Motivasi Menulis

Bahasa Jurnalistik


MAKALAH  BAHASA JURNALISTIK
Disusun untuk Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah Jurnalistik dan Publisistik
Pada Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Semester VII
Tahun Akademik 2019/2020

Dosen Pengampu :
Muthoharoh, M. Pd. I



Oleh:
Kelompok 4

1.      Muhammad Rizal ‘Allimi             (1608101010)
2.      Rini Nur’aeni                                (1608101011)
3.      Insan Kamiludin                           (1608101012)


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI CIREBON
TAHUN AKADEMIK
2019/2020




KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr.wb.
Alhamdulillah kami panjatkan puji serta syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan kesehatan dan kemampuan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini yang membahas mengenai “Bahasa Jurnalistik” dalam mata kuliah Jurnalistik dan publisistik. Semoga apa yang penulis bahas dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Terimakasih kepada Ibu Muthoharoh, M. Pd, i. selaku dosen pengampu yang telah memberikan tugas ini.
Dalam penulisan makalah, penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisannya. Oleh karenanya, mohon kritik dan saran untuk penulisan selanjutnya agar menjadi lebih baik lagi dan dapat bermanfaat bagi semua orang. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum wr.wb.





                        Cirebon,  06 November  2019
                                   


Kelompok 4



DAFTAR ISI

Kata pengantar...............................................................................................       i
Daftar Isi..........................................................................................................        ii
BAB I PENDAHULUAN..............................................................................       1
A.    Latar Belakang.....................................................................................       1
B.     Rumusan Masalah.................................................................................       1
C.     Tujuan Pembahasan..............................................................................       1
BAB II PEMBAHASAN................................................................................       2
A.    Pengertian Bahasa................................................................................       2
B.     Pengertian Jurnalistik...........................................................................       2
C.     Bahasa Jurnalistik (Bahasa Media, Bahasa Pers, dan Gaya Bahasa yang digunakan Wartawan dalam penulisan berita)...................................................................................       3
BAB III PENUTUP........................................................................................      10
Kesimpulan.......................................................................................................      10
DaftarPustaka.................................................................................................      11

















BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Alat yang digunakan manusia untuk berkomunikasi antara satu sama lain adalah bahasa. Bahasa diciptakan agar manusia dapat berpikir dan berkembangdari yang awalnya kosong jadi isi.Bahasa diciptakan dalam berbagai macam. Contohnya saja kita yang hidup di negaraIndonesia maka bahasa yang digunakannya pun bahasa Indonesia berbeda dengan mereka yang di Malaysia mereka mengunakan bahasa melayu begitulah selanjutnya mereka mengunakan bahasa sesuai dengan daerah,negara masing-masing. Bahasa Indonesia yang kita gunakan juga dapat diartikan sebagaibahasa kesatuan nasional.
Dalam karya tulis ini saya membahas bahasa Indonesia dalam bahasa jurnalistik dalam media massa. Bahasa merupakan alat yangdapat digunakan sebagai bahasa media massa untuk menunjang perkembanganilmu pengetahuan dan teknologi. Penyajian bahasa media massa sangatlahkomunikatif artinya dalam penyampaian sebuah persoalan langsung pada pokok persoalan sedangkan spesifik adalah penyampaian kata-kata padat dan singkat namun mudah dimengerti dan tidak berubah daritopik.
B.     Rumusan Masalah
A. Apakah pengertian jurnalistik?
B. Apakah pengertian bahasa jurnalistik?
C. Bagaimana bahasa jurnalistik (Bahasa Media, Bahasa Pers, dan Gaya Bahasa yang digunakan Wartawan dalam penulisan berita) ?
C.      Tujuan Masala
A. Menjelaskan pengertian jurnalistik
B. Menjelaskan pengertian bahasa jurnalistik
C. Menjelaskan bahasa jurnalistik (Bahasa Media, Bahasa Pers, dan Gaya Bahasa yang digunakan Wartawan dalam penulisan berita)

