Motivasi Menulis

Teknik Reportase: Observasi, Riset Data dan Wawancara


JURNALISTIK DAN PUBLISHTIK
Teknik Reportase: Observasi, Riset Data dan Wawancara
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok
Mata Kuliah Pngantar Jurnalistik dan Publishtik



DisusunOleh  :

1.      Siti Nur Azizah              (1608101016)
2.      Sundoyo                         (1608101017)
3.      Sidiq Hamdani               (1608101018)

DosenPengampu :
Muthoharoh M.Pd.I
Jurusan/Kelas/Semester : PAI/A/ VII
2019

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon
Jl. Perjuangan By Pass Sunyaragi Cirebon 45132





KATA PENGANTAR
Segala puji kita panjatkan kehadirat Allah SWT, shalawat dan salam mudah-mudahan senantiasa terlimpah curahkan pada jungjungan dan panutan kita Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, shahabat, dan para pengikutnya sampai akhir zaman.
        Alhamdulillah dengan rahmat Allah SWT, tugas mata kuliah “Jurnalistik dan Publishtik” dengan judul “Teknik Reportase: Observasi, Riset Data dan Wawancara” ini telah selesai kami susun.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, masih banyak kekurangan.Kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan tugas kami.
          Atas segala kekurangannya kami ucapkan mohon maaf dan semoga kita mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya. Aamiin







                        Cirebon,  07 November 2019
                                   


Kelompok 06





DAFTAR ISI

Kata Pengantar. .................................................................................................................i
Daftar Isi.................................. .....................................................................................ii
BAB. I PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang...................................................................................... ...1
B.  Rumusan Masalah.................................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan............................................................... ..........................1
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Teknik Reportase............................................. ….……………3
B   Observasi................................................................................................. 4
C.  Teknik Data................................................................................. .............5
D.Wawancara……………………………………………………….............6
PENUTUP
A.     Kesimpulan......................................................................................... 11

DAFTAR PUSTAKA.................................................................... ................... ..12





BAB I
PEMBAHASAN

A.    Latar Belakang
Kehadiarn media masa di tengah perkembangan ilmu dan teknologi semakin terasa penting. Informasi yang disajikan kepada khalayak pun harus semakin cepat dan tepat. Ketidak tepatan informasi yang samapai kepada khalayak akan  menimbulkan ketidak percayaan terhadap media media masa tersebut dan tidak tepatan menyampaikan informasi akan merugikan kepercayaan membaca. Perkembangan teknologi yang semakin canggih, menuntut kita sebagai manusia untuk memperoleh pengetahuan yang luas dengan memilih segala bentuk informasi penting melalui dari berbagai media. Reportase adalah asalah satu sumber informasi yang dianggap penting untuk dikonsumsi. Selain itu memperoleh informasi yang akurat, maka reportase lah solusinya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud teknik Reportase ?
2.      Apa saja macam-macam teknik Reportase ?

