Motivasi Menulis

Teknik Wawancara


MAKALAH
TEKNIK WAWANCARA
Disusun untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Yang di Diskusikan di Dalam Kelas
Pada Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Semester 7
Tahun Akademik 2019/2020
DosenPengampu : Muthaharoh M. Pd.I

Di susun oleh :
Kelompok 7 :
Amalia Kusuma Dewi               (1608101019)
Eni Rohayati                              (1608101020)
                                      Fajri Baha Uzzad                       (1608101021)

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
INSTITUTAGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI CIREBON
TAHUN 2019 M/ 1441 H





KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan Tugas Terstruktur Mata Kuliah Jurnalistik dan Publisistik, shalawat serta salam semoga Allah tetap melimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW.  Kepada keluarganya, sahabatnya, serta kepada kita selaku umatnya.
Dalam Makalah  ini kami membahas tentang “Teknik wawancara”.  Ucapan terima kasih kepada Allah Yang Maha Esa, yang telah memudahkan dalam pembuatan Makalah ini. Orang tua yang telah mendoakan dan memberikan dukungan berupa materi dan nonmateri. Ibu Muthoharoh selaku dosen pengampu, yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam pembuatan makalah ini. Rekan-rekan mahasiswa, yang telah membantu dalam bentuk apapun.
Dengan rahmat dan karunia-Nya kami bisa menyelesaikan makalah ini dengan berusaha semaksimal mungkin, akan tetapi kami menyadari makalah  ini jauh dari kesempurnaan, karena itu kami menerima kritik dan saran yang membangun, agar kami bisa lebih baik lagi dalam penulisan karya ilmiah lainnya.


                
Cirebon,  13 November 2019


Penulis





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................ i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah............................................................................ 1
C. Tujuan Penulisan.............................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Wawancara................................................................... 3
B. Tujuan dan Prinsip Wawancara...................................................... 3
C. Teknik Wawancara......................................................................... 4
1. Pedoman dan Persiapan Wawancara......................................... 6
2. Persyaratan Wawancara............................................................ 6
3. Jenis-jenis Pertanyaan dalam Wawancara Berita..................... 8
D. Bentuk-Bentuk wawancara............................................................ 9
BAB III PENUTUP
Kesimpulan............................................................................................................ 12
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN


  1. Latar Belakang
Berita diperoleh dari mana saja. Setiap orang, tempat, waktu, nama, benda, baik secara potensial maupun secara actual, bisa mnejadi sumber berita. Bisa juga menjadi materi atau bahan berita. Berita apapun dapat kita peroleh melalui dua cara penanganan. Untuk berita-berita yang sifatnya diduga, kita harus bisa melakukan proses penciptaan berita. Namanya making news. Orangnya disebut reporter. Untuk berita-berita yang tidak diduga, tiba-tiba tidak diketahui dan tidak direncanakan sebelumnya, kita harus bisa melakukan pemburuan berita. Namnaya disebut hunting news. Orangnya disebut hunter.
Dalam mengumpulkan informasi berita seorang wartawan atau reporter biasanya melakukan kegiatan wawancara. Kegiatan pengumpulan berita atau informasi terkait berita dengan menggali keabsahan berita melalui kegiatan Tanya jawab dengan narasumber yang telah dipilih dan disesuaikan sesuai topic berita. Dengan demikian, makalah ini di dalamnya akan menjelaskna tentang teknik wawancara berita.
  1. Rumusan Masalah
1.      Apa Pengertian Wawancara ?
2.      Bagaimana Tujuan dan Prinsip Wawancara ?
3.      Bagaimana Teknik Wawancara ?
4.      Bagaimana Bentuk-Bentuk wawancara ?
  1. Tujuan Penulisan
1.      Untuk Mengetahui Apa Pengertian Wawancara.
2.      Untuk Mengetahui Bagaimana Tujuan dan Prinsip Wawancara.
3.      Untuk Mengetahui Bagaimana Teknik Wawancara.
4.      Untuk Mengetahui Bagaimana Bentuk-Bentuk wawancara.


