HAKEKAT PESERTA DIDIK USIA SMP-SMA
Disusun Untuk Memenuhi
Tugas Terstruktur
Mata Kuliah “Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum”
Disusun Oleh :
KELOMPOK 3
1. Eva Nurul
Fadilah (1608101009)
2. Pipih
Fajriyatul Hasanah (1608101034)
3. Insan Kamiludin (1608101012)
Dosen Pengampu :
Drs. H.
Nawawi, M.pd
Jurusan/Kelas/Semester : PAI/A/III
2017
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon
Jl.Perjuangan By Pass Sunyaragi Cirebon
KATA PENGANTAR
Segala puji kita panjatkan kehadirat
Allah SWT, shalawat dan salam mudah-mudahan senantiasa terlimpah curahkan pada
jungjungan dan panutan kita Rasulullah Muhammad
SAW, keluarga, shahabat, dan para pengikutnya sampai akhir zaman.
Alhamdulillah dengan rahmat Allah SWT, tugas mata kuliah “Dasar-dasar
Pengembangan Kurikulum” dengan judul “Hakikat Peserta Didik Usian SMA/SMK” ini
telah selesai kami susun.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari
sempurna, masih banyak kekurangan. Kami mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan tugas kami.
Atas segala kekurangannya kami ucapkan mohon maaf dan semoga kita
mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya. Aamiin
Cirebon,
24 Oktober 2017
Kelompok 3
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar.............................................................................................. i
Daftar
Isi...................................................................................................... ii
BAB
I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah................................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan...................................................................................... 1
BAB
II: PEMBAHASAN
A. Hakekat
dan Karakteristik Peserta Didik Usia SMP/MTs..................... 2
B. Hakekat
dan Karakteristik Peserta Didik Usia SMA/MA..................... 5
BAB
III :
PENUTUP
Kesimpulan................................................................................................. 11
DAFTAR
PUSTAKA.............................................................................. 10
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peserta
didik memiliki perbedaan satu sama lain, karakteristik yang terdapat pada anak
usia Sekolah Menengah Atas (SMA) sangat berbeda dengan karakteristik yang
terdapat pada anak usia Sekolah Dasar (SD) maupun dengan Sekolah Menengah
Pertama (SMP).
Peserta
didik memiliki perbedaan dalam minat, kemampuan, kesenangan, pengalaman, dan
cara belajar.
Anak
usia Sekolah Menengah mengalami perubahan yang cepat, memang tidak bisa
dihindarkan bahwa tingkah laku sebagian remaja mengalami ketidaktentuan saat
mereka mencari kedudukan dan identitas. Para remaja bukan lagi kanak-kanak,
tetapi juga belum menjadi orang dewasa. Mereka cenderung dan bersifat lebih
sensitif karena perannya belum tegas. Ia mengalami pertentangan nilai-nilai dan
harapan-harapan yang akibatnya lebih mempersulit dirinya yang sekaligus mengubah
perannya teman sebaya.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakah hakekat dan
karakteristik peserta didik usia SMP-MTs?
2.
Bagaimanakah hakekat dan
karakteristik peserta didik usia SMA-MA?
C. Tujuan
1.
Mengetahui bagaimana hakekat
peserta didik usia SMP-MTs
2.
Mengetahui bagaimana hakekat
peserta didik usia SMA-MA
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Hakikat
dan Karakteristik Peserta Didik Usia SMP/MTs
1. Hakikat Peserta Didik
Peserta didik adalah makhluk yang berada dalam proses
perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya masing-masing, mereka memerlukan
bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju kearah titik optimal kemampuan
fitrahnya, di dalam pandangan yang lebih modern anak didik tidak hanya dianggap
sebagai objek atau sasaran pendidikan, melainkan juga mereka harus diperlukan
sebagai subjek pendidikan, diantaranya adalah dengan cara melibatkan peserta
didik dalam memecahkan masalah dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan
pengertian ini, maka anak didik dapat dicirikan sebagai orang yang tengah
memerlukan pengetahuan atau ilmu, bimbingan dan pengarahan.
