MAKALAH
TEKNIK
WAWANCARA
Disusun untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Yang di Diskusikan di Dalam Kelas
Pada Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Semester 7
Tahun Akademik 2019/2020
DosenPengampu
: Muthaharoh M. Pd.I
Di susun oleh :
Kelompok 7 :
Amalia Kusuma Dewi (1608101019)
Eni Rohayati (1608101020)
Fajri Baha Uzzad (1608101021)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
INSTITUTAGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI CIREBON
TAHUN 2019 M/ 1441 H
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami
dapat menyelesaikan Tugas Terstruktur Mata Kuliah Jurnalistik dan
Publisistik, shalawat serta salam semoga Allah tetap
melimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Kepada keluarganya, sahabatnya, serta kepada kita selaku umatnya.
Dalam Makalah ini kami membahas tentang “Teknik wawancara”. Ucapan terima kasih kepada Allah Yang Maha
Esa, yang telah memudahkan dalam pembuatan Makalah ini. Orang tua yang telah
mendoakan dan memberikan dukungan berupa materi dan nonmateri. Ibu
Muthoharoh selaku dosen pengampu, yang telah memberikan
bimbingan dan arahan dalam pembuatan makalah ini. Rekan-rekan mahasiswa, yang
telah membantu dalam bentuk apapun.
Dengan rahmat dan karunia-Nya kami bisa menyelesaikan makalah
ini dengan berusaha semaksimal mungkin, akan tetapi kami menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, karena itu kami
menerima kritik dan saran yang membangun, agar kami bisa lebih baik lagi dalam
penulisan karya ilmiah lainnya.
Cirebon, 13 November 2019
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................ i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
BAB 1 PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang................................................................................. 1
B.
Rumusan Masalah............................................................................ 1
C.
Tujuan Penulisan.............................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian Wawancara................................................................... 3
B.
Tujuan dan Prinsip Wawancara...................................................... 3
C.
Teknik Wawancara......................................................................... 4
1.
Pedoman dan Persiapan Wawancara......................................... 6
2.
Persyaratan Wawancara............................................................ 6
3.
Jenis-jenis Pertanyaan dalam Wawancara Berita..................... 8
D.
Bentuk-Bentuk wawancara............................................................ 9
BAB III PENUTUP
Kesimpulan............................................................................................................ 12
DAFTAR
PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
- Latar
Belakang
Berita diperoleh dari mana saja.
Setiap orang, tempat, waktu, nama, benda, baik secara potensial maupun secara
actual, bisa mnejadi sumber berita. Bisa juga menjadi materi atau bahan berita.
Berita apapun dapat kita peroleh melalui dua cara penanganan. Untuk
berita-berita yang sifatnya diduga, kita harus bisa melakukan proses penciptaan
berita. Namanya making news. Orangnya disebut reporter. Untuk
berita-berita yang tidak diduga, tiba-tiba tidak diketahui dan tidak
direncanakan sebelumnya, kita harus bisa melakukan pemburuan berita. Namnaya
disebut hunting news. Orangnya disebut hunter.
Dalam mengumpulkan informasi berita
seorang wartawan atau reporter biasanya melakukan kegiatan wawancara. Kegiatan
pengumpulan berita atau informasi terkait berita dengan menggali keabsahan
berita melalui kegiatan Tanya jawab dengan narasumber yang telah dipilih dan
disesuaikan sesuai topic berita. Dengan demikian, makalah ini di dalamnya akan
menjelaskna tentang teknik wawancara berita.
- Rumusan
Masalah
1. Apa Pengertian Wawancara ?
2. Bagaimana Tujuan dan Prinsip Wawancara ?
3. Bagaimana Teknik Wawancara ?
4. Bagaimana Bentuk-Bentuk wawancara ?
- Tujuan
Penulisan
1. Untuk Mengetahui Apa Pengertian Wawancara.
2. Untuk Mengetahui Bagaimana Tujuan dan
Prinsip Wawancara.
3. Untuk Mengetahui Bagaimana Teknik
Wawancara.
