Motivasi Menulis

Sejarah Perkembangan Jurnalistik


MAKALAH
 “SEJARAH PERKEMBANGAN JURNALISTIK
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas terstruktur Mata Kuliah “JURNALISTIK dan PUBLISTIK
Dosen Pengampu: Muthoharoh, M. Pd. I 


Di susun oleh Kelompok 2 :
Siti Sulfa Sulaeman               1608101004
Susep Suryaman                   1608101005
Tri Firnawati                         1608101006


FITK/PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI CIREBON
 TAHUN AKADEMIK 2019



KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr.wb.
Segala puji bagi Allah swt yang telah melimpahkan Rahmat dan HidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah tentang Sejarah Jurnaistik. Makalah ini dibuat ntuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Jurnaistik dan Pubistik.
Dalam menyusun makalah ini penulis menyadari banyak kekurangan yang tampak, sehingga penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang dapat membangun demi penyempurnaan makalah ini. Dan semoga dengan tersusunnya makalah ini, dapat dipelajari serta dipahami isi pembahasannya serta makalah ini pun bisa bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Amiinn.
Wassalamu’alaikum wr.wb.

                                                                                                     Cirebon, 05 November 2019
                                                                                                     Penulis














DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................ 1
A.  Latar Belakang............................................................................................................. 1
B.  Rumusan Masalah......................................................................................................... 1
C.  Tujuan........................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN................................................................................................. 3
A.  Sejarah Jurnalistik......................................................................................................... 3
1.      Sejarah Jurnalistik di Dunia................................................................................... 3
2.      Sejarah Jurnalistik di Indonesia............................................................................. 6
a.       Zaman Penjajahan Indonesia........................................................................... 6
b.      Jurnalistik Dalam Orde Reformasi................................................................... 7
B.  Sejarah Perkembangan Jurnalistik................................................................................ 10
BAB III PENUTUP.......................................................................................................... 13
A.  Kesimpulan................................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................... 14
Lampiran........................................................................................................................... 15



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Jurnal merupakan sebuah karya yang dibuat untuk menjadi bacaan sekaligus informasi bagi halayak banyak. Para penggiat jurnal disebut sebagai jurnalis dan pekerjaan nya adalah jurnalistik. Di era globalisasi ini sudah banyak media yang digunakan oleh para jurnalis untuk menyampaikan informasi harian, sehingga sangatlah mudah seseorang untuk bisa di dapatkan informasi terbaru setiap hari nya.
            Jurnalistik mempunyai peran penting dari masa ke masa, karena setiap informasi yang di sebarkan dapat menjadi pengaruh besar untuk segala hal yang di catat nya, jika berkaitan dengan politik maka hasilnya akan mempengaruhi perkembangan politik itu sendiri, akankah lebih baik atau bahkan lebih buruk lagi. Semua tergantung seperti apa informasi yang tercantum dalam catatan atau audio visual seorang jurnalistik.
Namun masih banyak orang yang tidak tahu akan sejarah perkembangan jurnalistik, yang seharusnya pengetahuan tentang sejarah inilah yang menjadi bacaan utama sebelum membaca informasi yang di hasilkan oleh para jurnalis. Dalam dunia ini perkembangan dunia jurnalistik sangatlah pesat dan sangatlah tidak terbendung. Dibelahan Negara manapun terdapat jurnalistik, yang memenuhi kebutuhan masyarakat akan kebutuhan informasi, yang dapat diakses secara cepat dan tanpa mengeluarkan biaya yang banyak. Jurnalistik tidak muncul begitu saja tanpa ada sebab dan histori. Tentunya lahirnya sesuatau dilatar belakangi oleh suatu histori. Dalam artikel ini saya akan Memaparkan Makalah yang berjudul “Sejarah Perkembangan Jurnalistik” didalam makalah ini akan dijelaskan beberapa perkembangan dari zaman Romawi (acta diurna) sampai zaman sekarang (media online) dan disertai dengan teori yang mendasari akan perkembangan perkembangan tersebut.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Sejarah Jurnalistik di dunia?
2.      Bagaimana Sejarah Jurnalistik di Indonesia?
3.      Bagaimana Perkembangan Jurnalistik?
C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui sejarah jurnalistik di dunia
2.      Untuk mengetahui sejarah jurnalistik di indonesia
3.      Untuk mengetahui perkembangan jurnalistik