Dasar-dasar
kebutuhan anak untuk memperoleh pendidikan, secara kodrati anak membutuhkan
dari orang tuanya. Dasar-dasar kodrati ini dapat dimengerti dari
kebutuhan-kebutuhan dasar yang dimiliki oleh setiap anak dalam kehidupannya.[1]
2.
Karakteristik Perkembangan Anak Usia SMP-MTs
Peserta didik
adalah manusia dengan segala fitrahnya. Mereka mempunyai perasaan dan pikiran
serta keinginan atau aspirasi. Mereka mempunyai kebutuhan dasar yang perlu
dipenuhi (pangan, sandang, papan), kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan untuk
mendapatkan pengakuan, dan kebutuhan untuk mengaktualisasi dirinya (menjadi
dirinya sendiri sesuai dengan potensinya), dalam tahap perkembangannya, peserta
didik SMP berada pada tahap periode perkembangan Operasional
formal (umur 11/12-18 tahun).
Ciri pokok
perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mampu berpikir abstrak dan logis.
Model berpikir ilmiah dengan tipe hipotetico deductive dan inductive sudah
mulai dimiliki anak, dengan kemampuan menarik kesimpulan, menafsirkan dan mengembangkan
hipotesa. Sebagai
upaya memahami mekanisme perkembangan intelektual, Piaget menggambarkan fungsi
intelektual kedalam tiga persfektif, yaitu: (1) proses mendasar bagaimana
terjadinya perkembangan kognitif (asimilasi, akomodasi, dan equilibirium); (2)
cara bagaimana pembentukan pengetahuan; dan (3) tahap-tahap perkembangan
intelektual. Berikut ini disajikan perkembangan yang sangat erat kaitannya
dengan pembelajaran, yaitu perkembangan aspek kognitif,
psikomotor, dan afektif.
1.
Perkembangan Aspek Kognitif
Periode yang
dimulai pada usia 12 tahun, yaitu yang lebih kurang sama dengan usia peserta
didik SMP, merupakan ‘periodof formal operation’, pada usia
ini, yang berkembang pada peserta didik adalah kemampuan berfikir secara
simbolis dan bisa memahami sesuatu secara bermakna (meaningfully) tanpa
memerlukan objek yang konkrit atau bahkan objek yang visual. Peserta
didik telah memahami hal-hal yang bersifat imajinatif. Implikasinya dalam
pembelajaran, bahwa belajar akan bermakna kalau input (materi
pelajaran) sesuai dengan minat dan bakat peserta didik. Pembelajaran akan
berhasil kalau penyusun silabus dan guru mampu menyesuaikan tingkat kesulitan
dan variasi input dengan harapan serta karakteristik peserta
didik sehingga motivasi belajar mereka berada pada tingkat maksimal, pada
tahap perkembangan ini juga ada ketujuh kecerdasan dalam MultipleIntelligences yaitu:
1) kecerdasan linguistik (kemampuan berbahasa yang fungsional), 2) kecerdasan
logis-matematis (kemampuan berfikir runtut), 3) kecerdasan musikal (kemampuan
menangkap dan menciptakan pola nada dan irama), 4) kecerdasan spasial
(kemampuan membentuk imaji mental tentang realitas), 5) kecerdasan
kinestetik-ragawi (kemampuan menghasilkan gerakan motorik yang halus), 6)
kecerdasan intra-pribadi (kemampuan untuk mengenal diri sendiri dan
mengembangkan rasa jati diri), kecerdasan antarpribadi (kemampuan memahami
orang lain), di antara ketujuh macam kecerdasan ini, apabila guru mampu
meramu pembelajaran yang sesuai dengan karakter peserta didik yang dipadukan dengan karakteristik masing-masing
mata pelajaran, maka akan dapat membantu siswa untuk melalukan eksplorasi
dan elaborasi dalam rangka membangun konsep.
2.
Perkembangan Aspek Psikomotor
Aspek psikomotor
merupakan salah satu aspek yang penting untuk diketahui oleh guru. Perkembangan
aspek psikomotor juga melalui beberapa tahap. Tahap-tahap tersebut antara lain:
1.