4. Untuk Mengetahui Bagaimana Bentuk-Bentuk
wawancara.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Wawancara
Wawancara merupakan salah satu dari empat
teknik dalam mengumpulkan informasi . Tiga lainya adalah : observasi langsung
dan tidak langsung, pencarian melalui catatan public dan partisipasi dalam
peristiwa. Wawancara (interview) merupakan salah satu metode pengumpulan bahan
berita (data atau fakta). Pelaksanaan wawancara
bisa dilakukan secara langsung bertatap muka dengan orang yang
diwaawancarai, atau secara tidak langsung seperti melalui telefon, internet,
atau surat dalam bentuk wawancara tertulis (melalui e-mail dan sms).[1]
Wawancara adalah salah satu cara untuk
mencari fakta dengan meminjam indra (mengingat dan merekonstruksi) sebuah
peristiwa, mengutif pendapat dan opini narasumber. Kata kunci wawancara yang
baik , kata Mike Fancher , wartawan Saettle Times, “ adalah memungkinkan
narasumber mengatakan apa yang sebenarnya dipikirkan, bukan memikirkan apa yang
mau dikatakan.[2]
Akhir-akhir ini wawancara tidak hanya dipandang sebagai salah
satu metode jurnalistik untuk mengumpulkan informasi, tetapi sudah merupakan
bagian dari penyajian informasi itu sendiri, atau yang biasa disebut sebagai
wawancara eksklusif.
B. Tujuan
dan Prinsip Wawancara Berita
a. Prinsip -prinsip dalam melakukan wawancara
1. Menjaga suasana, agar tujuan wawancara
dapat tercapai.
2. Bersikap wajar, sehingga menunjukkan posisi
yang setara antara pewawancara dan yang diwawancarai.
3. Mengendalikan situasi, agar tidak mudah
terbawa emosi dan tidak terjebak dalam perdebatan.
4. Cerdas dalam mengambil kesimpulan, agar
hasil wawancara akurat dan objektif.
5. Fokus pada masalah, agar wawancara tidak
bertele-tele dan keluar jalur topik wawancara.
6. Kritis, agar mampu mengembangkan masalah
secara lebih tajam dan rinci.
7. Etika sopan santun, agar wawancara sesuai
dengan norma yang berlaku dan disepakati.
b. Tujuan wawancara berita
1. Tujuan faktual, untuk mencari, menggali,
dan mengumpulkan fakta-fakta yang mendukung berita.
2. Tujuan riset, untuk memperoleh informasi,
fakta, dan data penting yang terkait dengan berita.
3. Tujuan penegasan, untuk menguji tingkat
kebenaran dan aktualitas indormasi yang berkembang di masyarakat.[3]
C. Teknik
Wawancara
Teknik wawancara belum lazim digunakan
sampai akhir abad ke 19. Ketika untuk pertama kalinya sebuah wawancara
disajikan sebagai suatu karya jurnalistik oleh James Gorden Bannet pada tahun
1836, semua surat kabar di London mencemoohkanya sebagai merendahkan
jurnalisme, karena katanya hanya meuat bualan, bahkan pada awal tumbuhnya
persurat-kabaran di AS , yaitu sekitar tahun 1700-an , para wartawan dinegara
itu belum menjadikan wawancara sebagai sesuatu yang penting.
Contoh belum lazimnya wawancara
digunakan sebagai teknik menghimpun berita di Amerika tampak pada zamanya
presiden Lincoln, Presiden Amerika paling terkenal ini sering bercakap-cakap
dengan para wartawan, tetapi tidak pernah seorang jurnalis pun yang mengutip percakapan
mereka. Charles Nordhdhoff, redaktur pelaksaan Koran The evening post
yang terbit di New York pernah berbicara dengan presiden Andrew Johnson, ia
kemudian menulis hasil percakapanya dan menyampaikanya kepada pemimpin
redaksinya, tapi tulisanya itu tak pernah dimuat.
Pada abad ke-20 justru bisa dikatakan
, puncak pencapaian karya jurnalistik yang hebat banyak dihasilkan dari
wawancara , dimulai dari James Reston sampai Bob Woodward dan Carl Beinstein.
Abad ke 20 dikatakan sebagai era interview jurnalis , jurnalisme wawancara ,
dan itu berlanjut sampai sekarang, abad ke 21.