BAB II
PEMBAHASAN


A.  Pengertian Wawancara
Wawancara merupakan salah satu dari empat teknik dalam mengumpulkan informasi . Tiga lainya adalah : observasi langsung dan tidak langsung, pencarian melalui catatan public dan partisipasi dalam peristiwa. Wawancara (interview) merupakan salah satu metode pengumpulan bahan berita (data atau fakta). Pelaksanaan wawancara  bisa dilakukan secara langsung bertatap muka dengan orang yang diwaawancarai, atau secara tidak langsung seperti melalui telefon, internet, atau surat dalam bentuk wawancara tertulis (melalui e-mail dan sms).[1]
Wawancara adalah salah satu cara untuk mencari fakta dengan meminjam indra (mengingat dan merekonstruksi) sebuah peristiwa, mengutif pendapat dan opini narasumber. Kata kunci wawancara yang baik , kata Mike Fancher , wartawan Saettle Times, “ adalah memungkinkan narasumber mengatakan apa yang sebenarnya dipikirkan, bukan memikirkan apa yang mau dikatakan.[2]
Akhir-akhir ini  wawancara tidak hanya dipandang sebagai salah satu metode jurnalistik untuk mengumpulkan informasi, tetapi sudah merupakan bagian dari penyajian informasi itu sendiri, atau yang biasa disebut sebagai wawancara eksklusif.
B.   Tujuan dan Prinsip Wawancara Berita
a.    Prinsip -prinsip dalam melakukan wawancara
1.      Menjaga suasana, agar tujuan wawancara dapat tercapai.
2.      Bersikap wajar, sehingga menunjukkan posisi yang setara antara pewawancara dan yang diwawancarai.
3.      Mengendalikan situasi, agar tidak mudah terbawa emosi dan tidak terjebak dalam perdebatan.
4.      Cerdas dalam mengambil kesimpulan, agar hasil wawancara akurat dan objektif.
5.      Fokus pada masalah, agar wawancara tidak bertele-tele dan keluar jalur topik wawancara.
6.       Kritis, agar mampu mengembangkan masalah secara lebih tajam dan rinci.
7.       Etika sopan santun, agar wawancara sesuai dengan norma yang berlaku dan disepakati.
b.   Tujuan wawancara berita
1.      Tujuan faktual, untuk mencari, menggali, dan mengumpulkan fakta-fakta yang mendukung berita.
2.      Tujuan riset, untuk memperoleh informasi, fakta, dan data penting yang terkait dengan berita.
3.      Tujuan penegasan, untuk menguji tingkat kebenaran dan aktualitas indormasi yang berkembang di masyarakat.[3]
C.   Teknik Wawancara
Teknik wawancara belum lazim digunakan sampai akhir abad ke 19. Ketika untuk pertama kalinya sebuah wawancara disajikan sebagai suatu karya jurnalistik oleh James Gorden Bannet pada tahun 1836, semua surat kabar di London mencemoohkanya sebagai merendahkan jurnalisme, karena katanya hanya meuat bualan, bahkan pada awal tumbuhnya persurat-kabaran di AS , yaitu sekitar tahun 1700-an , para wartawan dinegara itu belum menjadikan wawancara sebagai sesuatu yang penting.
Contoh belum lazimnya wawancara digunakan sebagai teknik menghimpun berita di Amerika tampak pada zamanya presiden Lincoln, Presiden Amerika paling terkenal ini sering bercakap-cakap dengan para wartawan, tetapi tidak pernah seorang jurnalis pun yang mengutip percakapan mereka. Charles Nordhdhoff, redaktur pelaksaan Koran The evening post yang terbit di New York pernah berbicara dengan presiden Andrew Johnson, ia kemudian menulis hasil percakapanya dan menyampaikanya kepada pemimpin redaksinya, tapi tulisanya itu tak pernah dimuat.
Pada abad ke-20 justru bisa dikatakan , puncak pencapaian karya jurnalistik yang hebat banyak dihasilkan dari wawancara , dimulai dari James Reston sampai Bob Woodward dan Carl Beinstein. Abad ke 20 dikatakan sebagai era interview jurnalis , jurnalisme wawancara , dan itu berlanjut sampai sekarang, abad ke 21.
Pada saat wawancara dilakukan , seorang reporter harus memperhatikan beberapa hal penting ,seperti tipe pertanyaan dan cara menanyakanya , struktur dan tema pokok masalah atau tujuan yang ingin dicapai dari wawancara , mencatat setiap jawaban dengan cepat dan tepat , jika menggunakan media telepon , gunakan etika berbicara lewat telepon.seorang reporter harus mahir dan mampu mengatasi gaya tau cara berbicara sumber yang kurang atau bahkan tidak komunikatif.seorang reporter juga harus memahami tipe tipe wawancara yang dilakukanya sepertimwawancara untuk feature ,berita investigasi,dan berita interpretasi.
Selama wawancara , seorang reporter tidak hanya cukup bertanya dan mendengarkan jawaban. Masih ada beberpa hal yang harus diperhatikan agar informasi yang telah diberikan sumber berita tidak ada yang hilang hanya karena lupa atau terlewatkan , luput dari penagkapan reporter.selama wawancara, misalnya reporter juga harus mencata setiap jawaban yang diberikan sumber untuk menghindari adanya informasi yang terlewat karena gaya bicara sumber yang cepat, reporter biasanya punya cara sendiri-sendiri dalam membuat catatan.memiliki kemapuan menulis cepat dan banyak juga dinataranya yang biasanya menggunakan sistem pemendekan kata sendiri.namun demikian ,bukan bukan bahwa dengan menulis hubungan muka menjadi terganggu.selama wawancara, reporter harus tetap mampu memlihara hubungan yang komunikatif,  bahkan untuk memelihara hubungan seperti itu ,dalam wawancara tatp muka yang memakan waktu yang cukup panjang ,reporter juga biasanya menggunakan alat bantu tape recorder sehingga wawancara tetap berlangsung komunikatif.[4]