C.     Tujuan Masalah
1.    Untuk mengetahui tentang Reportase
2.    Untuk mengetahui apa saja teknik Reportase







BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Teknik Reportase
Liputan atau reportase pada dasarnya  adalah usaha untuk mengumpulkan data-data  untuk membuat suatu tulisan, baik tulisan ilmiah maupun karya-karya popular. Aktivitas liputan akhirnya menjadi sangat lekat dengan penulisannya. Mustahil membuat berita tanpa melakukan liputan.
Proses liputan dalam menulis berita pada dasarnya proses pembuatan berita secara terperinci tentang suatu masalah atau peristiwa. Liputan atau reportase sudah lumrah  dilakukan oleh wartawan. Liputan adalah dunianya seorang wartawan. Setiap hari,  kegiatannya yang mengadakan liputan untuk membuat tulisan. Oleh sebab itu, karena liputan  adalah suatu aktivitas rutin seorang wartawan, maka ia harus paham bagaimana proses liputan ini.[1]
telah menjelaskan tentang jenis berita yang dilihat dari sifat kejadiannya: berita yang dapat diduga dan berita yang tidak dapat diduga. Di samping pembagian tersebut, masih ada jenis berita yang bentuknya berbeda dengan kedua jenis berita ini, terutama dalam hal penulisannya yang sangat memerlukan keterampilan tersendiri. Bukan saja dalam hal teknis dan gayanya, tetapi juga dalam mencari serta mengumpulkan data, informasi, dan fakta yang diperlukan. Jenis berita yang dimaksud adalah reportase atau yang biasa disebut dengan berita laporan. Bahkan terkadang disebut juga dengan current affairs news. Sebagian orang mengatakan bahwa reportase bukanlah sebuah berita karena bukan merupakan suatu peristiwa, kejadian, atau kenyataan yang baru, melainkan laporan suatu keadaan atau laporan perkembangan suatu kejadian. Reportase lebih cenderung seperti kelanjutan berita (1ews continuity) atau apa yang disebut dengan berita tindak lanjut (follow-up news).[2]
Dalam hal ini Keterangan yang lebih lengkap sangatlah dibutuhkan, misalnya ketentuan mengenal pemuatan barang-barang kimia yang nmudah terbakar atau meledak dan ketentuan mengenal Peraturan kendaraan bermotor di atas kapal penumpang Oleh sebab itu diperlukan Kerja sama dengan pihak penyidik untuk menguji kebenaran intormasi yang beredar. Pada saat itu, bangkai kapal diseret ke suatu tempat bernama viuarad Gembong, Wilayah Bekasi. Selain polisi, tim Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Juga dikerahkan untuk menyelidiki Lavina I. Wartawan pun diajak ikut menyaksikan. Saat diperiksa, bangkai Lavina I justru tenggelam sehingga menelan enam korban Jiwa baru, yang di antaranya seorang awak televisi penyiaran yang meninggal seketika dan hilangnya Seorang juru kamera. Persoalan-persoalan seperti bagaimana nasib korban yang hilang atau masalah santunan belum juga tuntas, justru muncul tragedi yang baru. Apakah ada sabotase dalam kejadian ini?
Jawaban atas pertanyaan tersebut tentu "menarik bagi pembaca dan laporan dari jawaban inilah yang disebut dengan reportase. Dari sudut pandang ini, reportase juga dapat disebut sebagai berita. Jadi, diperlukan adanya pendalaman masalah, perkiraan keadaan (spekulasi), dan masa depan atau kelanjutan suatu peristiwa (the future of event).
Dalam dunia jurnalisme elektronik (radio dan televisi) juga dikenal sebutan berita Current afairs. Berita ini biasanya didapat dengan merekam keterangan-keterangan dari berbagai narasumber mengenai suatu kejadian. Selain untuk memberi warna, hal tersebut juga bertujuan untuk mengupas lebih dalam suatu masalah atau peristiwa yang sedang hangat diperbincangkan. Kontroversi yang bermunculan juga bisa diambil dan dikemas menjadi sebuah berita.
 Namun, seperti yang sudah disinggung sebelumnya, berita baru layak disebut sebagai berita bila dilaporkan. Berdasarkan pernyataan ini, sebagian orang mengatakan bahwa berita itu adalah laporan" (news is report). Dengan kata lain, berita adalah laporan suatu peristiwa yang baru terjadi (ingat bahwa salah satu syarat berita adalah timeliness). Dari Sudut pandang ini, reportase dilihat sebagai sesuatu yang bukan berita. Tidak selamanya report berarti news.
Berdasarkan pemahaman tersebut reportase itu diartikan sebagai laporan atas sesuatu yang lebih luas dari sekadar berita. Selain mengenai berita, reportase juga melaporkan latar belakang, kesimpulan, berbagai penjelasan, dan juga bahkan pendapat mengenai suatu kejadian lama yang pernah diberitakan, keterkaitan fakta, perkiraan atau spekulasi, dan masa depan kejadian. Singkat kata, laporannya mengandung interpretasi dan kedalaman penafsiran.