Tahap kognitif
Tahap ini ditandai dengan adanya gerakan-gerakan yang kaku
dan lambat. Ini terjadi karena peserta didik masih dalam taraf belajar
untuk mengendalikan gerakan-gerakannya. Dia harus berpikir sebelum melakukan
suatu gerakan.
2.
Tahap asosiatif
Pada tahap ini, seorang peserta didik membutuhkan waktu
yang lebih pendek untuk memikirkan tentang gerakan-gerakannya. Dia mulai dapat
mengasosiasikan gerakan yang sedang dipelajarinya dengan gerakan yang
sudah dikenal. Tahap ini masih dalam tahap pertengahan dalam perkembangan
psikomotor.
3.
Tahap otonomi
Pada tahap ini,
seorang peserta didik telah mencapai tingkat otonomi yang tinggi. Proses
belajarnya sudah hampir lengkap meskipun dia tetap dapat memperbaiki
gerakan-gerakan yang dipelajarinya. Tahap ini disebut tahap otonomi karena
peserta didik sudah tidak memerlukan kehadiran instruktur untuk melakukan
gerakan-gerakan.
3.
Perkembangan Aspek
Afektif
Keberhasilan proses
pembelajaran juga ditentukan oleh pemahaman tentang perkembangan aspek afektif
peserta didik . Ranah afektif tersebut mencakup emosi atau perasaan yang
dimiliki oleh setiap peserta didik. Pemahaman terhadap apa yang dirasakan dan
direspon, dan apa yang diyakini dan diapresiasi merupakan suatu hal yang sangat
penting dalam teori pemerolehan bahasa kedua atau bahasa asing. Faktor pribadi
yang lebih spesifik dalam tingkah laku peserta didik yang sangat penting
dalam penguasaan berbagai materi pembelajaran, yang meliputi:
1. Self-esteem,
yaitu penghargaan yang diberikan seseorang kepada dirinya sendiri.
2. Inhibition,
yaitu sikap mempertahankan diri atau melindungi ego.
3. Anxiety (kecemasan), yang
meliputi rasa frustrasi, khawatir, tegang, dsbnya.
4. Motivasi, yaitu dorongan untuk
melakukan suatu kegiatan.
5. Risk-taking,
yaitu keberanian mengambil risiko.
6. Empati, yaitu sifat yang berkaitan dengan
pelibatan diri individu pada perasaan orang lain.
Secara umum,
semakin tinggi tahap perkembangan kognitif seseorang akan semakin teratur dan
semakin abstrak cara berfikirnya. Guru harus memahami tahap-tahap perkembangan
kognitif, psikomotorik, dan afektif peserta didiknya, agar ketika mendesain dan
melaksakan proses pembelajaran sesuai dengan tahap perkembangan yang
telah dijelaskan diatas. Sehingga dapat tercipta proses pembelajaran yang
bermakna (meaningfully).[2]
B. Karakteristik Peserta Didik Usia Sekolah SMA/MA
Masa
ini yaitu pada usia sekolah menengah yaitu usia SLTP dan SLTA, anak berada pada
masa remaja atau pubertas, masa remaja menurut Mappiare (1982), berlangsung
antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi perempuan dan 13 tahun sampai
dengan 22 tahun bagi laki-laki. Rentang usia remaja ini dapat dibagi menjadi
dua bagian, yaitu usia 12/13 tahun sampai dengan 17/18 tahun adalah remaja
awal, dan usia 17/18 tahun sampai dengan 21/22 tahun adalah remaja akhir.
Remaja,
yang dalam bahasa aslinya disebut adolescence,
berasal dari bahasa Latin adolescence
yang artinya “tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan”. Bangsa primitif
dan orang-orang purbakala memandang masa puber dan masa remaja tidak berbeda
dengan periode lain dalam rentang kehidupan. Anak di anggap sudah dewasa
apabila sudah mampu mengadakan reproduksi.