1.      Persyaratan Wawancara Berita
Untuk dapat melakuka wawancara yang baik, setidaknya dibutuhkan 7 persyaratan pokok wawancara, yang terdiri atas berikut ini :
a.         Mempunyai tujuan yang jelas. Apa target yang dicapai mealui wawancara ? dengan tujua yang jelas, wawancara berlangsung secara terarah.
b.         Efisien. Wawancara semestinya dilakukan secara ringkas (bukan singkat), tetapi mendalam untuk mengungkap banyak hal yang perlu digali sebagai bahan berita.
c.         Menyenangkan. Wawancara bukanlah interograsi dan harus bebas dari tekanan. Suasana menyenangkan dalam wawancara akan berdampak besar terhadap proses wawancara antara wartawan dengan narasumber.
d.         Mempersiapkan diri dan riset awal. Wawancara perlu mempersiapkan diri, bahkan perlu riset awal sebagai background pengetahuan atas masalah yang menjadi topic wawancara.
e.         Melibatkan khalayak. Masalah yang pantas diwawancarai harus memiliki kepentingan terhadap masyarakat atau public.
f.          Menimbulkan spontasnitas. Wawancara yang baik membutuhkan tanya jawab dan penciptaan suasana yang spontan. Spontanitas dapat mencairkan suasana sehingga liran informasi dapat lebih leluasa.
g.         Mengendalikan suasana. Dalam wawancara, wartawan harus menjadi pengendali wawancara, bukan sebaliknya, narasumber yang menguasai wawancara dan mengendalikan wartawan.[5]
  1. Pedoman Dan Perencanaan Wawancara
1.      Membuat janji. jika deadline tidak terlau dekat , buatlah janji terlebih dahulu dengan sumber yang akan diwawancarai, terutama untuk menentukan waktu dan tempat wawancara.
2.      Mengidentifikasi diri sendiri sebagai seorang reporter dan lembaga tempat dimana ia bekerja , dan juga hindari adanya kesan dibohongi agar tidak ada tuntutan atau saling menyalahkan jika pernyataan – pernyataan yang diperoleh dari hasil wawancara itu ada yang menaggapi secar berseverangan.
3.      Mempertimbangkan kesiapan sumber berita , kapan dan dimana wawancara pada umumnya lebih banyak diberikan kepada sumber berita.reporter hanya menyampaikan beberapa pertanyaan , baik yang sudah dipersiapkan sebelumnya maupun yang secara spontan dirumuskan sebagai respon balik atas jawaban yang diberikan oleh sumber.
4.       Menjelaskan permasalahan yang akan ditanyakan.Untuk memberikan kejelasan kepada sumber berita, sampaikan kepadanya alur cerita serta permasalahanya Tentu saja tidak perlu penjelasan yang terlalu terperinci , paling tidak sumber menjadi tahu masalah apa yang sedang dikerjakan oleh reporter yang akan mewawancarainya.
5.      Berpenampilan baik dan sopan.Untuk kalangan tertentu, ada sumber yang hanya merasa dihargai jika reporter itu berpenampilan meyakinkan, seperti pakaianya serasim, bersepatu , dan rambut yang disisir rapih.yang baik dan sopan disini lebih dititik beratkan pada usaha membangun kesan yang cocok , serasi ,comparable ,dengan selera sumber yang diwawancarai , atau dengan situasi kapan dan dimana wawancara itu dilakukan.
6.      Tepat waktu.Datang tepat waktu sesuai janjinya yang sudah disepakati.jika janji bertemu pukul 11.00 usahakan anda datang paling lambat 10.00 , datang lebih awal akan menujukan inisiasi dan apresiasi yang tinggi sebab penghargaan yang tinggi terhadap waktu akan menambah kepercayaan sumber kepada anda.[6]
  1. Persiapan Wawancara
Tedapat beberapa tahapan persiapan yang umum dilakukan oleh wartawan, yaitu:
a.       Menentukan topic yang akan dibicarakan kepada sumber berita.