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah Jurnalistik
1.      Sejarah Jurnalistik di Dunia
      Secara gamblang, orang seringkali menyamakan jurnalistik dengan pers, bahkan ada yang menyamakan jurnalistik sebagai surat kabar. Ini disebabkan oleh media massa yang pertama kali diciptakan manusia adalah surat kabar. Tak heran, jika orang mencampuradukkan antara jurnalistik dan media cetak.
      Umumnya, literature jurnalistik menyebutkan bahwa produk jurnalistik pertama adalah Acta Diurn yang artinya “Catatan Harian”, terbit di zaman omawi ketika Julius Cesar berkuasa (60 SM). Acta Diurna merupakan kegiatan jurnalistik yang berkisar pada hal-hal yang sifatnya informative saja, terutama untuk kepentingan kerajaan Romawi. Dengan kata lain, Acta Diurna merupakan “:corong” bagi raja Romawi dalam menyampaikan informasi-informasi kerajaan berupa berita-berita dan pengumuman-pengumuman.
      Pemerintahan Julius  Caesar mengumumkan hasil persidangan senat, berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta apa yang perlu disampaikan dan diketahui oleh rakyatnya, dengan jalan menuliskannya pada papan pengumumn (Acta Diurna). Papan pengumuman ini ditempelkan atau dipasang di pusat kota yang kala itu disebut Forum Romanum (Stadion Romawi) agar mudah diketahui oleh umum. Setiap warga diperbolehkan membaca isi Acta Diurna, bahkan boleh juga mengutipnya untuk disebarluaskan dan dikabarkan lagi ke tempat lain.
      Namun, ada yang menyebutkan bahwa cikal bakal jurnalistik bukanlah Acta Diurna, melainkan sejarah Nabi Nuh. Dikisahkan bahwa sebeum Allah SWT menurunkan banjir yang sangat dahsyat kepada kaum kafir, malaikat diutus Allah untuk menemui Nabi Nuh dan memberitahukan bagaimana cara membuat kapal yang kokoh. Kapal itu nantinya dipergunakan Nabi Nuh untuk menyelamatkan diri bersma sank keluarganya, seluruh pengikutnya yang shaleh, dan segala macam hewan.
      Usai Nabi Nuh membuat kapal tersebut, tidak lama kemudian hujan lebat pun turun berhari-hari tiada henti, disertai dengan angina dan  badai yang begitu dahsyat. Bencana alam tersebut menghancurkan segala apa yang ada didaratan, kecuali kapal Nabi Nuh. Daratan dengan cepat berubah menjadi lautan yng sangat besar dan luas serta bergelombang. Saat itu, Nabi Nuh bersama orang-orang yang beriman dan segala macam jenis hewan telah berada di atas kapal dan berlayar dengan selmat di atas gelombang air yang sangat dahsyat.[1]
      Waktu terus bergulir, meski berminggu-minggu dilalui di atas kapal, banjir tak juga surut. Nabi Nuh dan seluruh awak kapal lainnya pun mulai khawatir dan gelisah karena persediaan makanan mulai menipis. Mereka berharap ada kepastian, sehingga dapat melakukan penghematan yang lebih cermat.
      Untuk meredam kegelisahan para pengikutnya, Nabi Nuh pun mengutus seekor burung ke luar kapal untuk meneliti keadaan air dan kemungkinan adanya makanan. Setelah beberapa lama terbang mengamati keadaan, burung itu hanya melihat daun dan ranting pohon zaitun (olif) yang tampak muncul dipermukaan air. Ranting itu pun dipatuk oleh burung tersebut dan dibawanya kepada nabi Nuh. Berdasarkan temuan tersebut, Nabi Nuh menyimpulakan bahwa banjiir sebenarnya sudah mulai surut, hanya saja permukaan daratan masih tertutup air. Informasi itu pun disampaikan Nabi Nuh kepada para pengikutnya.
      Berdasarkan kisah tersebut, para ahli sejarah menamakan Nabi Nuh sebagai seorang pencari berita sekalgus penyiar kabar (jurnalis) yang pertama kali di dunia. Sebab, sejalan dengan teknik-teknik dan cara mencari, serta menyiarkan sebuah berita. Dengan demikian, para ahli sejarah menunjukkan bahwa sesungguhnya kantor berita yang pertama di dunia adalah Kapal Nabi Nuh.
