningfully).[2]
B.      Karakteristik Peserta Didik Usia Sekolah SMA/MA
Masa ini yaitu pada usia sekolah menengah yaitu usia SLTP dan SLTA, anak berada pada masa remaja atau pubertas, masa remaja menurut Mappiare (1982), berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi perempuan dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi laki-laki. Rentang usia remaja ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu usia 12/13 tahun sampai dengan 17/18 tahun adalah remaja awal, dan usia 17/18 tahun sampai dengan 21/22 tahun adalah remaja akhir.
Remaja, yang dalam bahasa aslinya disebut adolescence, berasal dari bahasa Latin adolescence yang artinya “tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan”. Bangsa primitif dan orang-orang purbakala memandang masa puber dan masa remaja tidak berbeda dengan periode lain dalam rentang kehidupan. Anak di anggap sudah dewasa apabila sudah mampu mengadakan reproduksi.
Perkembangan lebih lanjut, istilah adolescence sesungguhnya memiliki arti yang luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik (Hurlock, 1991). Pandangan ini didukung oleh Piaget (Hurlock, 1991) yang mengatakan bahwa secara psikologis, remaja adalah suatu usia dimana individu menjadi terintegrasi kedalam masyarakat dewasa, suatu usia dimana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tuas melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar. Memasuki masyarakat dewasa ini mengandung banyak aspek afektif, lebih atau kurang dari usia pubertas.
Remaja juga sedang mengalami perkembangan pesat dalam aspek intelektual. Transformasi intelektual dari cara berfikir remaja ini memungkinkan mereka tidak hanya mampu mengintegrasikan dirinya ke dalam masyarakat dewasa, tapi juga merupakan karakteristik yang paling menonjol dari semua periode perkembangan (Shaw dan Costanzo, 1985). [3]
Fase remaja merupakan fase perkembangan yang tengah berada pada masa amat potensial, baik dilihat dari aspek kognitif, emosi, maupun fisik.
Perkembangan intelektual yang terus-menerus menyebabkan remaja mencapai tahap berfikir operasional formal. Tahap ini memungkinkan remaja mampu berfikir secara lebih abstrak, menguji hipotesis, dan mempertimbangkan apa saja peluang yang ada padanya daripada sekedar melihat apa adanya. Kemampuan intelektual seperti ini yang membedakan fase remaja dari fase-fase sebelumnya. (Shaw dan Costanzo, 1985).
Pada masa transisi ini terjadi perubahan-perubahan yang sangat cepat, diantaranya :
a.    Pertumbuhan Fisik Remaja
Pesatnya pertumbuhan fisik pada masa remaja sering menimbulkan kejutan pada diri remaja itu sendiri. Pertumbuhan fisik yang cepat pada remaja sangat membutuhkan zat-zat pembangun yang diperoleh dari makanan sehingga remaja pada umumnya menjadi pemakan yang kuat. Berikut ini beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fisik :
     1). Faktor Internal
      Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu. Termasuk kedalam faktor internal ini adalah sebagai berikut :
Ø  Sifat Jasmaniah yang diwariskan dari orang tuanya
Anak yang ayah ibunya bertubuh tinggi cenderung lebih lekas menjadi tinggi daripada anak yang berasal dari orang tua yang bertubuh pendek.
Ø  Kematangan
Secara sepintas, pertumbuhan fisik seolah-olah seperti sudah direncanakan oleh faktor kematangan. Meskipun anak itu diberi makanan yang bergizi tinggi, tetapi kalau saat kematangan belum sampai, pertumbuhan akan tertunda. Misalnya, anak berumur tiga bulan diberi makanan yang cukup bergizi supaya pertumbuhan otot kakinya berkembang sehingga mampu untuk berjalan, ini tidak mungkin berhasil sebelum mencapai umur lebih dari sepuluh bulan.
     2). Faktor Eksternal
      Faktor eksternal ialah faktor yang berasal dari luar diri anak. Termasuk ke dalam faktor eksternal adalah sebagai berikut :
Ø  Kesehatan
Anak sering sakit-sakitan pertumbuhan fisiknya akan terhambat
Ø  Makanan
Anak yang kurang gizi pertumbuhannya akan terhambat, sebaliknya yang cukup gizi pertumbuhannya pesat
Ø  Stimulasi lingkungan
Individu yang tubuhnya sering dilatih untuk meningkatkan percepatan pada pertumbuhannya akan berbeda dengan yang tidak pernah mendapat latihan.
b.      Tahap Perkembangan Intelek/Kognitif
     Jean Piaget (Bybee dan Sund 1982) membagi perkembangan intelek/kognitif menjadi empat tahapan sebagai berikut :
1)      Tahap Sensori-Motoris
Tahap ini dialami pada usia 0-2 tahun.  Tahap ini, anak berada dalam suatu masa pertumbuhan yang ditandai oleh kecenderungan-kecenderungan sensori-motoris yang sangat jelas. Segala perbuatan merupakan perwujudan dari proses pematangan aspek sensori-motoris tersebut.
Menurut Piaget (Bybee dan Sund, 1982: 27), pada tahap ini interaksi anak dengan lingkungannya, termasuk orang tuanya, terutama dilakukan melalui perasaan dan otot-ototnya. Interaksi ini terutama diarahkan oleh sensasi-sensasi dari lingkungannya. Dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya, termasuk juga dengan orang tuanya, anak mengembangkan kemampuannya untuk mempersepsi, melakukan sentuhan-sentuhan, melakukan berbagai gerakan, dan secara perlahan-lahan belajar mengoordinasikan tindakan-tindakannya.