b.      Mempelajari topic berdasarkan informasi yang sedang berkembang, juga data-data kepustakaan yang mendukung. Dengan begitu, wartawan harus memahami betul topic yang akan ditulis menjadi berita.
c.       Menyiapkan peralatan penunjang wawancara. Pada umumnya, wartawan menggunakan alat perekam (tape recurder) dan buku catatan, mikrofon, bahkan handphone untuk melakukan wawancara langsung.
d.      Menyusun poin-poin pertanyaan yang akan diajukan kepada sumber berita. Catatan ini hanya sebagai panduan saja.
e.       menghubungi sumber-sumber berita yang akan diwawancarai, serta membuat janji dengan sumber berita.
f.        Menjelaskan tujuan wawancara kepada sumber berita, karena tujuan wawancara ini harus diketahui oleh kedua belah pihak agar tidak terjadi mis komunikasi atau salah presefsi.
g.      Berpakaian rapih dan wajar.[7]
4.      Jenis-jenis pertanyaan dalam wawancara berita
1.         Pertanyaan terbuka.Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang menghendaki jawaban yang luas dan bebas. Contoh : Bagaimana rencana kerja saudara setelah ditunjuk menjadi dirjen pendidikan tinggi?
2.         Pertanyaan hipotetik terbuka. Pada pertanyaan hipotetik terbuka, penanya dapat membuat pertanyaan lebih luas sengan memberikan beberapa keterangan untuk menyesuaikan dengan situasi wawancara. Contoh : tadi saudara jelaskan bahwa saudara tidak tahu menahu tentang penyelewengan yang dilakukan oleh bawahan saudara. Sepengetahuan saya, sistem pengawasan melekat di kantor saudara selama ini sudah ada. Apakah ada hambatan dalam pelaksanaannya?
3.         Pertanyaan langsung. Pertanyaan langsung dimaksudkan untuk pertanyaan yang menghendaki jawaban singkat, seperti "ya" atau "tidak". Contoh : apakah saudara ikut dalam rombongan presiden ke Cina beberapa waktu yang lalu ?
4.         Pertanyaan tertutup. Pertanyaan tertutup yaitu pertanuaan yang membatasi ruang gerak penjawab, bahkan kemungkinan jawaban telah tersedia. Penjawab tinggal menentukan salah satu pilihan jawaban itu. Contoh : bagaimana ukuran perusahaan yangbsedang saudara pimpin sekarang, perusahaan besar, menengah, atau kecil?
5.         Pertanyaan beban. Pertanyaan beban adalah pertanyaan yang menimbulkan beban berat bagi penjawab disebabkan tidak ada jawaban yang benar, tetapi menuntut jawaban yang emosional. Pertanyaan beban semacam ini jarang digunakan karena akan menimbulkan beban emosional kepada penjawab. Contoh : kalau bendungan raksasa yang direncanakan itu gagal, apakah anda akan mengundurkan diri dari Dirjen Pengairan ?
6.         Pertanyaan terpimpin. Pertanyaan terpimpin merupakan pertanyaan yang diikuti sengan arahan jawaban. Pertanyaan terpimpin merupakan pertanyaan yang sangat membantu dalam mengetahui sampai sejauh mana penjawab setuju dengan pendapat atau pandangan penanya yang diajukan sebelumnya. Contoh: saya melihat di daerah ini banyak sekali industri kecil yang mempunyai semangat kerja yang tinggi. Bagaimana dan dalam bentuk apa anda dapat memberikan bantuan kepada mereka?
7.         Pertanyaan orang ketiga. Maksud pertanyaan orang ketiga ini adalah isi pertanyaan yang diajukan seolah-olah merupakan pertanyaan yang datang dari orang ketiga dan jawabannya pun untuk orang ketiga. Contoh : beberapa pemimpin mahasiswa menginginkan adanya kebebasan berbicara di kampus ini. Menurut mereka, selama anda menjadi pembantu rektor bidang kemahasiswaan, kebebasan berbicara itu banyak dikekang. Tanggapan anda ?[8]

