MAKALAH
“SEJARAH PERKEMBANGAN JURNALISTIK”
Disusun
untuk memenuhi salah satu tugas terstruktur
Mata Kuliah “JURNALISTIK dan PUBLISTIK”
Dosen Pengampu: Muthoharoh, M. Pd. I
Di susun oleh Kelompok 2 :
Siti Sulfa Sulaeman 1608101004
Susep Suryaman 1608101005
Tri Firnawati 1608101006
FITK/PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI CIREBON
TAHUN AKADEMIK
2019
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr.wb.
Segala
puji bagi Allah swt yang telah melimpahkan Rahmat dan HidayahNya sehingga
penulis dapat menyelesaikan tugas makalah tentang Sejarah
Jurnaistik.
Makalah ini dibuat ntuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Jurnaistik
dan Pubistik.
Dalam
menyusun makalah ini penulis menyadari banyak kekurangan yang tampak, sehingga
penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang dapat membangun demi
penyempurnaan makalah ini. Dan semoga dengan tersusunnya makalah ini, dapat
dipelajari serta dipahami isi pembahasannya serta makalah ini pun bisa
bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Amiinn.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Cirebon, 05 November 2019
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR...................................................................................................... i
DAFTAR
ISI.................................................................................................................... ii
BAB
I PENDAHULUAN................................................................................................ 1
A. Latar
Belakang............................................................................................................. 1
B. Rumusan
Masalah......................................................................................................... 1
C. Tujuan........................................................................................................................... 2
BAB
II PEMBAHASAN................................................................................................. 3
A. Sejarah Jurnalistik......................................................................................................... 3
1. Sejarah Jurnalistik di Dunia................................................................................... 3
2. Sejarah Jurnalistik di Indonesia............................................................................. 6
a. Zaman Penjajahan Indonesia........................................................................... 6
b. Jurnalistik Dalam Orde Reformasi................................................................... 7
B. Sejarah Perkembangan Jurnalistik................................................................................ 10
BAB
III PENUTUP.......................................................................................................... 13
A. Kesimpulan................................................................................................................... 13
DAFTAR
PUSTAKA....................................................................................................... 14
Lampiran........................................................................................................................... 15
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jurnal merupakan sebuah
karya yang dibuat untuk menjadi bacaan sekaligus informasi bagi halayak banyak.
Para penggiat jurnal disebut sebagai jurnalis dan pekerjaan nya adalah
jurnalistik. Di era globalisasi ini sudah banyak media yang digunakan oleh para
jurnalis untuk menyampaikan informasi harian, sehingga sangatlah mudah
seseorang untuk bisa di dapatkan informasi terbaru setiap hari nya.
Jurnalistik mempunyai
peran penting dari masa ke masa, karena setiap informasi yang di sebarkan dapat
menjadi pengaruh besar untuk segala hal yang di catat nya, jika berkaitan
dengan politik maka hasilnya akan mempengaruhi perkembangan politik itu
sendiri, akankah lebih baik atau bahkan lebih buruk lagi. Semua tergantung
seperti apa informasi yang tercantum dalam catatan atau audio visual seorang
jurnalistik.
Namun masih banyak orang yang tidak tahu akan sejarah perkembangan
jurnalistik, yang seharusnya pengetahuan tentang sejarah inilah yang menjadi
bacaan utama sebelum membaca informasi yang di hasilkan oleh para jurnalis. Dalam dunia ini perkembangan dunia jurnalistik sangatlah pesat dan
sangatlah tidak terbendung. Dibelahan Negara manapun terdapat jurnalistik, yang
memenuhi kebutuhan masyarakat akan kebutuhan informasi, yang dapat diakses
secara cepat dan tanpa mengeluarkan biaya yang banyak. Jurnalistik tidak muncul
begitu saja tanpa ada sebab dan histori. Tentunya lahirnya sesuatau dilatar
belakangi oleh suatu histori. Dalam artikel ini saya akan Memaparkan Makalah
yang berjudul “Sejarah Perkembangan Jurnalistik” didalam makalah ini akan dijelaskan
beberapa perkembangan dari zaman Romawi (acta diurna) sampai zaman sekarang
(media online) dan disertai dengan teori yang mendasari akan perkembangan
perkembangan tersebut.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana Sejarah Jurnalistik di dunia?