Perkembangan
lebih lanjut, istilah adolescence sesungguhnya
memiliki arti yang luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan
fisik (Hurlock, 1991). Pandangan ini didukung oleh Piaget (Hurlock, 1991) yang
mengatakan bahwa secara psikologis, remaja adalah suatu usia dimana individu
menjadi terintegrasi kedalam masyarakat dewasa, suatu usia dimana anak tidak
merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tuas melainkan merasa
sama, atau paling tidak sejajar. Memasuki masyarakat dewasa ini mengandung
banyak aspek afektif, lebih atau kurang dari usia pubertas.
Remaja
juga sedang mengalami perkembangan pesat dalam aspek intelektual. Transformasi
intelektual dari cara berfikir remaja ini memungkinkan mereka tidak hanya mampu
mengintegrasikan dirinya ke dalam masyarakat dewasa, tapi juga merupakan
karakteristik yang paling menonjol dari semua periode perkembangan (Shaw dan
Costanzo, 1985). [3]
Fase
remaja merupakan fase perkembangan yang tengah berada pada masa amat potensial,
baik dilihat dari aspek kognitif, emosi, maupun fisik.
Perkembangan
intelektual yang terus-menerus menyebabkan remaja mencapai tahap berfikir
operasional formal. Tahap ini memungkinkan remaja mampu berfikir secara lebih
abstrak, menguji hipotesis, dan mempertimbangkan apa saja peluang yang ada
padanya daripada sekedar melihat apa adanya. Kemampuan intelektual seperti ini
yang membedakan fase remaja dari fase-fase sebelumnya. (Shaw dan Costanzo,
1985).
Pada
masa transisi ini terjadi perubahan-perubahan yang sangat cepat, diantaranya :
a.
Pertumbuhan Fisik Remaja
Pesatnya
pertumbuhan fisik pada masa remaja sering menimbulkan kejutan pada diri remaja
itu sendiri. Pertumbuhan fisik yang cepat pada remaja sangat membutuhkan
zat-zat pembangun yang diperoleh dari makanan sehingga remaja pada umumnya
menjadi pemakan yang kuat. Berikut ini beberapa faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan fisik :
1). Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang
berasal dari dalam diri individu. Termasuk kedalam faktor internal ini adalah
sebagai berikut :
Ø Sifat Jasmaniah yang diwariskan dari orang tuanya
Anak
yang ayah ibunya bertubuh tinggi cenderung lebih lekas menjadi tinggi daripada
anak yang berasal dari orang tua yang bertubuh pendek.
Ø Kematangan
Secara
sepintas, pertumbuhan fisik seolah-olah seperti sudah direncanakan oleh faktor
kematangan. Meskipun anak itu diberi makanan yang bergizi tinggi, tetapi kalau
saat kematangan belum sampai, pertumbuhan akan tertunda. Misalnya, anak berumur
tiga bulan diberi makanan yang cukup bergizi supaya pertumbuhan otot kakinya
berkembang sehingga mampu untuk berjalan, ini tidak mungkin berhasil sebelum
mencapai umur lebih dari sepuluh bulan.
2). Faktor
Eksternal
Faktor
eksternal ialah faktor yang berasal dari luar diri anak. Termasuk ke dalam
faktor eksternal adalah sebagai berikut :
Ø Kesehatan
Anak sering sakit-sakitan pertumbuhan fisiknya akan
terhambat
Ø Makanan
Anak yang kurang gizi pertumbuhannya akan terhambat,
sebaliknya yang cukup gizi pertumbuhannya pesat
Ø Stimulasi lingkungan
Individu yang tubuhnya sering dilatih untuk
meningkatkan percepatan pada pertumbuhannya akan berbeda dengan yang tidak
pernah mendapat latihan.
b.
Tahap Perkembangan
Intelek/Kognitif
Jean
Piaget (Bybee dan Sund 1982) membagi perkembangan intelek/kognitif menjadi
empat tahapan sebagai berikut :
1)
Tahap Sensori-Motoris
Tahap ini dialami pada usia 0-2
tahun. Tahap ini, anak berada dalam
suatu masa pertumbuhan yang ditandai oleh kecenderungan-kecenderungan
sensori-motoris yang sangat jelas. Segala perbuatan merupakan perwujudan dari
proses pematangan aspek sensori-motoris tersebut.