D.                          Bentuk-bentuk Wawancara
Sebagai salah satu kegiatan yang dilakukan wartawan atau reporter untuk memperoleh informasi menarik dan penting dari narasumber, wawaancara memiliki beberapa bentuk, baik dilihat dari tujuannya maupun caranya. berikut ini bentuk-bentuk wawancara yang sering dilakukan oleh wartawan atau reporter:[9]
a.       Factual News Interview
wawancara jenis ini bertujuan memperoleh komentar atau pendapat seorang ahli atau orang yang berkompeten mengenai suatu permasalahan. Misalnya; wawancara dengan dokter hewan tentang penyebaran wabah penyakit flu burung yang disebarkan melalui hewan unggas dan babi.
b.      Feature Personality interview
 wawancara jenis ini bertujuan menonjolkan pribadi seseorang, baik seorang tokoh maupun pelaku utama dalam sebuah peristiwa  besar.
c.       Wawancara melalui telepon
Wawancara melalui telepon dianggap langkah paling mudah ketika wartawan hendak mendapatkan sumber berita secara cepat. Wawancara melalui telepon , ini biasanya dilakukan untuk mengonfirmasi dengan mengejra deadline. sebab itu, dalam wawancara melalui telepon ini percakapanya pun singkat dan umumnya narasumber acapkali menolak untuk menjelaskan setiap pertanyaan secara panjang lebar, kecuali narasumbernya sudah akrab dan biasa menjadi narasumber di pewawancara. Wawancara via telepon umumnya dilakukan terhadap sumber berita yang jauh untuk dijangkau, sangat sibuk atau tidak punya waktu untuk bertemu dan wawancara tatap muka, serta untuk keperluan informasi yang penting dan mendesak, misalnya konfirmasi pihak kepolisian atau rumah sakit.
d.      Wawancara langsung (tatap muka)
Wawancara langsung dilakukan untuk keperluan pendalaman informasi mengenai suatu hal, atau ingin mengungkap tentang sosok sumber berita yang diwawancarai. Sumber berita yang diwawancarai bisa dijangkau dan tidak terlalau sibuk, bisa ditemui dan diwawancarai langsung.
e.       Wawancara Eksklusif
Yaitu wawancara yang dilakukan seorang wartawan atau lebih (tetapi berasal dari satu media) secara khusus dengan sumer berita, berkaitan dengan masalah tertentu. Wawancara eksklusif ini hanya dilakukan dan didapat oleh media tersebut dan tidak didapat oleh media lainnya. Berita ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi setiap media, seolah media yang bersangkutan telah menunjukan keunggulannya. Sebuah berita dikatakan eksklusif apabila memenuhi kriteria sebagai berikut ; petama, sumber berita yang diwawancarai benar-benar sedang menjadi actor berita. Kedua, informasi yang disajikan mendalam dan memuat banyak informasi dan perkembangan baru yang belum pernah dimuat oleh media lainnya.
f.        Wawancara Bersama
Wawancara bersama ialah bertemunya para wartawan dari beberapa media untuk melakukan wawancara dengan sumber berita. Jumlah wartawan dalam kategori ini tidak banyak, sehingga harus dibedakan dengan konferensi pers yang biasanya dihadiri wartawan secara masal. Dalam wawancara bersama, bertemunya beberapa wartawan itu bisa saja karena kebetulan, mereka bertemu karena memiliki tujuan yang sama/ bisa saja sumber berita yang sengaja  menyatukan mereka dengan pertimbangan wawancara bisa dilakukan pada waktu  dan tempat yang sama agar lebih efektif.
g.      Wawancara tertulis
Wawancara model ini dilakukan kepada sumber berita yang sulit untuk ditembus, misalnya presiden dan wakilnya. Dalam hal ini, topic yang akan dibicarakan biasanya adalah masalah yang sangat rumit, sehingga perlu kehati-hatian bagi narasumber dalam menjawabnya. Oleh karena itu, jawaban tertulis lebih memungkinkan dilakukan ketimbang jawaban langsung atau via telepon.