      Sehubungan dengan cerita tersebut, maka “catatan harian” sebagai kegiatan jurnalistik, pada dasarnya dilakukan melalui berbagai tahapan seperti proses mencari, mengumpulkan, mengolah, dan kemudian menyiarkannya. Jurnalistik pun dapat diartikan sebagao hal ihwal tentang pemberitaan dan kewartawanan. Karena itu, orang yag bekerja untuk jurnalistik disebut dengan jurnalis / wartawan / reporter.
      Seiring dengan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat, sehingga menghasilkan radio, televisi, dam film, jurnalistik pun menjadi semakin luas cakupannuya. Jurnalistik tidak lagi mengelola laporan harian untuk sarana media cetak (terutama surat kabar), tetapi juga sarana media elektronik (terutama radio dan televise). Bahkan, kini telah merambah hingga ke media online (misalnya surat kabar online).[2]
      Pada decade 1920-1930, di Amerika Serikat, sempat terjadi apa yang dinamakan The Press Radio War (Perang antara Surat Kabar dan Radio). Surat kabar pada waktu itu, merasa disaingi oleh radio dalam hal kecepatan menyiarkan berita. Radio mampu menyiarkan berita setiap jam sekali, sedangkan surat kabar setiap 24 jam hanya sekali, sehingga berita surat kabar pun mencadi cepat basi  (tidak aktual / tidak up to date).
      Situasi pada waktu itu, radio dirasakan sebagai ancaman bagi surat kabar sehingga perusahaan-perusahaan surat kabar memboikot dengan menghentikan pemberitan mengenai radio dan mengadakan tekanan kepada kantor-kantor untuk menghentikan penjualan bahan berita kepada stasiun radio siaram. Akan tetapi, pihak radio tidak tinggal diam, didirikanlah Columbia New Service, sebuah kantor berita yang mengusahakan bahan berita khusus untuk stasiun-stasiun radio. Pada akhirnya, perang antara surat kabar dan radio mereda dengan sendirinya.
      Setelah itu, muncullah televise siaran yang juga menyiarkan berita. Karena televise bersifat audio visual (dengar-lihat) yang menjadi kekuatan utamanya, maka media komunikasi satu ini benar-benar menyedot perhatian masyarakat kala itu. Televisi mampu menyajikan tayangan yang tidak hanya melibatkan aspek suara (audio), tapi juga gambar (visual), sehingga lebih memberi pengaruh yang kuat pada masyarakat. Tak heran, jika televisi lebih powerful karena kemampuannya dalam menyatukan antar fungsi audio dan visual. Apalagi di era teknologi canggih seperti sekarang ini, televisi memiliki kekuatan lainnya, yaitu mampu memainkan warna.[3]
      Pada perkembangan jurnalistik selanjurnya, televise memainkan peran terbesar dalam menyajikan informasi bagi masyarakat dibandingkan dengan media cetak (surat kabar, majalah, tabloid, dan sebagainya) dan radio. Ini disebabkan oleh sajian informasinya dinilai lebih realistis karena ditampilkan sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kehadiran media elektronik (radio dan televisi) memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap jurnalistik media cetak. Untuk menyiasatinya, pekerja jurnalistik media cetak berusaha mengubah teknik pengolahan beritanya. Hal ini bertujuan agar informasi sampai yang sampai ke masyarakat masih tergoling aktual dan khalayak sasarannya (pembaca) tetap tertarik untuk membeli surat kabar meskipun khalayak sudah mengetahui lebih dahulu sebuah informasi melalui radio dan televisi.[4]
2.      Sejarah Jurnalistik di Indonesia
      Awal mula lahirnya jurnalistik dimulai sekitar 3000 tahun lalu. Terdapat konsep dasar jurnalistik yaitu, penyampaian berbagai pesan, berita dan informasi. Konsep dasar tersebut berakar dari saat ketika itu Fir’aun, Amenhotep III, di Mesir mengirimkan ratusan pesan kepada para perwiranya yang tersebar di berbagai daerah provinsi untuk mengabarkan apa yang terjadi dipusat. Catatan sejarah yang berkaitan dengan penerbitan media massa terpicu penemuan mesin cetak oleh Johanes Gutenberg.