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Bahasa
Bahasa (dari bahasa Sanskerta भाषा, bhāṣā) adalah kemampuan yang dimiliki manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya menggunakan tanda, misalnya kata dan gerakan. Perkiraan jumlah bahasa di dunia beragam antara 6.000–7.000 bahasa. Namun, perkiraan tepatnya bergantung pada suatu perubahan sembarang yang mungkin terjadi antara bahasa dan dialek.
Bahasa alami adalah bicara atau bahasa isyarat, tetapi setiap bahasa dapat disandikan ke dalam media kedua menggunakan stimulus audio, visual, atau taktil, sebagai contohnya, tulisan grafis, braille, atau siulan. Hal ini karena bahasa manusia bersifat independen terhadap modalitas. Sebagai konsep umum, "bahasa" bisa mengacu pada kemampuan kognitif untuk dapat mempelajari dan menggunakan sistem komunikasi yang kompleks, atau untuk menjelaskan sekumpulan aturan yang membentuk sistem tersebut atau sekumpulan pengucapan yang dapat dihasilkan dari aturan-aturan tersebut.[1]
B.     Pengertian Jurnalistik
Secara etimologis, jurnalistik berasal dari kata journ. Dalam bahasa Perancis, journ berati catatan atau laporan harian. Secara sederhananya jurnalistik diartikan sebagai kegiatan yang memungkinkan dengan pencatatan atau pelaporan setiap hari.
Dalam kamus, jurnalistik diartikan sebagai kegiatan untuk menyiapkan, mengedit, dan menulis untuk surat kabar, majalah, atau lain sebagainya. Menurut Ensiklopedi Indonesia, jurnalistik adalah bidang profesi yang mengusahakan penyajian informasi tentang kejadian dan atau kehidupan sehari-hari (pada hakikatnya dalam bentuk penerangan, penafsiran, dan pengkajian) secara berkala, dengan menggunakan sarana-sarana penerbitan yang ada. Dalam mengumpulkan, menulis, menyunting, dan menyebarkan berita dan karangan untuk surat kabar, majalah dan media massa lainnya, seperti radio dan televisi.[2]
C.    Bahasa Jurnalistik (Bahasa Media, bahasa Pers, Gaya Bahasa yang digunakan Wartawan dalam Menulis Berita)
Bahasa Jurnalistik dapat dikatakan sebagai gaya bahasa yang dipaiak wartawan dalam menulis berita. Banyak orang menyebut bahasa jurnalistik sebagai bahasa koran. Bahsa jurnalistik sangat dipengaruhi oleh aset dan kemampuan bebahasa  yang dimiliki wartawan. Dari segi persyaratan setidaknya ada dua ciri utama dari bahasa jurnalistik yaitu komunikatif dan spesifik.
Komuniaktif berarti bahasa yang digunakan bersifat langsung menuju kepada pokok persoalan (to teh point), lebuh berorientasi pada pemakaian kata yang lebih denotatif dan tidak bertele-tele. Komunikatid juga lebih menekankan pada aspek pemahaman yang jernih dari pembaca. Sedangan spesifik berarti bahwa yang digunakan terdiri atas kalimat yang pendek, kata-kata yang jelas, gaya penulisan yang sederhana sehingga mudah dimengerti oleh pembaca.[3]
Sebagai ragam bahasa, kehadiran  bahasa jurnalistik dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut :
1.      Karena adanya keterbatasan ruang dan waktu yang dimiliki oleh wartawan dalam menulis berita. Bahasa jurnalistik dapat membantu wartawan untuk menulis berita tanpa meninggalkan unsur-unsur pokok dalam berita tersebut.
2.      Kareba mobilitas pembaca yang tinggi sehingga menjadikan kepentingan pembaca terhadap media menjadi terbatas.
3.      Karena pembaca besifat universal sehingga bahasa jurnalistik harus mudah dibaca oleh setiap orang dengan latar belakang pendidikan dan tingkat intelektual yang minimal.
Perkembangan bahasa jurnalistik Indonesia dalam empat dekade terakhir ini sangatlah pesat. Kepesatanya dapat terlihat jika kita membandingkan bahasa yang dipakai surat kabar-surat kabar empat puluh tahun yang lalu dengan bahasa yang dipakai surat kabar- surar kabar sekarang. Banyak istilah-istilah yang tadinya masih menggunakan bahasa asing, misalnya, kini sudah ada istilahnya yang baru dalam bahasa Indonesia.