Pada saat wawancara dilakukan ,
seorang reporter harus memperhatikan beberapa hal penting ,seperti tipe
pertanyaan dan cara menanyakanya , struktur dan tema pokok masalah atau tujuan
yang ingin dicapai dari wawancara , mencatat setiap jawaban dengan cepat dan
tepat , jika menggunakan media telepon , gunakan etika berbicara lewat
telepon.seorang reporter harus mahir dan mampu mengatasi gaya tau cara
berbicara sumber yang kurang atau bahkan tidak komunikatif.seorang reporter
juga harus memahami tipe tipe wawancara yang dilakukanya sepertimwawancara
untuk feature ,berita investigasi,dan berita interpretasi.
Selama wawancara , seorang reporter
tidak hanya cukup bertanya dan mendengarkan jawaban. Masih ada beberpa hal yang
harus diperhatikan agar informasi yang telah diberikan sumber berita tidak ada
yang hilang hanya karena lupa atau terlewatkan , luput dari penagkapan
reporter.selama wawancara, misalnya reporter juga harus mencata setiap jawaban
yang diberikan sumber untuk menghindari adanya informasi yang terlewat karena
gaya bicara sumber yang cepat, reporter biasanya punya cara sendiri-sendiri
dalam membuat catatan.memiliki kemapuan menulis cepat dan banyak juga
dinataranya yang biasanya menggunakan sistem pemendekan kata sendiri.namun
demikian ,bukan bukan bahwa dengan menulis hubungan muka menjadi
terganggu.selama wawancara, reporter harus tetap mampu memlihara hubungan yang
komunikatif, bahkan untuk memelihara
hubungan seperti itu ,dalam wawancara tatp muka yang memakan waktu yang cukup
panjang ,reporter juga biasanya menggunakan alat bantu tape recorder sehingga
wawancara tetap berlangsung komunikatif.[4]
1. Persyaratan Wawancara Berita
Untuk
dapat melakuka wawancara yang baik, setidaknya dibutuhkan 7 persyaratan pokok
wawancara, yang terdiri atas berikut ini :
a.
Mempunyai
tujuan yang jelas. Apa target yang dicapai mealui wawancara ? dengan tujua yang
jelas, wawancara berlangsung secara terarah.
b.
Efisien.
Wawancara semestinya dilakukan secara ringkas (bukan singkat), tetapi mendalam
untuk mengungkap banyak hal yang perlu digali sebagai bahan berita.
c.
Menyenangkan.
Wawancara bukanlah interograsi dan harus bebas dari tekanan. Suasana
menyenangkan dalam wawancara akan berdampak besar terhadap proses wawancara
antara wartawan dengan narasumber.
d.
Mempersiapkan
diri dan riset awal. Wawancara perlu mempersiapkan diri, bahkan perlu riset
awal sebagai background pengetahuan atas masalah yang menjadi topic wawancara.
e.
Melibatkan
khalayak. Masalah yang pantas diwawancarai harus memiliki kepentingan terhadap
masyarakat atau public.
f.
Menimbulkan
spontasnitas. Wawancara yang baik membutuhkan tanya jawab dan penciptaan
suasana yang spontan. Spontanitas dapat mencairkan suasana sehingga liran
informasi dapat lebih leluasa.
g.
Mengendalikan
suasana. Dalam wawancara, wartawan harus menjadi pengendali wawancara, bukan
sebaliknya, narasumber yang menguasai wawancara dan mengendalikan wartawan.[5]
- Pedoman
Dan Perencanaan Wawancara
1. Membuat janji. jika deadline tidak terlau
dekat , buatlah janji terlebih dahulu dengan sumber yang akan diwawancarai,
terutama untuk menentukan waktu dan tempat wawancara.
2. Mengidentifikasi diri sendiri sebagai
seorang reporter dan lembaga tempat dimana ia bekerja , dan juga hindari adanya
kesan dibohongi agar tidak ada tuntutan atau saling menyalahkan jika pernyataan
– pernyataan yang diperoleh dari hasil wawancara itu ada yang menaggapi secar
berseverangan.
3. Mempertimbangkan kesiapan sumber berita ,
kapan dan dimana wawancara pada umumnya lebih banyak diberikan kepada sumber
berita.reporter hanya menyampaikan beberapa pertanyaan , baik yang sudah
dipersiapkan sebelumnya maupun yang secara spontan dirumuskan sebagai respon
balik atas jawaban yang diberikan oleh sumber.