       Media massa di Indonesia lahir pada massa penjajahan Belanda yaitu dengan terbitnya surat kabar Bataviase Nouvelles (1744). Koran ini te ntu saja dijalankan oleh manajemen dan jurnalis Belanda. Kemudian lahirlah pers “Pribumi”, media cetak yang berkomunikasi dengan bhasa melayu atau bahasa daerah dan dipimpin oleh seorang pribumi. Masuk dalam kategori ini adalah warta berita (1901) yang selain berbahasa melayu juga dicetak dalam bahasa latin. Surat kabar lain yang lahir pada abad ke-19 meskipun telah dicetak dengan huruf latin dan berbahasa melayu, tetapi umumnya masih dipimpin oleh orang-orang Belanda. Koran yang dipimpin oleh kaum pribumi ini merupakan cikal bakal “pers perjuangan”  yaitu media cetak berbahasa melayu yang menyiratkan cita-cita kemerdekaan dari penjajahan asing dalam kebijakan redaksionalnya.
      Istilah pers perjuangan kembali populer setelah 17 Agustus 1945, yaitu hari kemerdekaan Indonesia, tetapi kemudian pihak belanda (mencoba) menjajah kembali bangsa Indonesia. Pada era 1945-1946, koran-koran yang membawakan suara bangsa indonesia masih mendapat survive ditengah tekanan pihak Belanda. Wartawan Indonesia H. Rosiwan Anwar adalah contoh “sisa-sisa laskar panjang” yang mengalami masa-masa sulit itu.
a.      Zaman Penjajahan di Indonesia
            Di Indonesia, aktivitas jurnalistik dapat dilacak jauh ke belakang sejak zaman penjajahan Belanda. Di Indonesia jurnalistik pers mulai dikenal pada abad 18, tepatnya pada 1744, ketika sebuah surat kabar bernama Bataviasche Nouvelles diterbitkan dengan penguasaan orang-orang Belanda. Pada 1776, juga di Jakarta, terbit surat kabar Vendu Niews yang mengutamakan diri pada berita pelelangan. Menginnjak abad 19, terbit berbagai surat kabar lainnya yang kesemuanya masih dikelola oleh orang-orang Belanda untuk para pembaca orang Belanda atau bangsa pribumi yang mengerti bahasa Belanda, yang pada umumnya merupakan kelompok kecil saja. Jurnalistik Koran-koran Belanda ini, jelas membawakan suara pemerintahan colonial Belanda. Sedangkan surat kabar pertama sebagai bacaan untuk kaum pribumi dimulai pada Bromartani pada 1885, keduanya di Weltevreden, dan pada a856 terbit Soerat Kabar Bahasa Melajoe di Surabaya.
            Sejarah Jurnalistik pers pada abad 20, menurut guru besar ilmu komunikasi Universitas Padjajaran Bandung itu, ditandai dengan munculnya surat kabar pertama milik bangsa Indonesia. Namanya Medan Prijaji terbit di Bandung. Surat kabar ini diterbitkan dengan modal dari bangsa Indonesia untuk bangsa Indonesia. Medan Prijaji yang dimiliki dan dikella oleh Tirto Hadisurjo alias Raden Mas Djokomono ini pada mulanya 1907, berbentuk mingguan. Baru tiga tahun kemudian 1910, berubah menjadi harian. Tirto Hadisurjo inilah yang dianggap sebagai pelopor yang meletakkan dasar-dasar jurnalistik modern di Indonesia, baik dalam cara pemberitaan maupun dalam cara pemuatan karangan dan iklan. [5]
b.      Jurnalistik dalam Orde Reformasi
            Kelahiran Orde Reformasi sejak pukul 12.00 siang Kamis 21 Mei 1998 setelah Soeharto menyerahkan jabatan presiden kepada wakilnya Bj.habibie, disambut dengan penuh sukacita oleh seluruh rakyat indonesia. Rasanya, jangankan orang, binatang pun di hutan-hutan ikut berjingkrak dan bernyanyi menyambut reformasi. Terjadilah euphoria di mana-man. Kebebasan jurnalistik berubah secara drastic menjadi kemerdekaan jurnalistik. Departemen penerangan sebagai malaikat pencabut nyawa pers, dengan serta-merta dibubarkan.[6]