2.
Bagaimana Sejarah Jurnalistik di Indonesia?
3.
Bagaimana Perkembangan Jurnalistik?
C.
Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui sejarah jurnalistik di dunia
2.
Untuk mengetahui sejarah jurnalistik di indonesia
3.
Untuk mengetahui perkembangan jurnalistik
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah
Jurnalistik
1. Sejarah Jurnalistik di Dunia
Secara gamblang, orang
seringkali menyamakan jurnalistik dengan pers, bahkan ada yang menyamakan jurnalistik
sebagai surat kabar. Ini disebabkan oleh media massa yang pertama kali
diciptakan manusia adalah surat kabar. Tak heran, jika orang mencampuradukkan
antara jurnalistik dan media cetak.
Umumnya, literature
jurnalistik menyebutkan bahwa produk jurnalistik pertama adalah Acta Diurn yang
artinya “Catatan Harian”, terbit di zaman omawi ketika Julius Cesar berkuasa
(60 SM). Acta Diurna merupakan kegiatan jurnalistik yang berkisar pada hal-hal
yang sifatnya informative saja, terutama untuk kepentingan kerajaan Romawi.
Dengan kata lain, Acta Diurna merupakan “:corong” bagi raja Romawi dalam
menyampaikan informasi-informasi kerajaan berupa berita-berita dan
pengumuman-pengumuman.
Pemerintahan Julius Caesar mengumumkan hasil persidangan senat,
berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta apa
yang perlu disampaikan dan diketahui oleh rakyatnya, dengan jalan menuliskannya
pada papan pengumumn (Acta Diurna). Papan pengumuman ini ditempelkan atau
dipasang di pusat kota yang kala itu disebut Forum Romanum (Stadion Romawi)
agar mudah diketahui oleh umum. Setiap warga diperbolehkan membaca isi Acta
Diurna, bahkan boleh juga mengutipnya untuk disebarluaskan dan dikabarkan lagi
ke tempat lain.
Namun, ada yang menyebutkan
bahwa cikal bakal jurnalistik bukanlah Acta Diurna, melainkan sejarah Nabi Nuh.
Dikisahkan bahwa sebeum Allah SWT menurunkan banjir yang sangat dahsyat kepada
kaum kafir, malaikat diutus Allah untuk menemui Nabi Nuh dan memberitahukan
bagaimana cara membuat kapal yang kokoh. Kapal itu nantinya dipergunakan Nabi
Nuh untuk menyelamatkan diri bersma sank keluarganya, seluruh pengikutnya yang
shaleh, dan segala macam hewan.
Usai Nabi Nuh membuat kapal
tersebut, tidak lama kemudian hujan lebat pun turun berhari-hari tiada henti,
disertai dengan angina dan badai yang
begitu dahsyat. Bencana alam tersebut menghancurkan segala apa yang ada
didaratan, kecuali kapal Nabi Nuh. Daratan dengan cepat berubah menjadi lautan
yng sangat besar dan luas serta bergelombang. Saat itu, Nabi Nuh bersama
orang-orang yang beriman dan segala macam jenis hewan telah berada di atas
kapal dan berlayar dengan selmat di atas gelombang air yang sangat dahsyat.[1]
Waktu terus bergulir, meski
berminggu-minggu dilalui di atas kapal, banjir tak juga surut. Nabi Nuh dan
seluruh awak kapal lainnya pun mulai khawatir dan gelisah karena persediaan
makanan mulai menipis. Mereka berharap ada kepastian, sehingga dapat melakukan
penghematan yang lebih cermat.