4. Menjelaskan permasalahan yang akan
ditanyakan.Untuk memberikan kejelasan kepada sumber berita, sampaikan kepadanya
alur cerita serta permasalahanya Tentu saja tidak perlu penjelasan yang terlalu
terperinci , paling tidak sumber menjadi tahu masalah apa yang sedang
dikerjakan oleh reporter yang akan mewawancarainya.
5. Berpenampilan baik dan sopan.Untuk kalangan
tertentu, ada sumber yang hanya merasa dihargai jika reporter itu berpenampilan
meyakinkan, seperti pakaianya serasim, bersepatu , dan rambut yang disisir
rapih.yang baik dan sopan disini lebih dititik beratkan pada usaha membangun
kesan yang cocok , serasi ,comparable ,dengan selera sumber yang diwawancarai ,
atau dengan situasi kapan dan dimana wawancara itu dilakukan.
6. Tepat waktu.Datang tepat waktu sesuai
janjinya yang sudah disepakati.jika janji bertemu pukul 11.00 usahakan anda
datang paling lambat 10.00 , datang lebih awal akan menujukan inisiasi dan
apresiasi yang tinggi sebab penghargaan yang tinggi terhadap waktu akan
menambah kepercayaan sumber kepada anda.[6]
- Persiapan
Wawancara
Tedapat
beberapa tahapan persiapan yang umum dilakukan oleh wartawan, yaitu:
a. Menentukan topic yang akan dibicarakan
kepada sumber berita.
b. Mempelajari topic berdasarkan informasi
yang sedang berkembang, juga data-data kepustakaan yang mendukung. Dengan
begitu, wartawan harus memahami betul topic yang akan ditulis menjadi berita.
c. Menyiapkan peralatan penunjang wawancara.
Pada umumnya, wartawan menggunakan alat perekam (tape recurder) dan buku
catatan, mikrofon, bahkan handphone untuk melakukan wawancara langsung.
d. Menyusun poin-poin pertanyaan yang akan
diajukan kepada sumber berita. Catatan ini hanya sebagai panduan saja.
e. menghubungi sumber-sumber berita yang akan
diwawancarai, serta membuat janji dengan sumber berita.
f.
Menjelaskan
tujuan wawancara kepada sumber berita, karena tujuan wawancara ini harus
diketahui oleh kedua belah pihak agar tidak terjadi mis komunikasi atau salah
presefsi.
g. Berpakaian rapih dan wajar.[7]
4. Jenis-jenis pertanyaan dalam wawancara
berita
1.
Pertanyaan
terbuka.Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang menghendaki jawaban yang luas
dan bebas. Contoh : Bagaimana rencana kerja saudara setelah ditunjuk menjadi
dirjen pendidikan tinggi?
2.
Pertanyaan
hipotetik terbuka. Pada pertanyaan hipotetik terbuka, penanya dapat membuat
pertanyaan lebih luas sengan memberikan beberapa keterangan untuk menyesuaikan
dengan situasi wawancara. Contoh : tadi saudara jelaskan bahwa saudara tidak
tahu menahu tentang penyelewengan yang dilakukan oleh bawahan saudara.
Sepengetahuan saya, sistem pengawasan melekat di kantor saudara selama ini
sudah ada. Apakah ada hambatan dalam pelaksanaannya?
3.
Pertanyaan
langsung. Pertanyaan langsung dimaksudkan untuk pertanyaan yang menghendaki
jawaban singkat, seperti "ya" atau "tidak". Contoh : apakah
saudara ikut dalam rombongan presiden ke Cina beberapa waktu yang lalu ?
4.
Pertanyaan
tertutup. Pertanyaan tertutup yaitu pertanuaan yang membatasi ruang gerak
penjawab, bahkan kemungkinan jawaban telah tersedia. Penjawab tinggal
menentukan salah satu pilihan jawaban itu. Contoh : bagaimana ukuran perusahaan
yangbsedang saudara pimpin sekarang, perusahaan besar, menengah, atau kecil?
5.
Pertanyaan
beban. Pertanyaan beban adalah pertanyaan yang menimbulkan beban berat bagi
penjawab disebabkan tidak ada jawaban yang benar, tetapi menuntut jawaban yang
emosional. Pertanyaan beban semacam ini jarang digunakan karena akan
menimbulkan beban emosional kepada penjawab. Contoh : kalau bendungan raksasa
yang direncanakan itu gagal, apakah anda akan mengundurkan diri dari Dirjen
Pengairan ?