Menurut Piaget (Bybee dan Sund,
1982: 27), pada tahap ini interaksi anak dengan lingkungannya, termasuk orang
tuanya, terutama dilakukan melalui perasaan dan otot-ototnya. Interaksi ini
terutama diarahkan oleh sensasi-sensasi dari lingkungannya. Dalam melakukan
interaksi dengan lingkungannya, termasuk juga dengan orang tuanya, anak
mengembangkan kemampuannya untuk mempersepsi, melakukan sentuhan-sentuhan,
melakukan berbagai gerakan, dan secara perlahan-lahan belajar mengoordinasikan
tindakan-tindakannya.
2)
Tahap Pra-Operasional
Tahap ini berlangsung pada usia
2-7 tahun. Tahap ini disebut juga tahap intuisi sebab perkembangan kognitifnya
memperlihatkan kecenderungan yang ditandai oleh suasana intuitif. Artinya,
semua perbuatan rasionalnya tidak didukung oleh pemikiran tetapi oleh unsure
perasaan, kecenderungan alamiah, sikap-sikap yang diperoleh dari orang-orang
bermakna, dan lingkungan sekitarnya.
Tahap ini menurut Pieget (Bybee
dan Sund, 1982: 29), anak sangat bersifat egosentris sehingga seringkali
mengalami masalah dalam berinteraksi dengan lingkungannya, termasuk dengan
orangtuanya, dalam berinteraksi dengan orang lain, anak cenderung sulit untuk
dapat memahami pandangan orang lain dan lebih banyak mengutamakan pandangannya
sendiri, dalam berinteraksi dengan lingkungannya, ia masih sulit untuk membaca
kesempatan atau kemungkinan-kemungkinan karena masih punya anggapan bahwa hanya
ada satu kebenaran atau peristiwa dalam setiap situasi.
Tahap ini, anak tidak selalu
ditentukan oleh pengamatan indrawi saja tetapi juga pada intuisi. Piaget
menyebut tahap ini sebagai collective
monologue, pembicara yang egosentris dan sedikit hubungan dengan orang
lain.
3)
Tahap Operasional Konkret
Tahap ini berlangsung anatara
usia 7-11 tahun, pada tahap ini, anak mulai menyesuaikan diri dengan realitas
konkret dan sudah mulai berkembang rasa ingin taunya. Menurut Piaget (Bybee dan
Sund, 1982), pada tahap ini interaksinya dengan lingkungan, termasuk dengan
orang tuanya, sudah semakin berkembang dengan baik karena egosentrisnya sudah
semakin berkurang. Anak sudah dapat mengamati, menimbang, mengevaluasi, dan
menjelaskan pikiran-pikiran orang lain dalam cara-cara yang kurang egosentris
dan lebih objektif. Tahap ini juga anak sudah mulai memahami hubungan
fungsional karena mereka sudah menguji coba suatu permasalahan.
4)
Tahap Operasional Formal
Tahap ini dialami oleh anak pada
usia 11 tahun ke atas. Masa ini, anak telah mampu mewujudkan suatu keseluruhan
dalam pekerjaannya yang merupakan hasil dari berfikir logis. Aspek perasaan dan
moralnya juga telah berkembang sehingga dapat mendukung penyelesaian
tugas-tugasnya.
Menurut Piaget (Bybee dan Sund,
1982), interaksinya dengan lingkungan sudah amat luas, menjangkau banyak teman
sebayanya dan bahkan berusaha untuk dapat berinteraksi dengan orang dewasa.[4]
3. Karakteristik Penyesuaian Diri
Remaja
Karakteristik penyesuaian diri remaja
adalah sebagaimana dipaparkan berikut ini :
a.
Penyesuaian Diri Remaja terhadap
Peran dan Identitasnya
Pesatnya perkembangan fisik dan
psikis, seringkali menyebabkan remaja mengalami krisis peran dan identitas.