Untuk meredam kegelisahan para pengikutnya, Nabi Nuh
pun mengutus seekor burung ke luar kapal untuk meneliti keadaan air dan
kemungkinan adanya makanan. Setelah beberapa lama terbang mengamati keadaan,
burung itu hanya melihat daun dan ranting pohon zaitun (olif) yang tampak
muncul dipermukaan air. Ranting itu pun dipatuk oleh burung tersebut dan
dibawanya kepada nabi Nuh. Berdasarkan temuan tersebut, Nabi Nuh menyimpulakan
bahwa banjiir sebenarnya sudah mulai surut, hanya saja permukaan daratan masih
tertutup air. Informasi itu pun disampaikan Nabi Nuh kepada para pengikutnya.
Berdasarkan kisah tersebut,
para ahli sejarah menamakan Nabi Nuh sebagai seorang pencari berita sekalgus
penyiar kabar (jurnalis) yang pertama kali di dunia. Sebab, sejalan dengan
teknik-teknik dan cara mencari, serta menyiarkan sebuah berita. Dengan
demikian, para ahli sejarah menunjukkan bahwa sesungguhnya kantor berita yang
pertama di dunia adalah Kapal Nabi Nuh.
Sehubungan dengan cerita
tersebut, maka “catatan harian” sebagai kegiatan jurnalistik, pada dasarnya
dilakukan melalui berbagai tahapan seperti proses mencari, mengumpulkan,
mengolah, dan kemudian menyiarkannya. Jurnalistik pun dapat diartikan sebagao
hal ihwal tentang pemberitaan dan kewartawanan. Karena itu, orang yag bekerja
untuk jurnalistik disebut dengan jurnalis / wartawan / reporter.
Seiring dengan majunya ilmu
pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat, sehingga menghasilkan radio,
televisi, dam film, jurnalistik pun menjadi semakin luas cakupannuya.
Jurnalistik tidak lagi mengelola laporan harian untuk sarana media cetak
(terutama surat kabar), tetapi juga sarana media elektronik (terutama radio dan
televise). Bahkan, kini telah merambah hingga ke media online (misalnya surat
kabar online).[2]
Pada decade 1920-1930, di
Amerika Serikat, sempat terjadi apa yang dinamakan The Press Radio War (Perang
antara Surat Kabar dan Radio). Surat kabar pada waktu itu, merasa disaingi oleh
radio dalam hal kecepatan menyiarkan berita. Radio mampu menyiarkan berita
setiap jam sekali, sedangkan surat kabar setiap 24 jam hanya sekali, sehingga
berita surat kabar pun mencadi cepat basi
(tidak aktual / tidak up to date).
Situasi pada waktu itu, radio
dirasakan sebagai ancaman bagi surat kabar sehingga perusahaan-perusahaan surat
kabar memboikot dengan menghentikan pemberitan mengenai radio dan mengadakan
tekanan kepada kantor-kantor untuk menghentikan penjualan bahan berita kepada
stasiun radio siaram. Akan tetapi, pihak radio tidak tinggal diam, didirikanlah
Columbia New Service, sebuah kantor berita yang mengusahakan bahan berita khusus
untuk stasiun-stasiun radio. Pada akhirnya, perang antara surat kabar dan radio
mereda dengan sendirinya.