            Secara yuridis, UU Pokok Pers No.21 / 1982 pun diganti dengan UU Pokok Pers No.40 /1999. Dengan undang-undang dan pemerintahan baru, siapa pun bisa menerbitkan dan mengelola pers. Siapapun bisa menjadi wartawan dan masuk dalam organisasi pers manapun. Tak ada lagi kewajiban hanya menginduk kepada satu organisasi pers. Seperti ditegaskan pasal 9 Ayat (1) UU Pokok Pers No. 40 / 1999, setiap warga negara Indonesia dan negara berhak mendirikan perusahaan pers. Pada pasal yang sama ayat berikutnya (2) ditegaskan lagi, setiap perusahaan pers harus berbentuk badan hukum Indonesia.
            Kewenangan yang dimiliki pers nasional itu sndiri sangat besar,. Menurut Pasal 6 UU Pokok Pers No. 40 / 1999, pers nasional melaksanakan peranan: (a) memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui, (b) menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia serta menghormati kebhinekaan, (c) mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benar, (d) melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum, dan (e) memperjuangkan keadilan dn kebenaran.[7]
            Dalam era reformasi, kemerdekaan pers benar-benar dijamin dan senantiasa diperjuangkan untuk diwujudkan. Semua komponen bangsa memiliki komitmen yang sama: pers harus hidup dan merdeka. Hidup, menurut kaidah manajamen dan perusahaan sebagai lembaga ekonomi. Merdeka menurut kaidah demokrasi, hak asasi manusia, dan tentu saja supremasi hukum. Jadi bukan sebatas hiasan peraturan seperti pada zaman Orde Baru. Ini sejalan dengan amanat Pasal 2 UU Pokok Pers 40 / 1999 yang menyatakan, kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, dan supremasi hukum.
            Secara kuantitatif, dalam lima tahun pertama era reformasi, 1998-2003, jumlah perusahaan penerbitan pers di Indonesia mengalami pertumbuhan sangat pesat. Dalam kurun ini setidaknya tercatat 600 perusahaan penerbitan pers baru 50 diantaranya terdapat di Jaw Barat. Jumlah ini sama dengan jumlah perusahaan penerbitan pers lama dalam era Orde Baru. Harus diakui, hasrat dan minat masyarakat menerbitkan pers dalam lima tahun pertama masa reformasi bagai jamur di musim hujan. Bahkan pada tahun pertama-kedua masa reformasi bisa disebut disetiap kota di pulau Jawa setidaknya terdapat 10 perusahaan penerbitan pers baru dengan komposisi 70 persen terbit mingguan dan 30 persen terbit harian.
            Kecenderungan maraknya penerbitan pers sebagai dampak langsung reformasi itu, ternyata tidak berlangsung lama. Dari seluruh perusahaan penerbitan pers baru, 70 persen gulung tikar paling lama pada tahun ketiga, 20 persen berikutnya tutup layar pada tahun keempat, dan hanya sepuluh persen saja yang masih mencoba terus bertahan melewati tahun kelima. Sebagai contoh, di Bandung, ibu kota Jawa Barat, Indonesia. Kini terdapat dua surat kabar harian local ( Local News Paper) yang lahir dalam era reformasi. Keduanya berjuang sangat keras untuk bisa tetap eksis secara bisnis, sosiologis, dan politis.
            Kenyataan tersebut menunjukkan kemerdekaan yang diraih pers secara ideologis dan politis dalam era reformasi sejak 1998 di Indonesia, tidak serta-merta mengantarkan pers nasional pada zama keemasan. Secara historis, pers yang dulu dikenal dan menamakan diri sebagai pers perjuangan, dilahirkan untuk hidup, sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang.[8]
            Atas dasar itulah, pers nasional yang sekarang tetap terbit dan terus bertahan di seluruh pelosok di Indonesia berusaha untuk senantiasa merujuk pada pedoman filosofis itu. Sekali lahir, pantang bagi mereka untuk mati. Tidak demikian halnya bagi sebagian pers yang lahir dalam era reformasi mereka begitu mudah untuk lahir, tapi jauh lebih mudah lagi untuk mati. Seolah-olah, sebagian besar dari mereka ditakdirkan lahir untuk mati. Bila dianalisis, mereka ternyata belum memiliki tiang penyanggah utama yang kokoh sebagai syarat mutlak pendirian bangunan pers: idealisme, komersialisme, profesionalisme.[9]