Sesungguhnya, remaja senantiasa berjuang agar dapat memainkan perannya agar
sesuai dengan perkembangan masa peralihan dari masa anak-anak menjadi masa
dewasa. Tujuannya adalah memperoleh identitas diri yang semakin jelas dan dapat
dimengerti serta diterima oleh lingkungannya, baik lingkungan keluarga, sekolah,
ataupun masyarakat, dalam konteks ini, penyesuaian diri remaja secara khas
berupaya untuk berperan sebagai subjek yang kepribadiannya memang berbeda
dengan anak-anak ataupun orang dewasa.
b.
Penyesuaian Diri Remaja terhadap
Pendidikan
Krisis
identitas atau masa topan dan badai pada diri remaja seringkali menimbulkan
kendala dalam penyesuaian diri terhadap kegiatan belajarnya. Umumnya, remaja
sebenarnya mengetahui bahwa untuk menjadi orang yang sukses harus rajin
belajar. Namun, karena dipengaruhi oleh upaya pencarian identitas diri yang
kuat menyebabkan mereka seringkali lebih senang mencari kegiatan-kegiatan
selain belajar tetapi menyenangkan bersama-sama dengan kelompoknya. Akibatnya,
yang muncul dipermukaan adalah seringkali ditemui remaja yang malas dan tidak
disiplin dalam belajar. Tidak jarang remaja yang ingin sukses dalam menempuh
pendidikannya, tetapi dengan cara mudah dan tidak perlu belajar susah payah.
Jadi dalam konteks ini, penyesuaian diri remaja secara khas berjuang ingin meraih
sukses dalam studi, tetapi dengan cara-cara yang menimbulkan perasaan bebas dan
senang, terhindar dari tekanan dan konflik, atau bahkan frustasi.
c.
Penyesuaian Diri Remaja terhadap
Kecemasan, Konflik, dan Frustasi
Karena
dinamika perkembangan yang sangat dinamis, remaja seringkali dihadapkan pada
kecemasan, konflik, dan frustasi. Strategi penyesuaian diri terhadap kecemasan,
konflik, dan frustasi tersebut biasanya melalui suatu mekanisme yang oleh
Sigmund Freud (Corey, 1989) disebut dengan mekanisme pertahanan diri (Defence mechanism) seperti kompensasi,
rasionalisasi, proyeksi, sublimasi, identifikasi, regresi, dan fikasi.
Cara-cara
yang ditempuh tersebut ada yang cenderung negatif atau kurang sehat dan ada
pula yang relatif positif, misalnya sublimasi, dalam batas-batas kewajaran dan
situasi tertentu untuk sementara cara-cara tersebut memang masih memberikan
manfaat dalam upaya penyesuaian diri remaja. Namun, jika cara-cara tersebut
seringkali ditempuh dan menjadi kebiasaan, hal itu akan menjadi tidak sehat.[5]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Makalah yang telah kami tulis
dapat disimpulkan bahwa perkembangan anak usia SMP-MTs dan SMA-MA memiliki
beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangannya.
2.
Adanya keharusan guru mengenal karakteristik
peserta didik, berarti guru harus menguasai dan mendalami psikologi
perkembangan peserta didik, yakni sebuah disiplin ilmu yang secara khusus
membahas tentang aspek-aspek atau karakteristik perkembangan peserta didik.
3.
Masa remaja menurut Mappiare
(1982), berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi perempuan
dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi laki-laki. Rentang usia remaja ini
dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu usia 12/13 tahun sampai dengan 17/18
tahun adalah remaja awal, dan usia 17/18 tahun sampai dengan 21/22 tahun adalah
remaja akhir.
DAFTAR PUSTAKA
Dihimpun dari
berbagai sumber oleh Heryanto, S.Pd.Ina
Muhammad Ali dan Muhammad Asrori. Psikologi Remaja. Jakarta : PT Bumi
Aksara
Agung
Hartono, Perkembangan Peserta didik. Jakarta
: Rineka Cipta. 2008

Belum ada tanggapan untuk "Makalah Dasar - Dasar Pengembangan Kurikulum Kelompok 3"
Posting Komentar