Setelah itu, muncullah
televise siaran yang juga menyiarkan berita. Karena televise bersifat audio
visual (dengar-lihat) yang menjadi kekuatan utamanya, maka media komunikasi
satu ini benar-benar menyedot perhatian masyarakat kala itu. Televisi mampu
menyajikan tayangan yang tidak hanya melibatkan aspek suara (audio), tapi juga
gambar (visual), sehingga lebih memberi pengaruh yang kuat pada masyarakat. Tak
heran, jika televisi lebih powerful karena kemampuannya dalam menyatukan antar
fungsi audio dan visual. Apalagi di era teknologi canggih seperti sekarang ini,
televisi memiliki kekuatan lainnya, yaitu mampu memainkan warna.[3]
Pada perkembangan jurnalistik
selanjurnya, televise memainkan peran terbesar dalam menyajikan informasi bagi
masyarakat dibandingkan dengan media cetak (surat kabar, majalah, tabloid, dan
sebagainya) dan radio. Ini disebabkan oleh sajian informasinya dinilai lebih
realistis karena ditampilkan sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kehadiran media
elektronik (radio dan televisi) memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap
jurnalistik media cetak. Untuk menyiasatinya, pekerja jurnalistik media cetak
berusaha mengubah teknik pengolahan beritanya. Hal ini bertujuan agar informasi
sampai yang sampai ke masyarakat masih tergoling aktual dan khalayak sasarannya
(pembaca) tetap tertarik untuk membeli surat kabar meskipun khalayak sudah
mengetahui lebih dahulu sebuah informasi melalui radio dan televisi.[4]
2. Sejarah Jurnalistik di Indonesia
Awal mula lahirnya
jurnalistik dimulai sekitar 3000 tahun lalu. Terdapat konsep dasar jurnalistik
yaitu, penyampaian berbagai pesan, berita dan informasi. Konsep dasar tersebut
berakar dari saat ketika itu Fir’aun, Amenhotep III, di Mesir mengirimkan
ratusan pesan kepada para perwiranya yang tersebar di berbagai daerah provinsi
untuk mengabarkan apa yang terjadi dipusat. Catatan sejarah yang berkaitan
dengan penerbitan media massa terpicu penemuan mesin cetak oleh Johanes
Gutenberg.
Media massa di Indonesia lahir pada massa
penjajahan Belanda yaitu dengan terbitnya surat kabar Bataviase Nouvelles
(1744). Koran ini te ntu saja dijalankan oleh manajemen dan jurnalis Belanda.
Kemudian lahirlah pers “Pribumi”, media cetak yang berkomunikasi dengan bhasa
melayu atau bahasa daerah dan dipimpin oleh seorang pribumi. Masuk dalam
kategori ini adalah warta berita (1901) yang selain berbahasa melayu juga
dicetak dalam bahasa latin. Surat kabar lain yang lahir pada abad ke-19
meskipun telah dicetak dengan huruf latin dan berbahasa melayu, tetapi umumnya
masih dipimpin oleh orang-orang Belanda. Koran yang dipimpin oleh kaum pribumi
ini merupakan cikal bakal “pers perjuangan”
yaitu media cetak berbahasa melayu yang menyiratkan cita-cita
kemerdekaan dari penjajahan asing dalam kebijakan redaksionalnya.
Istilah pers
perjuangan kembali populer setelah 17 Agustus 1945, yaitu hari kemerdekaan
Indonesia, tetapi kemudian pihak belanda (mencoba) menjajah kembali bangsa
Indonesia. Pada era 1945-1946, koran-koran yang membawakan suara bangsa
indonesia masih mendapat survive ditengah tekanan pihak Belanda. Wartawan
Indonesia H. Rosiwan Anwar adalah contoh “sisa-sisa laskar panjang” yang
mengalami masa-masa sulit itu.
a. Zaman
Penjajahan di Indonesia
Di Indonesia, aktivitas jurnalistik
dapat dilacak jauh ke belakang sejak zaman penjajahan Belanda. Di Indonesia
jurnalistik pers mulai dikenal pada abad 18, tepatnya pada 1744, ketika sebuah
surat kabar bernama Bataviasche Nouvelles diterbitkan dengan penguasaan
orang-orang Belanda. Pada 1776, juga di Jakarta, terbit surat kabar Vendu Niews
yang mengutamakan diri pada berita pelelangan. Menginnjak abad 19, terbit
berbagai surat kabar lainnya yang kesemuanya masih dikelola oleh orang-orang
Belanda untuk para pembaca orang Belanda atau bangsa pribumi yang mengerti
bahasa Belanda, yang pada umumnya merupakan kelompok kecil saja. Jurnalistik
Koran-koran Belanda ini, jelas membawakan suara pemerintahan colonial Belanda.