6.
Pertanyaan
terpimpin. Pertanyaan terpimpin merupakan pertanyaan yang diikuti sengan arahan
jawaban. Pertanyaan terpimpin merupakan pertanyaan yang sangat membantu dalam
mengetahui sampai sejauh mana penjawab setuju dengan pendapat atau pandangan
penanya yang diajukan sebelumnya. Contoh: saya melihat di daerah ini banyak
sekali industri kecil yang mempunyai semangat kerja yang tinggi. Bagaimana dan
dalam bentuk apa anda dapat memberikan bantuan kepada mereka?
7.
Pertanyaan
orang ketiga. Maksud pertanyaan orang ketiga ini adalah isi pertanyaan yang
diajukan seolah-olah merupakan pertanyaan yang datang dari orang ketiga dan
jawabannya pun untuk orang ketiga. Contoh : beberapa pemimpin mahasiswa
menginginkan adanya kebebasan berbicara di kampus ini. Menurut mereka, selama
anda menjadi pembantu rektor bidang kemahasiswaan, kebebasan berbicara itu
banyak dikekang. Tanggapan anda ?[8]
D.
Bentuk-bentuk
Wawancara
Sebagai salah satu kegiatan yang dilakukan
wartawan atau reporter untuk memperoleh informasi menarik dan penting dari narasumber,
wawaancara memiliki beberapa bentuk, baik dilihat dari tujuannya maupun
caranya. berikut ini bentuk-bentuk wawancara yang sering dilakukan oleh
wartawan atau reporter:[9]
a. Factual News Interview
wawancara jenis
ini bertujuan memperoleh komentar atau pendapat seorang ahli atau orang yang
berkompeten mengenai suatu permasalahan. Misalnya; wawancara dengan dokter
hewan tentang penyebaran wabah penyakit flu burung yang disebarkan melalui
hewan unggas dan babi.
b. Feature Personality interview
wawancara jenis ini bertujuan menonjolkan
pribadi seseorang, baik seorang tokoh maupun pelaku utama dalam sebuah
peristiwa besar.
c. Wawancara melalui telepon
Wawancara melalui
telepon dianggap langkah paling mudah ketika wartawan hendak mendapatkan sumber
berita secara cepat. Wawancara melalui telepon , ini biasanya dilakukan untuk
mengonfirmasi dengan mengejra deadline. sebab itu, dalam wawancara melalui
telepon ini percakapanya pun singkat dan umumnya narasumber acapkali menolak
untuk menjelaskan setiap pertanyaan secara panjang lebar, kecuali narasumbernya
sudah akrab dan biasa menjadi narasumber di pewawancara. Wawancara via telepon
umumnya dilakukan terhadap sumber berita yang jauh untuk dijangkau, sangat
sibuk atau tidak punya waktu untuk bertemu dan wawancara tatap muka, serta
untuk keperluan informasi yang penting dan mendesak, misalnya konfirmasi pihak
kepolisian atau rumah sakit.
d. Wawancara langsung (tatap muka)
Wawancara langsung
dilakukan untuk keperluan pendalaman informasi mengenai suatu hal, atau ingin
mengungkap tentang sosok sumber berita yang diwawancarai. Sumber berita yang
diwawancarai bisa dijangkau dan tidak terlalau sibuk, bisa ditemui dan
diwawancarai langsung.
e. Wawancara Eksklusif
Yaitu wawancara
yang dilakukan seorang wartawan atau lebih (tetapi berasal dari satu media)
secara khusus dengan sumer berita, berkaitan dengan masalah tertentu. Wawancara
eksklusif ini hanya dilakukan dan didapat oleh media tersebut dan tidak didapat
oleh media lainnya. Berita ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi setiap media,
seolah media yang bersangkutan telah menunjukan keunggulannya. Sebuah berita
dikatakan eksklusif apabila memenuhi kriteria sebagai berikut ; petama, sumber
berita yang diwawancarai benar-benar sedang menjadi actor berita. Kedua,
informasi yang disajikan mendalam dan memuat banyak informasi dan perkembangan
baru yang belum pernah dimuat oleh media lainnya.
f.
