Motivasi Menulis

Cafe Night di jam Pengajian (Pondok Pesantren Ulumuddin)


Pondok Pesantren Ulumuddin adalah salah satu pondok pesantren tertua diantara  pondok pesantren yang lain disekitarnya, pondok pesantren Ulumuddin yang terletak di Jl. Sekar Kemuning II No.96 Karyamulya, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon Jawa Barat ini di dirikan oleh KH Shaleh Sholehuddin yang wafat pada hari Jum’at (13/5) pagi. Sebagai sosok Ulama, almarhum meninggalkan jejak di dunia pendidikan Agama. Selain sebagai pendiri Pondok Pesantren Ulumuddin, KH Sholehuddin juga merupakan salah satu dari pendiri IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Sepeninggal almarhum pondok pesantren yang di dirikannya dipindahkan kepada keturunannya, dan sekarang dipimpin oleh anak laki-laki beliau.

Cafe Night yang diadakan pada Rabu malam kamis, tanggal 28 November 2019 ,berlokasi didepan asrama puteri ini tidak lazim diadakan dipondok pesantren Ulumuddin, biasanya kami memiliki agenda pengajian, khusus untuk malam tersebut diadakan acara Cafe Night, tentu acara Cafe night dijam pengajian ini disambut antusias oleh para santri, karena merupakan hiburan bagi para santri dan sebagai ajang untuk berkompetisi dalam menunjukan bakat. Adapun beberapa acara yang diadakan malam tersebut yaitu akustik, pentas seni, Menonton Vidio Dokumenter Ziyaroh dan yang menjadi Ikon pada acara ini yaitu menonton Film yang berjudul “Gibah dan Bahasa Cinta” yang disutradarai  dan ditulis langsung oleh salah satu santri pondok pesantren Ulumuddin yaitu Luthfi Ihsanullah, Tiya Imtiyazunnisa dan Abdul Malik Sopyan.
Dikarenakan Film Gibah dan Bahasa Cinta ini sebagai ikon dalam acara Cofe Night, maka saya akan sedikit menceritakan bagaimana asal usul dari Film tersebut.
            Film tersebut merupakan film yang diangkat dari sebuah puisi antologi yang berjudul “hari sedih” yang sebelumnya puisi tersebut pernah juga dilombakan oleh Abdul Malik Sopyan, kemudian diangkat menjadi Film, dan diperankan oleh beberapa santri Ulumuddin.
            Abdul Malik Sopyan sebagai penulis dari film tersebut sedikit menuturkan kata-kata yang relevan dengan film tersebut yaitu “Seorang Ayah adalah Guru pertama yang mengajarkan ketegaran”. Jika diantara pembaca sekalian pernah menonton film tersebut, pasti akan tau maksud dari perkataan beliau.
Selain diadakannya beberapa penampilan, setiap santri dari tiap angkatan diharuskan pula membuat stand kemudian di dekorasi sekreatif mungkin, dan berjualan barang sendiri sebanyak-banyaknya. Saya sendiri salah satu santriwati angkatan tahun 2016 ikut menyumbangkan makanan yaitu kripca (kripik kaca) untuk dijual di stand kami, selain itu ada juga kaoka, baju muslim-muslimah, minyak wangi, dan bahkan ikan cupang yang kami jajalkan untuk dijual di stand.
           
Dalam acara tersebut saya sempat bertanya kepada salah satu panitia yang bernama Tiya Imtiyazunnisa yang juga sebagai Sutradara dari Film “Gibah dan Bahasa Cinta” tersebut, mengenai tanggapan beliau tentang acara yang telah dilaksanakan. Beliau menuturkan bahwa “Alhamdulillah acara malam tersebut luar biasa, karena seluruh angkatan dapat berpartisipasi, mulai dari kelas Alif, Ba dan Wustho. Merupakan sebuah pencapaian bagi kami, karena dapat menyatukan seluruh angkatan dan dapat saling bersilaturahmi karena dari tiap angkatan saling mengunjungi stand yang lainnya, walaupun disitu bazarnya bersaing karena ada hadiah untuk stand (bazaar) terbaik, tapi tetap kami menjadi lebih berbaur dengan saling mengunjungi stand yang lainnya, kemudian acara tersebut merupakan sebuah hiburan untuk santri, dimana setiap harinya santri hanya mengaji apalagi sekarang peraturan absensi sudah mulai diterapkan dan dipertegas kembali, jadi acara tersebut merupakan sebuah refresh bagi santri. Alhamdulillah kami juga mendapat apresiasi yang baik dari pengasuh. Selain kami dapat menampilkan film, kami juga menampilkan live music, bertambah terasa kekeluargaan bagi santri malam itu.” Begitu kiranya jawaban dari salah satu panitia acara cafe night.
            Memang betul apa yang diucapkan saudari Tiya, bahwa malam tersebut santri  terhibur dan sangat antusias dengan apa yang diinstruksikan oleh panitia, buktinya semua angkatan menyiapkan stand bazar untuk berjualan dan pengasuh pun menyambut baik acara tersebut dengan mengizinkan acara tersebut dilaksanakan diwaktu jam mengaji dan melihat beberapa bazar kami.
            Usai acara tersebut, kami segera membereskan stand jualan kami dan kembali ke kamar masing-masing. Esok harinya kami kembali mengaji seperti biasa, karena kami diajarkan oleh pengasuh kami, semalam apapun acara, kami harus tetap mengaji pada pagi harinya, merupakan sebuah pelajaran yang akan selalu kami ingat dan menjadi dampak baik bagi kami, agar bisa komitmen dengan waktu.  Acara tersebut berakhir sekitar pukul 23.00 WIB.
            Diakhir tulisan penulis berharap setelah acara yang dilaksanakan malam kamis tersebut, santri terus tetap menjadi santri yang berciri khas santri, meskipun memiliki banyak kreativitas, sebagai santri harus tetap memiliki hal yang berbeda dengan lebih memperhatikan adab, dan berbagai rangkaian acara yang dilaksanakan malam ini semoga menjadi stimulus bagi para santri untuk lebih semangat mengaji, beribadah dan belajar yang lainnya.
            Mohon maaf apabila terdapat banyak kekeliruan, semoga bermanfaat….

Eva Nurul Fadhilah (1608101009)
Instagram: -
Facebook:-


Postingan terkait:

1 Tanggapan untuk "Cafe Night di jam Pengajian (Pondok Pesantren Ulumuddin)"