Sedangkan surat kabar pertama sebagai bacaan untuk kaum pribumi dimulai pada
Bromartani pada 1885, keduanya di Weltevreden, dan pada a856 terbit Soerat
Kabar Bahasa Melajoe di Surabaya.
Sejarah Jurnalistik pers pada abad
20, menurut guru besar ilmu komunikasi Universitas Padjajaran Bandung itu,
ditandai dengan munculnya surat kabar pertama milik bangsa Indonesia. Namanya
Medan Prijaji terbit di Bandung. Surat kabar ini diterbitkan dengan modal dari
bangsa Indonesia untuk bangsa Indonesia. Medan Prijaji yang dimiliki dan dikella
oleh Tirto Hadisurjo alias Raden Mas Djokomono ini pada mulanya 1907, berbentuk
mingguan. Baru tiga tahun kemudian 1910, berubah menjadi harian. Tirto
Hadisurjo inilah yang dianggap sebagai pelopor yang meletakkan dasar-dasar
jurnalistik modern di Indonesia, baik dalam cara pemberitaan maupun dalam cara
pemuatan karangan dan iklan. [5]
b. Jurnalistik
dalam Orde Reformasi
Kelahiran Orde Reformasi sejak pukul 12.00 siang Kamis
21 Mei 1998 setelah Soeharto menyerahkan jabatan presiden kepada wakilnya Bj.habibie,
disambut dengan penuh sukacita oleh seluruh rakyat indonesia. Rasanya,
jangankan orang, binatang pun di hutan-hutan ikut berjingkrak dan bernyanyi
menyambut reformasi. Terjadilah euphoria di mana-man. Kebebasan jurnalistik
berubah secara drastic menjadi kemerdekaan jurnalistik. Departemen penerangan
sebagai malaikat pencabut nyawa pers, dengan serta-merta dibubarkan.[6]
Secara yuridis, UU Pokok Pers No.21
/ 1982 pun diganti dengan UU Pokok Pers No.40 /1999. Dengan undang-undang dan
pemerintahan baru, siapa pun bisa menerbitkan dan mengelola pers. Siapapun bisa
menjadi wartawan dan masuk dalam organisasi pers manapun. Tak ada lagi
kewajiban hanya menginduk kepada satu organisasi pers. Seperti ditegaskan pasal
9 Ayat (1) UU Pokok Pers No. 40 / 1999, setiap warga negara Indonesia dan
negara berhak mendirikan perusahaan pers. Pada pasal yang sama ayat berikutnya
(2) ditegaskan lagi, setiap perusahaan pers harus berbentuk badan hukum
Indonesia.
Kewenangan yang dimiliki pers
nasional itu sndiri sangat besar,. Menurut Pasal 6 UU Pokok Pers No. 40 / 1999,
pers nasional melaksanakan peranan: (a) memenuhi hak masyarakat untuk
mengetahui, (b) menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya
supremasi hukum dan hak asasi manusia serta menghormati kebhinekaan, (c)
mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan
benar, (d) melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal
yang berkaitan dengan kepentingan umum, dan (e) memperjuangkan keadilan dn
kebenaran.[7]
Dalam era reformasi, kemerdekaan
pers benar-benar dijamin dan senantiasa diperjuangkan untuk diwujudkan. Semua
komponen bangsa memiliki komitmen yang sama: pers harus hidup dan merdeka.
Hidup, menurut kaidah manajamen dan perusahaan sebagai lembaga ekonomi. Merdeka
menurut kaidah demokrasi, hak asasi manusia, dan tentu saja supremasi hukum.
Jadi bukan sebatas hiasan peraturan seperti pada zaman Orde Baru. Ini sejalan
dengan amanat Pasal 2 UU Pokok Pers 40 / 1999 yang menyatakan, kemerdekaan pers
adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip
demokrasi, keadilan, dan supremasi hukum.