1.      Bahasa Jurnalistik Media
Dalam penulisan jurnalistik ada hal-hal yang perlu dipertimbangkan yaitu sifat tulisan jurnalistik sebagai media komunikasi massa. Kenyataan ini memberikan tekanan akan pentingnya sifat-sifat sederhana, jelas, dan langsung dalam suatu tulisan berita. Dengan demikian, bahasa jurnalistik itu harus ringkas, mudah dipahami, dan langsung menerangkan apa yang dimaksudkan.
Sebagian besar isi surat kabar atau isi berita dalam radio atau televisi adalah hasil pekerjaan jurnalistik. Jurnalistik, adalah “pencatatan kenyataan sehari-hari, jurnal fakta-fakta sehari-hari “. Ada hasil karya tulis lainnya yang bukan merupakan pencatatan kenyataan sehari-hari, yaitu antaralain kesusasteraan. Kesusasteraan adalah “ekspresi yang terbaik dalam bentuk tulisan mengenai pikiran-pikiran yang terbaik”.[4]
Dengan memperbandingkan dua jenis karya tulis tersebut kita akan dapat menangkap secara lebih jelas apa yang membedakan bahasa sastra. Karya jurnalistik terutama berpangkal pada kenyataan-kenyataan, pada fakta-fakta. Karya kesusatraan, baik dalam bentuk novel, syair, sajak, dan sebagainya, terutama berpangkal pada pikiran, perasaan, dan juga bisa berupa khayalan atau fiksi.
Selain berpangkal pada kenyataan, karya jurnalistik juga dibatasi oleh keharusan untuk menyampaikan informasi secara cepat. Oleh karena itu, bahasa yang digunakannya juga bahasa yang cocok untuk ditangkap dengan syaratnya harus indah. Keindahan merupakan prasyarat bagi karya kesusasteraan dalam mengemukakan gagasan dan perasaan, baik yang berdasarkan kenyataan maupun khayalan. Karena itulah bahasa kesusasteraan kadang-kadang tidak sederhana, tetapi penuh bunga-bunga dan kiasan-kiasan.
2.      Bahasa Jurnalistik Pers
Bahasa yang lazim dipakai media cetak berkala yakni surat kabar, tabloid, dan majalah, disebut bahasa jurnalistik pers. Selain bahasa jurnalistik pers, kita juga mengenal bahasa jurnalistik radio, bahasa jurnalistik televisi, bahasa jurnalistik film, dan bahasa jurnalistik media on line internet. Sebagai salah satu ragam bahasa, bahasa jurnalistik tunduk kepada kaidah dan etika bahasa baku. Ciri utama bahasa jurnalistik pers diantaranya sederhana, singkat, padat, lugas, jelas, jernih, menarik, demokratis, mengutamakan kalimat aktif, sejauh mungkin menghindari penggunaan kata atau istilah-istilah teknis, dan tunduk kepada kaidah serta etika bahasa baku. Berikut penjelasan ciri utama bahasa jurnalisik pers :
a.       Sederhana
Sederhana berarti selalu mengutamakan dan memilih kata atau kalimat yang paling banyak diketahui maknanya oleh khalayak pembaca. Khalayak pembaca sifatnya sangat heterogen, baik dilihat dari tingkat intelektualnya maupun karakteristik demografis dan aspek psikografisnya seperti status sosial ekonomi, pekerjaan atau profesi, tempat tinggal, suku bangsa, budaya dan agama yang dianutnya. Kata-kata dan kalimat yang rumit, yang hanya dipahami maknanya oleh segelintir orang, tabu digunakan dalam bahasa jurnalistik.
b.      Singkat
Singkat berarti langsung kepada pokok masalah (to the point), tidak bertele-tele, tidak berputar-putar, tidak memboroskan waktu pembaca yang sangat berharga. Konsekuensinya apapun pesan yang akan disampaikan tidak boleh bertentangan dengan filosofi, fungsi dan karakteristik pers.
c.       Padat