B.     Perkembangan Jurnalistik
Jurnalisme dimasukkan ke dalam rumpun ilmu sosial. Ia bukan ilmu pasti. Sebagaimana konsekuensi logis dari ilmu sosial, sejatinya jurnalisme mengikuti tren perubahan sosial atau peradaban umat manusia.
Jurnalisme mengikuti hukum dinamisme ilmu sosial. Sebagai praktik dan ilmu umat manusia, jurnalisme bukan barang baru dalam kehidupan kita. Ada sejarah yang sangat panjang telah dilaluinya.
Tercatat, jurnalisme berawal dari kekaisaran Romawi Kuno membuat dan mengirimkan informasi yang berkaitan dengan kebijakan negara dan berita lokal ke sejumlah acta diurna atau papan pengumuman kekaisaran. Sang kaisar kala itu, Julius Caesar (100-44 SM), ingin pesan-pesan kekaisaran berupa keputusan, aturan hukum, dan lainnya tersosialisasi dengan baik sehingga publik mengetahui informasi terkini dari istana.
Pada masa yang sama, muncullah para diurnarii (pekerja yang menulis untuk acta diurna). Mereka inilah yang kemudian diyakini sebagai jurnalis pertama didunia. Belakangan, laporan dari para diurnarii semakin beragam, tidak lagi semata-mata keputusan kekaisaran,  namun juga menyajikan tulisan tentang kegiatan senat dan segala macam hal yang menarik disekitar kekaisaran. Adapun istilah jurnalis sendiri diadopsi dari bahasa inggris yaitu journalist (wartawan).
Sejak saat itu jurnalisme semakin berkembang. Pada masa kekaisaran cina, tepatnya abad ke-8 atau tahun 911 M, muncul surat kabar pertama yang diberi nama King Pau (Kabar dari Istana). Kaisar Quan Soo tampaknya meniru jejak kekaisaran Romawi kuno dengan mengedarkan surat kabar itu secara reguler seminggu sekali.[10]
Puncak kehadiran surat kabar dan media cetak lainnya terjadi saat Johannes Guttenberg menemukan mesin cetak tahun 1450. Lima tahun sejak mesin cetak ditemukan, Jerman, sebagai salah satu negara maju sampai saat ini, mencetak koran pertama dalam format koran modern seperti yang kita lihat selama ini. Ini kemudian berkembang di Italia ketika Gazetta merilis surat kabar harian tahun 1536, disusul tahun 1665 di Inggris muncul koran Oxford Gazette. Memasuki abad ke 17 dan 18, surat kabar dan majalah semakin menyebar ke seluruh dataran Eropa, Amerika, dan benua-benua lainnya.
Puncak kebebasan pers di era itu ditandai ketika Amerika Serikat dan Swedia mengesahkan regulasi kebebasan pers. Di Inggris, pada abad ke 17 telah dibentuk organisasi profesi penulis dan jurnalis. Dari sinilah kemudian jurnalis berserikat untuk menegakkan independensi dan melahirkan produk jurnalistik yang kredibel. Organisasi profesi jurnalis pertama di dunia tercatat berdiri di Inggris pada tahun 1883.
Organisasi kemudian berkembang dengan mendirikan kantor berita sekitar pertengahan tahun 1800 an. Kantor berita berfungsi mengumpulkan berbagai berita dan tulisan untuk didistribusikan ke berbagai penerbit surat kabar, majalah, dan tabloid kala itu. Menejemen kemediaan semakin dibenahi untuk menghasilkan teks-teks yang baik serta proses cetak dan sirkulasinya.
Keberadaan kantor berita sangat membantu perkembangan media-media yang ada. Para pemilik media di sejumlah negara bisa berhemat dengan mengurangi sejumlah jurnalis yang bekerja di perusahaannya. Mereka cukup berlangganan dengan kantor berita yang menyuplai berbagai informasi mengenai peristiwa dari berbagai penjuru dunia setiap harinya. Kantor berita yang berdiri waktu itu dan masih ada sampai hari ini adalah Reuters (Inggris), Agence France Presse (Prancis), dan Assosiated Press (Amerika Serikat).
Disamping itu, pendidikan jurnalistik secara sistematis juga mulai diselenggarakan hingga diajarkan di perguruan-perguruan tinggi di beberapa negara dan sangat diminati masyarakat.
Gaung perkembangan media pun sampai ke Indonesia. Adalah Tirtohadisoerjo- akrab disapa Raden Djokomono- mendirikan mingguan Medan Priyqyi tahun 1910. Tokoh pers nasional generasi pertama inilah yang mendirikan perusahan penerbitan yang dimiliki dan dikelola sepenuhnya oleh orang Indonesia.
Setelah Medan Priyayi dikenal publik, lahirlah Soeara Asia di Surabaya, Tjahaja di Bandung, dan Sinar Baroe di Semarang. Perkembangan media cetak diikuti oleh perkembangan radio dengan berdirinya Solosche Radio Vereniging (SRV) pada 1 April 1993, di Solo. Pendiri ini adalah Mangunkusomo dan Mangkunegoro VII. Kemudian berdirilah radio swasta seperti Radio Mauro (Yogyakarta), VORL (Bandung) dan CIRCO (Surabaya).
Menjelang dan sesaat setelah proklamasi kemerdekaan, media massa, baik cetak dan radio, semakin bertambah banyak di Indonesia. Setidakny saat itu lahir media baru seperti Soeara Merdeka, Berita Indonesia, dan The Voice of Free Indonesia. Bakhan pada 24 desember 1948, Radio Rimba Raya Aceh Tengah mengudara menyampaikan informasi telah dideklarasikannya Kemerdekaan Indonesia. Radio Rimba raya inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Radio Republik Indonesia (RRI).
Secara gamblang orang menyamakan jurnalistik dengan pers, dan terkadang lebih mudah dengan menyamakan jurnalistik sebagai surat kabar atau majalah. Hal ini disebabkan karena media massa yang paling tua dan yang paling pertama ditemui manusia adalah “media tercetak”. Karena itu lazim sekali orang mencampuradukkan pengertian jurnalistik dengan pers.
Dari segi asal kata, jurnalistik dapat ditelusur jauh, sampai kepada asal mula surat kabar yang disebut “acta diurna”, yang terbit di zaman Romawi: dimana berita-berita  dan pengumuman ditempalkan atau dipasang dipusat kota yang kala itu disebut Forum Romanum. Namun asal kata juraistik adalah “Journal” atau “Du jour” yang berarti hari, dimana segala berita atau warta sehari itu termuat dalam lembaran yang tercetak.




