Secara kuantitatif, dalam lima tahun
pertama era reformasi, 1998-2003, jumlah perusahaan penerbitan pers di
Indonesia mengalami pertumbuhan sangat pesat. Dalam kurun ini setidaknya
tercatat 600 perusahaan penerbitan pers baru 50 diantaranya terdapat di Jaw
Barat. Jumlah ini sama dengan jumlah perusahaan penerbitan pers lama dalam era
Orde Baru. Harus diakui, hasrat dan minat masyarakat menerbitkan pers dalam
lima tahun pertama masa reformasi bagai jamur di musim hujan. Bahkan pada tahun
pertama-kedua masa reformasi bisa disebut disetiap kota di pulau Jawa
setidaknya terdapat 10 perusahaan penerbitan pers baru dengan komposisi 70
persen terbit mingguan dan 30 persen terbit harian.
Kecenderungan maraknya penerbitan
pers sebagai dampak langsung reformasi itu, ternyata tidak berlangsung lama.
Dari seluruh perusahaan penerbitan pers baru, 70 persen gulung tikar paling
lama pada tahun ketiga, 20 persen berikutnya tutup layar pada tahun keempat,
dan hanya sepuluh persen saja yang masih mencoba terus bertahan melewati tahun
kelima. Sebagai contoh, di Bandung, ibu kota Jawa Barat, Indonesia. Kini
terdapat dua surat kabar harian local ( Local News Paper) yang lahir dalam era
reformasi. Keduanya berjuang sangat keras untuk bisa tetap eksis secara bisnis,
sosiologis, dan politis.
Kenyataan tersebut menunjukkan
kemerdekaan yang diraih pers secara ideologis dan politis dalam era reformasi
sejak 1998 di Indonesia, tidak serta-merta mengantarkan pers nasional pada zama
keemasan. Secara historis, pers yang dulu dikenal dan menamakan diri sebagai
pers perjuangan, dilahirkan untuk hidup, sekali layar terkembang, pantang surut
ke belakang.[8]
Atas dasar itulah, pers nasional yang
sekarang tetap terbit dan terus bertahan di seluruh pelosok di Indonesia
berusaha untuk senantiasa merujuk pada pedoman filosofis itu. Sekali lahir,
pantang bagi mereka untuk mati. Tidak demikian halnya bagi sebagian pers yang
lahir dalam era reformasi mereka begitu mudah untuk lahir, tapi jauh lebih
mudah lagi untuk mati. Seolah-olah, sebagian besar dari mereka ditakdirkan
lahir untuk mati. Bila dianalisis, mereka ternyata belum memiliki tiang
penyanggah utama yang kokoh sebagai syarat mutlak pendirian bangunan pers:
idealisme, komersialisme, profesionalisme.[9]
B. Perkembangan
Jurnalistik
Jurnalisme dimasukkan ke dalam rumpun ilmu sosial. Ia bukan ilmu pasti.
Sebagaimana konsekuensi logis dari ilmu sosial, sejatinya jurnalisme mengikuti
tren perubahan sosial atau peradaban umat manusia.
Jurnalisme mengikuti hukum dinamisme ilmu sosial. Sebagai praktik dan ilmu
umat manusia, jurnalisme bukan barang baru dalam kehidupan kita. Ada sejarah
yang sangat panjang telah dilaluinya.
Tercatat, jurnalisme berawal dari kekaisaran Romawi Kuno membuat dan
mengirimkan informasi yang berkaitan dengan kebijakan negara dan berita lokal
ke sejumlah acta diurna atau papan pengumuman kekaisaran. Sang kaisar
kala itu, Julius Caesar (100-44 SM), ingin pesan-pesan kekaisaran berupa
keputusan, aturan hukum, dan lainnya tersosialisasi dengan baik sehingga publik
mengetahui informasi terkini dari istana.