Berdasarkan pemahaman di atas, dapat disimpulkan bahwa reportase (report) adalah Suatu laporan mengenai keterangan lanjutan atas suatu kejadian yang sudah banyak diketahui secara luas. Menurut Djawoto, dalam bukunya Djurnalistik dalam Praktek (1959), keterangan lanjutan (talking point) sangat diperlukan dan penting untuk diketahui oleh khalayak luas. Biasanya menjadi bagian dari berita yang sangat dinantikan. Misalnya saja perkembangan berita tragedi tenggelamnya kMP Senopati, hilangnya pesawat terbang Adam Air, atau terbakarnya KMP Lavina I di lepas pantai Kepulauan Seribu Jakarta, pasti nenjadi berita yang paling ditunggu-tunggu oleh banyak kalangan. Menurut berbagai sumber resmi misalnya, Kebakaran KMP Lavina I bersumber dari muatan truk yang berisi bahan kimia. Bahan kimia tersebut kemudian terbakar. Itulah yang menyebabkan kapal penumpang itu terbakar dan menelan banyak korban jiwa. Tentu Saja keterangan ini tidak memuaskan pembaca. Pembaca benar-benar ingin mengetahui hal yang sebenarnya menyebabkan muatan truk itu terbakar.
Banyak orang  yang mengatakan bahwa proses liputan bisa dipelajari  di lapangan saja, tidak perlu teori-teori. Kalau begitu, maka seorang lebih lama memahami proses itu sendiri. Apa pun itu, memang benar bahwa pengalaman-pengalaman dilapangan adalah guru yang paling baik, termasuk untuk liputan. Akan tetapi, dalam proses belajar sangat perlu menimba pengalman-pengalaman dari orang-orang yang sudah pernah melakukannya.
Mengadakan liputan pada dasarnya melakukan dua hal untuk mendapatkan bahan baku berita. Ketiga hal itu yaitu : pertama melakukan, melakukan observasi dilapangan; dan ketiga, melengkapi dengan wawancara. Jadi sudah jelas bahwa liputan itu tidak hanya wawancara.
A.    Observasi
Observasi adalah peninjauan secara cermat terhadap suatu persoalan. Setelah pemahaman awal didapatkan oleh seorang jurnalis, maka ia akan melakukan observasi ke lapangan. Ia akan melihat dengan mata kepalanya sendiri  apa persoalan  yang sedang terjadi, dalam ungkapan minang disebut alam terkembang jadi guru. Pada tahap ini seorang jurnalis mengamati saja persoalan-persoalan  yang ada.
Observasi dalam istilah Parakitri T. Simbolon adalah pisau Galilleo; mata itu guru, sukma itu murid, atau alam terkembang jadi guru. Katanya dalam pengantar buku jurnalis.[3]
Observasinmenurut Luiwi Ishwara dapat dikelompokan menjadi tiga tipe
1)      Observasi partisipan
Wartawan terlibat dalam peristiwa yang diliput. Artinya seorang wartawan menjadi bagian penting dari peristiwayang terjadi. Contohnya jiak seorang wartawan yang juga bagian dalam masyarakat lain untuk menyurakan kepentingan mereka melawan upaya penggusurran itu.
2)      Observasi nonpartisipan
Wartawan berada dalam lokasi kejadian tetapi tidak libat dalam peristiwa yang terjadi. Observasi ini secara tidak sederhana seorang wartawan yang berada dilapangan melakukan penyelidikan terhadap peristiwa yang terjadi
3)      Obsevasi diam-diam
Observasi diam-diam adalah observasi seperti tikus ia mengamati perilaku orang-orang tanpa orang lain mengetahui identitasnya sebagai wartawanartinya ia bisa saja tidak terlibat sebagai pelaku kontra maupun tidak.
B.     Wawancara
Wawancara (interview) merupakan kegiatan komunikasi melalui proses pertukaran informasi antara reporter dengan narasumber berita. dengan wawancara[4]. Tahap ini tentunya dilakukan untuk menggali lebih dalam persoalan-persoalan dalam pandangan objek. Orang yang terlibat dalam suatu persoalan barangkali akan berbeda pendapat terhadap suatu persoalan. Artinya wawancara tidak dilakukan hanya kepada salah satu objek di lapangan, tetapi lazimnya kepada banyak pihak yang berbeda  posisi mereka dalam suatu kasus.[5]
Wawancara menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah Tanya jawab dengan seseorang yang di perlukan untuk dimuat dalam surat kabar, disiarkan melalui radio, atau ditayangkan pada layar televisi.
Tujuan wawancara tentulah memiliki tujuan. Dalam dunia jurnalistik tuuan wawancara jurnalistik itu selain mendapatkan informasi juga berfungsi sebagai cara mengukur kebenaran informasi yang didapatkan. [6]