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Wawancara (interview) merupakan salah satu metode pengumpulan bahan berita (data atau fakta). Pelaksanaan wawancara  bisa dilakukan secara langsung bertatap muka dengan orang yang diwaawancarai, atau secara tidak langsung seperti melalui telefon, internet, atau surat dalam bentuk wawancara tertulis (melalui e-mail dan sms). Wawancara bertujuan untuk memperoleh informasi, data, atau keterangan tambahna yang penting dan menarik untuk penyusunan berita.
Pada saat wawancara dilakukan , seorang reporter harus memperhatikan beberapa hal penting ,seperti tipe pertanyaan dan cara menanyakanya , struktur dan tema pokok masalah atau tujuan yang ingin dicapai dari wawancara , mencatat setiap jawaban dengan cepat dan tepat , jika menggunakan media telepon , gunakan etika berbicara lewat telepon.seorang reporter harus mahir dan mampu mengatasi gaya tau cara berbicara sumber yang kurang atau bahkan tidak komunikatif.seorang reporter juga harus memahami tipe tipe wawancara yang dilakukanya sepertimwawancara untuk feature ,berita investigasi,dan berita interpretasi.

DAFTAR PUSTAKA

Kusuma Ningrat Hikmat dkk, Jurnalistik Teori dan Praktik, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya,
Saeful Muhtadi , Asep “Pengantar Ilmu Jurnalistik”, Simbiosa Rekatama Media: Bandung ,2016
Sumadiria, Haris 2017, Jurnaslistik Indonesia Menulis Berita dan Feature Panduan Praktis Jusnalis Profesional, Bandung : Simbiosa Rekatama Media,
Syamsul.  Asep 2009. Jurnalistik Praktis . Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
 Yunus, Syarifudin 2012, Jurnalistik Terapan, Bogor : Ghalia Indonesia.
Zaaenuddin. 2011. The Journalist. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.



[1] Asep Syamsul.  2009. Jurnalistik Praktis . Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Hlm  35.
[2] Hikmat Kusuma Ningrat dkk, Jurnalistik Teori dan Praktik, Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, hlm 189
[3] Syarifudin Yunus, 2012, Jurnalistik Terapan, Bogor : Ghalia Indonesia, hlm 63

[4] Asep Saeful Muhtadi , “Pengantar Ilmu Jurnalistik”, Simbiosa Rekatama Media : Bandung ,2016 , hal 175-185
[5] Syarifudin Yunus, 2012, Jurnalistik Terapan, Bogor : Ghalia Indonesia, hlm 58-60
[6] Asep Saeful Muhtadi , “Pengantar Ilmu Jurnalistik”, Simbiosa Rekatama Media : Bandung ,2016 , hal 175-185
[7] Zaaenuddin. 2011. The Journalist. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Hlm 116-117.
[8] Haris Sumadiria, 2017, Jurnaslistik Indonesia Menulis Berita dan Feature Panduan Praktis Jusnalis Profesional, Bandung : Simbiosa Rekatama Media, hlm 112-114
[9] Zaaenuddin. 2011. The Journalist. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Hlm 104-111.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Teknik Wawancara"

Posting Komentar