Pada masa yang sama, muncullah para diurnarii
(pekerja yang menulis untuk acta diurna). Mereka inilah yang kemudian
diyakini sebagai jurnalis pertama didunia. Belakangan, laporan dari para diurnarii
semakin beragam, tidak lagi semata-mata keputusan kekaisaran, namun juga menyajikan tulisan tentang
kegiatan senat dan segala macam hal yang menarik disekitar kekaisaran. Adapun
istilah jurnalis sendiri diadopsi dari bahasa inggris yaitu journalist
(wartawan).
Sejak saat itu jurnalisme semakin berkembang. Pada
masa kekaisaran cina, tepatnya abad ke-8 atau tahun 911 M, muncul surat kabar
pertama yang diberi nama King Pau (Kabar dari Istana). Kaisar Quan Soo
tampaknya meniru jejak kekaisaran Romawi kuno dengan mengedarkan surat kabar
itu secara reguler seminggu sekali.[10]
Puncak kehadiran surat kabar dan media cetak
lainnya terjadi saat Johannes Guttenberg menemukan mesin cetak tahun 1450. Lima
tahun sejak mesin cetak ditemukan, Jerman, sebagai salah satu negara maju
sampai saat ini, mencetak koran pertama dalam format koran modern seperti yang
kita lihat selama ini. Ini kemudian berkembang di Italia ketika Gazetta merilis
surat kabar harian tahun 1536, disusul tahun 1665 di Inggris muncul koran Oxford
Gazette. Memasuki abad ke 17 dan 18, surat kabar dan majalah semakin
menyebar ke seluruh dataran Eropa, Amerika, dan benua-benua lainnya.
Puncak kebebasan pers di era itu ditandai
ketika Amerika Serikat dan Swedia mengesahkan regulasi kebebasan pers. Di
Inggris, pada abad ke 17 telah dibentuk organisasi profesi penulis dan
jurnalis. Dari sinilah kemudian jurnalis berserikat untuk menegakkan
independensi dan melahirkan produk jurnalistik yang kredibel. Organisasi
profesi jurnalis pertama di dunia tercatat berdiri di Inggris pada tahun 1883.
Organisasi kemudian berkembang dengan
mendirikan kantor berita sekitar pertengahan tahun 1800 an. Kantor berita
berfungsi mengumpulkan berbagai berita dan tulisan untuk didistribusikan ke
berbagai penerbit surat kabar, majalah, dan tabloid kala itu. Menejemen
kemediaan semakin dibenahi untuk menghasilkan teks-teks yang baik serta proses
cetak dan sirkulasinya.
Keberadaan kantor berita sangat membantu
perkembangan media-media yang ada. Para pemilik media di sejumlah negara bisa
berhemat dengan mengurangi sejumlah jurnalis yang bekerja di perusahaannya.
Mereka cukup berlangganan dengan kantor berita yang menyuplai berbagai
informasi mengenai peristiwa dari berbagai penjuru dunia setiap harinya. Kantor
berita yang berdiri waktu itu dan masih ada sampai hari ini adalah Reuters (Inggris),
Agence France Presse (Prancis), dan Assosiated Press (Amerika Serikat).
Disamping itu, pendidikan jurnalistik secara
sistematis juga mulai diselenggarakan hingga diajarkan di perguruan-perguruan
tinggi di beberapa negara dan sangat diminati masyarakat.
Gaung perkembangan media pun sampai ke
Indonesia. Adalah Tirtohadisoerjo- akrab disapa Raden Djokomono- mendirikan mingguan
Medan Priyqyi tahun 1910. Tokoh pers nasional generasi pertama inilah
yang mendirikan perusahan penerbitan yang dimiliki dan dikelola sepenuhnya oleh
orang Indonesia.