Wawancara
Bersama
Wawancara bersama
ialah bertemunya para wartawan dari beberapa media untuk melakukan wawancara
dengan sumber berita. Jumlah wartawan dalam kategori ini tidak banyak, sehingga
harus dibedakan dengan konferensi pers yang biasanya dihadiri wartawan
secara masal. Dalam wawancara bersama, bertemunya beberapa wartawan itu bisa
saja karena kebetulan, mereka bertemu karena memiliki tujuan yang sama/ bisa
saja sumber berita yang sengaja
menyatukan mereka dengan pertimbangan wawancara bisa dilakukan pada
waktu dan tempat yang sama agar lebih
efektif.
g. Wawancara tertulis
Wawancara model
ini dilakukan kepada sumber berita yang sulit untuk ditembus, misalnya presiden
dan wakilnya. Dalam hal ini, topic yang akan dibicarakan biasanya adalah
masalah yang sangat rumit, sehingga perlu kehati-hatian bagi narasumber dalam
menjawabnya. Oleh karena itu, jawaban tertulis lebih memungkinkan dilakukan
ketimbang jawaban langsung atau via telepon.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Wawancara (interview) merupakan salah
satu metode pengumpulan bahan berita (data atau fakta). Pelaksanaan
wawancara bisa dilakukan secara langsung
bertatap muka dengan orang yang diwaawancarai, atau secara tidak langsung
seperti melalui telefon, internet, atau surat dalam bentuk wawancara tertulis
(melalui e-mail dan sms). Wawancara bertujuan untuk memperoleh informasi, data,
atau keterangan tambahna yang penting dan menarik untuk penyusunan berita.
Pada saat wawancara dilakukan ,
seorang reporter harus memperhatikan beberapa hal penting ,seperti tipe
pertanyaan dan cara menanyakanya , struktur dan tema pokok masalah atau tujuan
yang ingin dicapai dari wawancara , mencatat setiap jawaban dengan cepat dan
tepat , jika menggunakan media telepon , gunakan etika berbicara lewat
telepon.seorang reporter harus mahir dan mampu mengatasi gaya tau cara
berbicara sumber yang kurang atau bahkan tidak komunikatif.seorang reporter
juga harus memahami tipe tipe wawancara yang dilakukanya sepertimwawancara
untuk feature ,berita investigasi,dan berita interpretasi.
DAFTAR
PUSTAKA
Kusuma Ningrat Hikmat dkk, Jurnalistik
Teori dan Praktik, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya,
Saeful
Muhtadi , Asep “Pengantar Ilmu Jurnalistik”, Simbiosa Rekatama Media:
Bandung ,2016
Sumadiria, Haris 2017, Jurnaslistik
Indonesia Menulis Berita dan Feature Panduan Praktis Jusnalis Profesional, Bandung
: Simbiosa Rekatama Media,
Syamsul. Asep 2009. Jurnalistik Praktis . Bandung
: PT. Remaja Rosdakarya.
Yunus, Syarifudin 2012, Jurnalistik
Terapan, Bogor : Ghalia Indonesia.
Zaaenuddin.
2011. The Journalist. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
[1] Asep Syamsul. 2009. Jurnalistik Praktis . Bandung :
PT. Remaja Rosdakarya. Hlm 35.
[2] Hikmat Kusuma Ningrat
dkk, Jurnalistik Teori dan Praktik, Bandung : PT. Remaja Rosda Karya,
hlm 189
[3] Syarifudin Yunus, 2012,
Jurnalistik Terapan, Bogor : Ghalia Indonesia, hlm 63
[4] Asep Saeful Muhtadi , “Pengantar
Ilmu Jurnalistik”, Simbiosa Rekatama Media : Bandung ,2016 , hal 175-185
[5] Syarifudin Yunus, 2012,
Jurnalistik Terapan, Bogor : Ghalia Indonesia, hlm 58-60
[6] Asep Saeful Muhtadi , “Pengantar
Ilmu Jurnalistik”, Simbiosa Rekatama Media : Bandung ,2016 , hal 175-185
[7] Zaaenuddin. 2011. The
Journalist. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Hlm 116-117.
[8] Haris Sumadiria, 2017, Jurnaslistik
Indonesia Menulis Berita dan Feature Panduan Praktis Jusnalis Profesional, Bandung
: Simbiosa Rekatama Media, hlm 112-114
[9] Zaaenuddin. 2011. The
Journalist. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Hlm 104-111.

Belum ada tanggapan untuk "Teknik Wawancara"
Posting Komentar