C.     Riset Data
Disebut juga studi literature riset dokumentasi, yaitu wartawan membuka-buka arsip, buku, atau referensi terkait dengan berita yang ditulisnya. Dalam memilah bukti, semua indera kita harus terlibat untuk memilah mana yang berarti dan mana tidak berarti untuk mendukung suatu peristiwa. [7]



                                                   Kalau IDT Tanpa Kontrol

JAKARTA (KORAN)-Upaya-upaya mengentaskan kemiskinan bukanlah barang baru. Sesungguhnya semua kegiatan kenegaraan dan politik semuanya bermuara ke satu tujuan, yakni meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup manusia.
Tapi suatu fenomena yang sangat memprihatinkan selama ini ialah banyak hal yang menyebabkan kegiatan kenegaraan dan pembangunan itu tidak mencapai sasaran yang dinginkan secara merata oleh semua lapisan masyarakatL Bahkan kenyataan menunjukan bahwa dalam beberapa hal pembangunan itu justru menimbulkan kesenjangan sosial dan kemiskinan.
Selama ini banyak aparat tidak sadar atau memang disebabkan oleh kepentingan tertentu, maka perencanaan dan pelaksanaan pembangunan melenceng dar sasaran. Fungsi kontrol tidak berkutik dalam meluruskan ketimpangan-ketimpangan yang ada. Dan lebih memprihatinkan lagi bahwa ada aktor pembangunan yang justru menganggap arah pembangunan tidak menyimpang.
Karena itulah kaum intelektual kita bersuara keras dan melancarkan kritik-kritik tajam terhadap para aktor pembangunan.Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi disebabkan karena sistem kontrol yang lemah. Kelemahan kontrol ini lebih menonjol lagi di daerah tingkat satu dan tingkat dua dan Seterusnya ke tingkat kecamatan dan desa.
Sudah menjadi catatan sejarah hitam bagi Indonesia selama ini bahwa sumber pokok Kemunduran ekonomi dalam banyak hal adalah akibat merajalelanya korupsi yang sebenarnya tidak bisa ditoleransi.
Tapi dalam kenyataannya, mentalitas aktor-aktor pembangunarn itu sendiri turut menjadi Penyebab besar kenapa lembaga-lembaga pengawasan tidak bekerja secara efektif. menyimpangan-penyimpangan itu tidak terkoreksi secara tuntas oleh orde baru. Korupsi tetapi hadir.penyebab lain, korupsi adalah menunjukkan kurangnya atau terjadinya erosi idealisme dikalangan pejabat...