Setelah Medan Priyayi dikenal publik,
lahirlah Soeara Asia di Surabaya, Tjahaja di Bandung, dan Sinar
Baroe di Semarang. Perkembangan media cetak diikuti oleh perkembangan radio
dengan berdirinya Solosche Radio Vereniging (SRV) pada 1 April 1993, di Solo.
Pendiri ini adalah Mangunkusomo dan Mangkunegoro VII. Kemudian berdirilah radio
swasta seperti Radio Mauro (Yogyakarta), VORL (Bandung) dan CIRCO
(Surabaya).
Menjelang dan sesaat setelah proklamasi
kemerdekaan, media massa, baik cetak dan radio, semakin bertambah banyak di
Indonesia. Setidakny saat itu lahir media baru seperti Soeara Merdeka,
Berita Indonesia, dan The Voice of Free Indonesia. Bakhan pada 24
desember 1948, Radio Rimba Raya Aceh Tengah mengudara menyampaikan informasi
telah dideklarasikannya Kemerdekaan Indonesia. Radio Rimba raya inilah yang
menjadi cikal bakal lahirnya Radio Republik Indonesia (RRI).
Secara gamblang orang menyamakan jurnalistik
dengan pers, dan terkadang lebih mudah dengan menyamakan jurnalistik sebagai
surat kabar atau majalah. Hal ini disebabkan karena media massa yang paling tua
dan yang paling pertama ditemui manusia adalah “media tercetak”. Karena itu
lazim sekali orang mencampuradukkan pengertian jurnalistik dengan pers.
Dari segi asal kata, jurnalistik dapat
ditelusur jauh, sampai kepada asal mula surat kabar yang disebut “acta
diurna”, yang terbit di zaman Romawi: dimana berita-berita dan pengumuman ditempalkan atau dipasang
dipusat kota yang kala itu disebut Forum Romanum. Namun asal kata
juraistik adalah “Journal” atau “Du jour” yang berarti hari,
dimana segala berita atau warta sehari itu termuat dalam lembaran yang
tercetak.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Media massa di Indonesia lahir pada
massa penjajahan Belanda yaitu dengan terbitnya surat kabar Bataviase Nouvelles
(1744). Koran ini tentu saja dijalankan oleh manajemen dan jurnalis Belanda.
Kemudian lahirlah pers “Pribumi”, media cetak yang berkomunikasi dengan bahasa
melayu atau bahasa daerah dan dipimpin oleh seorang pribumi. Masuk dalam
kategori ini adalah warta berita (1901) yang selain berbahasa melayu juga
dicetak dalam bahasa latin.
Pada Zaman Romawi kuno muatan informasu
disebut sebagai acta diurna yakni berupa berita harian yang ditempel di
papan pengumuman. Berisi tentang pesan-pesan kekaisaran yang berupa keputusan, aturan hukum, dan lainnya dengan
tujuan agar informasi tersosialisasi dengan baik sehingga publik mengetahui info
terkini dari istana. Para penulis acta diurna disebut sebagi diurnarii. Namun
beriring waktu berlalu, banyak para diurnarii menulis informasi yang beragam
tak hanya tentang informasi tentang istana saja. Adapun istilah jurnalis
sendiri diadopsi dari bahasa inggris yaitu journalist (wartawan).
DAFTAR PUSTAKA
Suryawati, Indah. 2002. JURNALISTIK. Bogor: Ghalia Indonesia
Sumadiria, As Haris. 2005. Jurnalistik Indonesia. Bandung : Simbiosa
Rekatama Media
Sambo, Masriadi & Jafaruddin Yusuf. 2017.,
Pengantar Jurnalisme Multiplatform. Depok: Prenadamedia Group.
H.
Assegaff, Dja’far, jurnalistik masa kini, Ghalia Indonesia.
[10] Masriadi Sambo
& Jafaruddin Yusuf.2017.,Pengantar Jurnalisme Multiplatform. Depok :
Prenadamedia Group. Hlm.15

Belum ada tanggapan untuk "Sejarah Perkembangan Jurnalistik"
Posting Komentar