Menurut patmono SK, redaktur senior Sinar Harapan dalam buku jurnalistiknya, padat dalam bahasa jurnalistik berarti sarat informasi. Setiap kalimat dan paragraf yang ditulis memuat banyak informasi penting dan menarik untuk khalayak pembaca. Ini berarti terdapat perbedaan yang tegas antara kalimat singkat dan kalimat padat. Kalimat yang singkat tidak berarti memuat banyak informasi. Tetapi kalimat yang padat, singkat juga mengandung lebih banyak informasi.
d.      Lugas
Lugas berarti tegas, tidak ambigu, sekaligus menghindari eufisme atau penghalusan kata dan kalimat yang  bisa membingungkan khalayak pembaca sehingga terjadi perbedaan persepsi dan kesalahan konklusi. Kata yang lugas selalu menekankan pada satu arti serta menghindari kemungkinan adanya penafsiran lain terhadap arti dan makna kata tersebut.
e.       Jelas
Jelas berarti mudah ditangkap. Maksudnya, tidak baur dan kabur. Sebagai contoh, hitam adalah warna yang jelas. Putih adalah warna yang jelas. Ketika kedua warna itu disandingkan, maka terdapat perbedaan yang tegas mana yang disebut warna hitam, mana pula yang disebut putih. Pada kedua warna itu sama sekali tidak ditemukan nuansa warna abu-abu. Perbedaan warna hitam dan warna putih melahirkan kesan kontras. Jelas di sini mengandung tiga arti : jelas artinya, jelas susunan kata atau kalimat sesuai dengan kaidah subjek objek predikat keterangan (SPOK), dan jelas sasaran atau maksudnya.
f.        Jernih
Jernih berarti bening, tembus pandang, transparan, jujur, tulus, tidak menyembunyikan sesuatu yang lain yang bersifat negatif, seperti prasangka atau fitnah.
g.      Menarik
Bahasa jurnalistik harus menarik. Menarik artinya mampu membangkitkan minat dan perhatian khalayak pembaca. Memicu selera baca. Membuat orang yang sedang tertidur terjaga seketika. Bahasa jurnalistik berpijak pada prinsip; menarik, benar dan baku.
h.      Demokratis
Salah satu ciri yang paling menonjol dari bahasa jurnalistik adalah demokratis. Demokratis berarti bahasa jurnalistik tidak mengenal tingkatan, pangkat, kasta, atau perbedaan dari pihak yang menyapa dan pihak yang disapa sebagaimana dijumpai dalam gramatika bahasa sunda dan bahasa jawa. Bahasa jurnalistik menekankan aspek fungsional dan komunal, sehingga sama sekali tidak dikenal pendekatan feodal sebagaimana dijumpai pada masyarakat dalam lingkungan priyayi dan keraton.
i.        Mengutamakan Kalimat Aktif
Kalimat aktik lebih mudah dipahami dan lebih disukai oleh khalayak pembaca daripada kalimat pasif. Sebagai contoh : Presiden mengatakan, bukan dikatakan oleh Presiden. Contoh lain, Pencuri megambil perhiasan dari dalam lemari pakaian, dan bukan diambilnya perhiasan itu dari dalam lemari pakaian oleh pencuri. Bahasa jurnalistik harus jelas susunan katanya, dan kuat maknanya. Kalimat aktif lebih memudahkan pengertian dan memperjelas tingkat pemahaman. Kalimat pasif sering menyesatkan pengertian dan membingungkan tingkat pemahaman.
j.        Menghindari Kata Atau Istilah Teknis
Karena ditujukan untuk umum, maka bahasa jurnalistik harus sederhana, mudah dipahami, ringan dibaca, tidak membuat kening mengkerut apalagi sampai membuat kepala berdenyut. Salah satu cara untuk itu ialah dengan menghindari penggunaan kata atau istilah-istilah teknis. Bagaimanapun, kata atau istilah teknis hanya berlaku untuk kelompok atau komunitas tertentu yang relatif homogen. Realitas homogen, menurut perspektif filsafat bahasa, tidak boleh dibawa ke dalam realitas yang heterogen.
k.      Tunduk Kepada Kaidah dan Etika Bahasa Baku
Salah satu fungsi utama pers adalah edukasi, mendidik (to educate). Fugsi ini bukan saja harus tercermin pada materi isi berita, laporan, gambar, dan artikel-artikelnya, melainkan juga harus tampak pada bahasanya. Pada bahasa tersimpul etika. Bahasa tidak saja mencerminkan pikiran seseorang tetapi sekaligus juga menunjukkan etika orang itu. Orang tepelajar beretika tinggi, orang kurang ajar beretika rendah.