Kutipan di atas diambil dari bagian depan saja, yaitu delapan alinea dari sekitar dua puluh alinea laporan (nama yang menulis laporan dan sumber media kutipannya sengaja tidak dicantumkan di sini). Kita bisa melihat dari empat alinea pembuka saja kutipan di atas hanya berisi pendapat, kritik, dan pernyataan-pernyataan (ditambah prasangka- prasangka) pribadi dari wartawan yang membuatnya. Topik mengenai IDT belum juga disentuh. Masalah kemiskinan sendiri tertinggal oleh berjejalnya opini.
Penggunaan dana IDT  pada masa pemerintanan orde baru merupaka pemerintah pusat untuk daeran yang tergolong Sebagal desa tertinggal. Bantuan ini masuk dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan disalurkan Departemen Dalam Negeri. Dari departemen disalurkan ke daerah tingkat I propinsi. Dari provinsi disalurkan ke daerah tingkat Il kabupaten/kota. Dari kabupaten disalur ke kecamatan dan dari kecamatan baru disalurkan lagi ke desa-desa tertinggal tersebur Mekanisme penyaluran dana yang berkesan sangat birokratis ini memang rentan terhadap korupsi. Memang ketika itu banyak orang yang tidak percaya akan kejujuran aparat pemerintah mulai dari pusat sampai ke tingkat desa dalam penyaluran dana dimaksud Namun, tidak sepatutnya wartawan membuat semacam praduga tanpa dukungan fakta yang jelas.
Dalam membuat laporan, wartawan hendaknya tidak larut dalam prasangka-prasangka yang berkembang di masyarakat, melainkan harus tetap taat pada asas-asas jurnalisme yang sangat menekankan objektivitas. Suka atau tidak suka, seorang wartawan tidak selayaknya menunjukkan opininya secara eksplisit dalam laporan ataupun pemberitaannya mengenai suatu peristiwa atau kejadian. Perlu disadari, setuju atau tidak setuju, pembaca tidak begitu peduli dengan sikap wartawan terhadap suatu peristiwa. Pembaca hanya menunggu laporan mengenai peristiwa itu sendiri.
Secara keseluruhan, dari delapan alinea tersebut, si wartawan mengabaikan fakta yang ditemukannya di lapangan. Wartawan itu tidak melaporkan pelaksanaan IDT yang salah urus atau masalah kemiskinan di desa tertinggal, tetapi justru membicarakan tentang perilaku korupsi para pejabat. Dari laporan di atas, tampak jelas bahwa si wartawan sedang membuat artikel opini.
Bandingkan laporan sebelumnya dengan laporan tentang penggusuran dan penertiban pedagang kaki lima (PKL) atas nama pembangunan yang gencar dilakukan oleh pemerinta kota di Indonesia. Penertiban-penertiban ini lebih gencar lagi dilakukan setelah berlakun) Undang-undang Otonomi Daerah No. 32 lahun 2001 yang menyebabkan kewenanga pemerintah daerah semakin kuat.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Liputan atau reportase pada dasarnya  adalah usaha untuk mengumpulkan data-data  untuk membuat suatu tulisan, baik tulisan ilmiah maupun karya-karya popular. Aktivitas liputan akhirnya menjadi sangat lekat dengan penulisannya. Mustahil membuat berita tanpa melakukan liputan.
Proses liputan dalam menulis berita pada dasarnya proses pembuatan berita secara terperinci tentang suatu masalah atau peristiwa. Liputan atau reportase sudah lumrah  dilakukan oleh wartawan. Liputan adalah dunianya seorang wartawan. Setiap hari,  kegiatannya yang mengadakan liputan untuk membuat tulisan. Oleh sebab itu, karena liputan  adalah suatu aktivitas rutin seorang wartawan, maka ia harus paham bagaimana proses liputan initelah menjelaskan tentang jenis berita yang dilihat dari sifat kejadiannya: berita yang dapat diduga dan berita yang tidak dapat diduga.
Di samping pembagian tersebut, masih ada jenis berita yang bentuknya berbeda dengan kedua jenis berita ini, terutama dalam hal penulisannya yang sangat memerlukan keterampilan tersendiri. Bukan saja dalam hal teknis dan gayanya, tetapi juga dalam mencari serta mengumpulkan data, informasi, dan fakta yang diperlukan. Jenis berita yang dimaksud adalah reportase atau yang biasa disebut dengan berita laporan. Bahkan terkadang disebut juga dengan current affairs news. Sebagian orang mengatakan bahwa reportase bukanlah sebuah berita karena bukan merupakan suatu peristiwa, kejadian, atau kenyataan yang baru, melainkan laporan suatu keadaan atau laporan perkembangan suatu kejadian. Reportase lebih cenderung seperti kelanjutan berita (1ews continuity) atau apa yang disebut dengan berita tindak lanjut
1)        Observasi
Observasi adalah peninjauan secara cermat terhadap suatu persoalan. Setelah pemahaman awal didapatkan oleh seorang jurnalis, maka ia akan melakukan observasi ke lapangan
2)        Wawancara
Wawancara (interview) merupakan kegiatan komunikasi melalui proses pertukaran informasi antara reporter dengan narasumber berita. dengan wawancara
3)        Riset Data
Disebut juga studi literature riset dokumentasi, yaitu wartawan membuka-buka arsip, buku, atau referensi terkait dengan berita yang ditulisnya. Dalam memilah bukti, semua indera kita harus terlibat untuk memilah mana yang berarti dan mana tidak berarti untuk mendukung suatu peristiwa.



DAFTAR PUSTAKA

Azwar. Pilar Jurnalistik. Jakarta Prenada Media Group. 2018.  
Hayati Sri Yayat. Jurnalistik Petunjuk Teknik Menulis Berita. Ciputat. PT. Gelora Aksara . 2014
Pratama. Muhtadi Asep Saeful. Jurnalistik (Pendekatan Teori dan Praktik). Jakarta. PT. Logos Wacana Ilmu. 1999.
Https://romeltea.co/reportase-pengertian-teknik-dan Dikutip tanggal 07 November 2019 pukul. 21:38



















[1] Azwar. 2018. Pilar Jurnalistik. Jakarta Prenada Media Group. Hlm. 57
[2] Hayati Sri Yayat. 2014. Jurnalistik Petunjuk Teknik Menulis Berita.Jakarta. PT. Gelora Aksara Pratama. Hlm. 96
[3] Azwar. 2018. Pilar Jurnalistik. Jakarta. Prenada Media Group. Hlm. 58

[4] Muhtadi Asep Saeful.1999 . Jurnalistik (Pendekatan Teori dan Praktik). Ciputat. PT. Logos Wacana Ilmu. Hlm. 212
[5] Azwar. 2018. Pilar Jurnalistik. Jakarta. Prenada Media Group. Hlm. 60

[6]Ibid…. Hlm. 62

[7]https://romeltea.co/reportase-pengertian-teknik-dan Dikutip tanggal 07 November 2019 pukul. 21:38

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Teknik Reportase: Observasi, Riset Data dan Wawancara"

Posting Komentar