2)      Tahap Pra-Operasional
Tahap ini berlangsung pada usia 2-7 tahun. Tahap ini disebut juga tahap intuisi sebab perkembangan kognitifnya memperlihatkan kecenderungan yang ditandai oleh suasana intuitif. Artinya, semua perbuatan rasionalnya tidak didukung oleh pemikiran tetapi oleh unsure perasaan, kecenderungan alamiah, sikap-sikap yang diperoleh dari orang-orang bermakna, dan lingkungan sekitarnya.
Tahap ini menurut Pieget (Bybee dan Sund, 1982: 29), anak sangat bersifat egosentris sehingga seringkali mengalami masalah dalam berinteraksi dengan lingkungannya, termasuk dengan orangtuanya, dalam berinteraksi dengan orang lain, anak cenderung sulit untuk dapat memahami pandangan orang lain dan lebih banyak mengutamakan pandangannya sendiri, dalam berinteraksi dengan lingkungannya, ia masih sulit untuk membaca kesempatan atau kemungkinan-kemungkinan karena masih punya anggapan bahwa hanya ada satu kebenaran atau peristiwa dalam setiap situasi.
Tahap ini, anak tidak selalu ditentukan oleh pengamatan indrawi saja tetapi juga pada intuisi. Piaget menyebut tahap ini sebagai collective monologue, pembicara yang egosentris dan sedikit hubungan dengan orang lain.
3)      Tahap Operasional Konkret
Tahap ini berlangsung anatara usia 7-11 tahun, pada tahap ini, anak mulai menyesuaikan diri dengan realitas konkret dan sudah mulai berkembang rasa ingin taunya. Menurut Piaget (Bybee dan Sund, 1982), pada tahap ini interaksinya dengan lingkungan, termasuk dengan orang tuanya, sudah semakin berkembang dengan baik karena egosentrisnya sudah semakin berkurang. Anak sudah dapat mengamati, menimbang, mengevaluasi, dan menjelaskan pikiran-pikiran orang lain dalam cara-cara yang kurang egosentris dan lebih objektif. Tahap ini juga anak sudah mulai memahami hubungan fungsional karena mereka sudah menguji coba suatu permasalahan.  
4)      Tahap Operasional Formal
Tahap ini dialami oleh anak pada usia 11 tahun ke atas. Masa ini, anak telah mampu mewujudkan suatu keseluruhan dalam pekerjaannya yang merupakan hasil dari berfikir logis. Aspek perasaan dan moralnya juga telah berkembang sehingga dapat mendukung penyelesaian tugas-tugasnya.
Menurut Piaget (Bybee dan Sund, 1982), interaksinya dengan lingkungan sudah amat luas, menjangkau banyak teman sebayanya dan bahkan berusaha untuk dapat berinteraksi dengan orang dewasa.[4]
3.      Karakteristik Penyesuaian Diri Remaja
        Karakteristik penyesuaian diri remaja adalah sebagaimana dipaparkan berikut ini :
a.       Penyesuaian Diri Remaja terhadap Peran dan Identitasnya
Pesatnya perkembangan fisik dan psikis, seringkali menyebabkan remaja mengalami krisis peran dan identitas. Sesungguhnya, remaja senantiasa berjuang agar dapat memainkan perannya agar sesuai dengan perkembangan masa peralihan dari masa anak-anak menjadi masa dewasa. Tujuannya adalah memperoleh identitas diri yang semakin jelas dan dapat dimengerti serta diterima oleh lingkungannya, baik lingkungan keluarga, sekolah, ataupun masyarakat, dalam konteks ini, penyesuaian diri remaja secara khas berupaya untuk berperan sebagai subjek yang kepribadiannya memang berbeda dengan anak-anak ataupun orang dewasa.
b.      Penyesuaian Diri Remaja terhadap Pendidikan
               Krisis identitas atau masa topan dan badai pada diri remaja seringkali menimbulkan kendala dalam penyesuaian diri terhadap kegiatan belajarnya. Umumnya, remaja sebenarnya mengetahui bahwa untuk menjadi orang yang sukses harus rajin belajar. Namun, karena dipengaruhi oleh upaya pencarian identitas diri yang kuat menyebabkan mereka seringkali lebih senang mencari kegiatan-kegiatan selain belajar tetapi menyenangkan bersama-sama dengan kelompoknya. Akibatnya, yang muncul dipermukaan adalah seringkali ditemui remaja yang malas dan tidak disiplin dalam belajar. Tidak jarang remaja yang ingin sukses dalam menempuh pendidikannya, tetapi dengan cara mudah dan tidak perlu belajar susah payah. Jadi dalam konteks ini, penyesuaian diri remaja secara khas berjuang ingin meraih sukses dalam studi, tetapi dengan cara-cara yang menimbulkan perasaan bebas dan senang, terhindar dari tekanan dan konflik, atau bahkan frustasi.
c.       Penyesuaian Diri Remaja terhadap Kecemasan, Konflik, dan Frustasi
               Karena dinamika perkembangan yang sangat dinamis, remaja seringkali dihadapkan pada kecemasan, konflik, dan frustasi. Strategi penyesuaian diri terhadap kecemasan, konflik, dan frustasi tersebut biasanya melalui suatu mekanisme yang oleh Sigmund Freud (Corey, 1989) disebut dengan mekanisme pertahanan diri (Defence mechanism) seperti kompensasi, rasionalisasi, proyeksi, sublimasi, identifikasi, regresi, dan fikasi.
               Cara-cara yang ditempuh tersebut ada yang cenderung negatif atau kurang sehat dan ada pula yang relatif positif, misalnya sublimasi, dalam batas-batas kewajaran dan situasi tertentu untuk sementara cara-cara tersebut memang masih memberikan manfaat dalam upaya penyesuaian diri remaja. Namun, jika cara-cara tersebut seringkali ditempuh dan menjadi kebiasaan, hal itu akan menjadi tidak sehat.[5]

















BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
1.      Makalah yang telah kami tulis dapat disimpulkan bahwa perkembangan anak usia SMP-MTs dan SMA-MA memiliki beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangannya.
2.      Adanya keharusan guru mengenal karakteristik peserta didik, berarti guru harus menguasai dan mendalami psikologi perkembangan peserta didik, yakni sebuah disiplin ilmu yang secara khusus membahas tentang aspek-aspek atau karakteristik perkembangan peserta didik.
3.      Masa remaja menurut Mappiare (1982), berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi perempuan dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi laki-laki. Rentang usia remaja ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu usia 12/13 tahun sampai dengan 17/18 tahun adalah remaja awal, dan usia 17/18 tahun sampai dengan 21/22 tahun adalah remaja akhir.







DAFTAR PUSTAKA
Dihimpun dari berbagai sumber oleh Heryanto, S.Pd.Ina
Muhammad Ali dan Muhammad Asrori. Psikologi Remaja. Jakarta : PT Bumi Aksara
Agung Hartono, Perkembangan Peserta didik. Jakarta : Rineka Cipta. 2008






[1] Agung Hartono, Perkembangan Peserta didik. Jakarta : Rineka Cipta. 2008
[2] Dihimpun dari berbagai sumber oleh Heryanto, S.Pd.Ina
[3] Muhammad Ali dan Muhammad Asrori. Psikologi Remaja. Jakarta : PT Bumi Aksara. Hlm : 9-10
[4] Muhammad Ali dan Muhammad Asrori. Hlm : 27-29
[5] Muhammad Ali dan Muhammad Asrori.  hlm : 179-181


Demi pengembangan makalah ini kami selaku penyusun makalah mengharapkan penilaian, masukan saran dari para pembaca sekalian, silahkan ketik di kolom komentar,terima kasih

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Makalah Dasar - Dasar Pengembangan Kurikulum Kelompok 3"

Posting Komentar