Bahasa pers merujuk kepada bahasa baku. Bahasa baku artinya bahasa resmi sesuai dengan ketentuan tata bahasa serta pedoman ejaan yang disempurnakan (EYD) berikut pedoman yang pembentukan istilah yang menyertainya.[5]
Adapun pedoman pemakian bahasa pers sebagai aspek penting yang menjadi perhatian dalam konteks bahsa jurnalistik, antara lain sebagai berikut :
a.       Wartawan hendaknya keonsekuensi melaksanakan pedoman ejaan bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD). Hal ini harus diperhatikan oleh para korektor karena kesalahan paling menonjol dalam surat kabar sekarang ini adalah kesalahan ejaan.
b.      Wartawan hendaknya membatasi diri dalam singkatan aau akronim.
c.       Wartawan hendaknya tidak menghilangkan imbuhan bentuk awal atau prefiks. Pemenggalan kata awalan me- dapat dilakukan dalam kepala berita memingat keterbatasan ruang.
d.      Wartawan hendaknya menulis dengan kalimat-kalimat pendek. Pengutaraan pikirannya harus logis, teratur , lengkap dengan kata pokok, sebutan, kata tujuan (subjek, predikat, objek).
e.       Wartawan hendaknya menjauhkan diri dari ungkapan klise yang sering dipakai dalam transisi berita, seperti kata-kata sementara itu, dapat ditambahkan, perlu diketahui, dalam rangka. Dengan demikian akan menghilangkan monotomi ( keadaan/bunyi yang selalu sama saja) dan sekaligu menerapkan penghematan kata.
f.        Wartawan hendaknya meghilangkan kata mubazir seperti adalah , telah (penunjuk masa lampau), untuk (sebagai terjemahan to dalam bahasa Inggris), dari (sebagai tambahan of dalam hubungan milik), bahwa (sebagai kata sambung) dan bentuk jamak yang tidak perlu diulang.
g.      Wartawan hendakna menghidari kata-kata asing dan istilah-istilah yang terlalu teknis ilmiah dalam berita. Walaupun terpaksa menggunakannya maka sat kali harus dijelaskan pengertian dan maksudnya.
h.      Wartawan hendaknya menaati kaidah tata bahasa. Kaidah tata bahasa dalam ini tentu juga bukan dalam bentuk buku, namun untuk hal-hal penting seperti EYD, struktur kalimat perlu diperhatikan.
i.        Wartawan hendaknya ingat bahasa jurnalistik ialah bahasa yang komunikatif dan spesifik sifatnya, dan karangan yang baik nilainya dari tiga aspek, yaitu isi, bahasa, dan teknik persembahan.[6]
Dalam konteks kesalahan bahasa jurnalistik ada beberapa kesalahan atau penyimpangan kebahasaan yang sering terjadi serta dapat dideteksi dari berita-berita yang beredar, diantaranya sebagai berikut, :
1.      Kesalahan aspek gramatikal, yang menyangkut struktur kalimat yang digunakan, pelepasan fungsi kalimat, dan pemakaian induk-anak kalimat.
2.      Kesalaham leksikal, yang menyangkut pemilihan kata dan kebakuan kata yang digunakan dalam berita.
3.      Kesalahan ejaan, yang menyangkut kesalahan penulisan kata,salah ketik, pembentukan akronim dan singkatan yang tidak taat azas, kapitalisasi, penggunaan unsur serapan, pemenggalan kata, dan pemakaian tanda baca.
4.      Kesalahan pembentukkan istilah, yang menyangkut kresi istilah-istilah baru yang membingungkan pembaca/pemirsa.
Jika ditinjau dari sepenyebab kesalahan bahasa jurnalistik, biasanya terjadi karena tidak adanya pengetahuan kebahasaan yang dimiliki wartawan, disamoing keterbatasan waktu yang dimiliki wartawan maupun jajaran redaksi dalam melakukan koreksi terhadap pemakaian bahasa. Oleh karena itu, salah satu antisipasi yang dapat dilakukan dalam mengurangi kesalaham berbahasa dalam industri media massa adalah dengan menyediakan redaktur bahasa yang memiliki kompetensi dan kapasitas kebahasaan yang memadai.[7]