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Media massa di Indonesia lahir pada massa penjajahan Belanda yaitu dengan terbitnya surat kabar Bataviase Nouvelles (1744). Koran ini tentu saja dijalankan oleh manajemen dan jurnalis Belanda. Kemudian lahirlah pers “Pribumi”, media cetak yang berkomunikasi dengan bahasa melayu atau bahasa daerah dan dipimpin oleh seorang pribumi. Masuk dalam kategori ini adalah warta berita (1901) yang selain berbahasa melayu juga dicetak dalam bahasa latin.
Pada Zaman Romawi kuno muatan informasu disebut sebagai acta diurna yakni berupa berita harian yang ditempel di papan pengumuman. Berisi tentang pesan-pesan kekaisaran yang berupa keputusan, aturan hukum, dan lainnya dengan tujuan agar informasi tersosialisasi dengan baik sehingga publik mengetahui info terkini dari istana. Para penulis acta diurna disebut sebagi diurnarii. Namun beriring waktu berlalu, banyak para diurnarii menulis informasi yang beragam tak hanya tentang informasi tentang istana saja. Adapun istilah jurnalis sendiri diadopsi dari bahasa inggris yaitu journalist (wartawan).




DAFTAR PUSTAKA
Suryawati, Indah. 2002. JURNALISTIK. Bogor: Ghalia Indonesia
Sumadiria, As Haris. 2005. Jurnalistik Indonesia. Bandung : Simbiosa Rekatama Media
Sambo, Masriadi & Jafaruddin Yusuf. 2017., Pengantar Jurnalisme Multiplatform. Depok: Prenadamedia Group.
H. Assegaff, Dja’far, jurnalistik masa kini, Ghalia Indonesia.



[1] Indah Suryawati. 2002. JURNALISTIK. Bogor: Ghalia Indonesia. Hlm. 2
[2] Ibid. Hlm. 3
[3] Ibid. Hlm. 3
[4] Ibid. Hlm. 4
[5] As Haris Sumadiria. 2005. Jurnalistik Indonesia. Bandung : Simbiosa Rekatama Media. Hlm.19-20
[6] Ibid. Hlm. 25
[7] Ibid. Hlm. 25
[8] Ibid. Hlm. 26
[9] Ibid. Hlm. 27
[10] Masriadi Sambo & Jafaruddin Yusuf.2017.,Pengantar Jurnalisme Multiplatform. Depok : Prenadamedia Group. Hlm.15

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Sejarah Perkembangan Jurnalistik"

Posting Komentar