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.Bahasa jurnalisti katau biasa disebut dengan bahasa pers, merupakan salah satu ragam bahasa kreatif bahasa Indonesia,yang memiliki dua ciri komunikatif dan spesifik.Dan demikian bahasa jurnalistik memiliki kaidah-kaidah tersendiri yang membedakannya dengan ragam bahasa yang lain.
2.Terdapat beberapa penyimpangan bahasa jurnalistik dibandingkan dengan kaidah bahasa Indo­nesia baku diantaranya penyimpangan morfologis, kesalahan sintaksis, kesalahan ejaan, kesalahan kosakata, kesalahan pemenggalan
3.Terdapat 17 karakteristik bahasa jurnalistik yang berlaku untuk semua bentuk  media berkala tersebut.yakni sederhana, singkat, padat, lugas, jelas, jernih, menarik, demokratis, populis, logis, gramatikal, menghindari kata tutur, menghindari kata dan istilah asing, pilihan kata. (diksi) yang tepat, mengutamakan kalimat aktif, sejauh mungkin menghindari pengunaan kata atau istilah-istilah teknis, dan tunduk kepada kaidah etika.




DAFTAR PUSTAKA

Azwar, M. SI, 2018,  4 Pilar Jurnalistik (Pengetahuan Dasar Belajar Jurnalistik), Jakarta : Prenadamedia Group.
Haris Sumadiria, 2017, Jurnalistik Indonesia, Bandung:PT Remaja Rosdakarya.
Drs. A.S Haris sumadiria, M.Si, 2017,  Jurnalistik Indonesia. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Syarifudin Yunus, 2010, Jurnalistik Terapan, Bogor : Ghalia Indonesi.
https;//id.m.wikipedia.org/wiki/Bahasa_jurnalistik.selasa/04/11/19.pukul. 14:23




[1] https;//id.m.wikipedia.org/wiki/Bahasa_jurnalistik.selasa/04/11/19.pukul. 14:23
[2]Haris Sumadiria.2017, Jurnalistik Indonesia. Bandung:PT Remaja Rosdakarya. Hlm 2
[3] Syarifudin Yunus, 2010, Jurnalistik Terapan, Bogor : Ghalia Indonesia, Hlm 80.
[4]Prof. Dr. Muhammad Budyatna, M.A. Jurnalistik Teori dan Praktik. Rosdakarya. Hlm.164
[5]Drs. A.S Haris sumadiria, M.Si, Jurnalistik Indonesia. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. Hlm 59
[6] Azwar, M. SI, 2018,  4 Pilar Jurnalistik (Pengetahuan Dasar Belajar Jurnalistik), Jakarta : Prenadamedia Group, Hlm 132-134.
[7] Syarifudin  Yunus, 2010, Jurnalistik Terapan, Hlm 85-86.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Bahasa Jurnalistik"

Posting Komentar